Jollibee Pilih Hong Kong untuk IPO Bisnis Global

(Business Lounge Journal – Global News)

Jollibee Foods Corporation mengambil langkah baru dalam ambisinya menjadi pemain restoran global. Raksasa makanan cepat saji asal Filipina itu kini mengarahkan rencana pencatatan bisnis internasionalnya ke Bursa Hong Kong, menggantikan rencana sebelumnya untuk melantai di Amerika Serikat.

Keputusan tersebut menjadi bagian dari strategi Jollibee untuk memisahkan bisnis domestik dan internasional menjadi dua perusahaan dengan fokus pertumbuhan yang berbeda. Unit internasional yang diberi nama Jollibee Foods Corporation International (JFCI) akan dipersiapkan sebagai entitas mandiri sebelum melakukan pencatatan saham.

Jollibee mengatakan Hong Kong dinilai lebih sesuai dengan karakter bisnis internasionalnya karena perusahaan sudah memiliki kehadiran kuat di Asia. Selain itu, bursa tersebut menawarkan akses kepada investor regional sekaligus investor global yang dapat mendukung ekspansi JFCI dalam jangka panjang.

Langkah ini cukup menarik mengingat pada Januari lalu Jollibee masih menyatakan rencana untuk mencatatkan perusahaan internasionalnya di bursa Amerika Serikat. Pemisahan tersebut sejak awal dirancang agar bisnis Filipina tetap tercatat di Philippine Stock Exchange, sementara pemegang saham mendapatkan eksposur terhadap perusahaan internasional yang pertumbuhannya lebih agresif.

Pilihan Hong Kong juga datang ketika pasar IPO kota tersebut sedang mengalami kebangkitan. Sepanjang paruh pertama 2026, nilai pencatatan saham baru di Hong Kong mencapai sekitar US$22,45 miliar, meningkat hampir 57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menjadikan Hong Kong salah satu pusat penghimpunan modal yang semakin menarik bagi perusahaan Asia.

Bagi Jollibee, kebutuhan untuk memperoleh dukungan investor menjadi semakin penting di tengah tantangan ekspansi internasional. Perusahaan telah tumbuh jauh melampaui bisnis ayam goreng dan makanan cepat saji yang menjadi ciri khasnya di Filipina. Portofolionya kini mencakup sekitar 20 merek dengan lebih dari 10.700 restoran dan kafe di 33 negara.

Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa tekanan terhadap kinerja keuangan. Biaya bahan baku dan operasional yang meningkat, gangguan rantai pasok, serta kondisi geopolitik turut membebani bisnis. Pada kuartal pertama 2026, laba bersih Jollibee dilaporkan turun 39% menjadi sekitar 1,5 miliar peso meskipun pendapatan masih tumbuh 9% menjadi 77 miliar peso.

Dampak konflik Iran juga menjadi tantangan tambahan bagi perusahaan pada paruh pertama tahun ini. Kenaikan biaya dan ketidakpastian ekonomi global membuat perusahaan perlu lebih berhati-hati dalam menjaga momentum ekspansi tanpa mengorbankan profitabilitas.

Meski demikian, Jollibee tidak menunjukkan tanda-tanda mengurangi ambisi globalnya. Sebaliknya, perusahaan terus melakukan ekspansi internasional untuk memperluas basis konsumen. Hong Kong sendiri merupakan salah satu pasar penting bagi Jollibee. Perusahaan telah beroperasi di sana sejak 1996 dan kini memiliki 28 gerai di Hong Kong dan Makau, termasuk gerai baru di Terminal 2 Bandara Internasional Hong Kong.

Untuk memimpin kendaraan bisnis internasional tersebut, Jollibee menunjuk Richard Chong Woo Shin, yang sebelumnya menjabat sebagai chief financial and risk officer grup, sebagai CEO JFCI.

Dengan memilih Hong Kong, Jollibee bukan sekadar mencari tempat untuk menjual saham. Perusahaan tampaknya ingin menempatkan bisnis globalnya di pusat keuangan yang lebih dekat dengan pasar utama di Asia, sekaligus memperoleh modal dan perhatian investor untuk tahap ekspansi berikutnya.

Jika berhasil, pencatatan JFCI dapat menjadi titik penting bagi transformasi Jollibee dari ikon restoran Filipina menjadi perusahaan makanan dan minuman dengan jejak global yang semakin kuat.