(Business Lounge Journal – Special Talk)
Business Lounge Journal berkesempatan mewawancarai seniman mural asal Ukraina, Vitalii Dilkone, dalam acara pembukaan mural internasional “Interconnected Existence (Eksistensi yang Saling Terhubung)” yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Proyek ini mempertemukan tiga seniman dari Ukraina, Austria, dan Indonesia untuk menghasilkan sebuah karya yang mengangkat tema keberagaman, identitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Bagi Vitalii, Interconnected Existence bukan sekadar kolaborasi tiga negara. Yang paling penting adalah bagaimana setiap seniman dapat mempertahankan identitas artistiknya tanpa kehilangan harmoni sebagai satu kesatuan karya.
“The main inspiration was how not to lose personal identity and personal style, while finding a way to connect everything together.”
Ia menjelaskan bahwa dirinya mengusung gaya figuratif, seniman Austria mengeksplorasi seni abstrak, sedangkan seniman Indonesia menghadirkan lettering Arab sebagai medium utama. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan mural, bukan sesuatu yang harus diseragamkan.
Inspirasi terbesar yang ia temukan justru berasal dari Indonesia. Menurutnya, filosofi Bhinneka Tunggal Ika menjadi cerminan sempurna dari proses kreatif yang mereka jalani selama mengerjakan mural.
“We need to learn from Indonesia how to be different, but standing together.”
Vitalii juga menilai proyek ini memiliki makna lebih luas bagi Ukraina. Melalui seni, ia ingin memperkenalkan budaya, lagu, dan karya para seniman Ukraina kepada masyarakat internasional, sehingga dunia dapat mengenal negaranya dari perspektif yang lebih beragam.
“We want to bring something different—our culture, our songs, our artists.”
Dunia Menghadapi Tantangan Bersama
Menurut Vitalii, pesan yang ingin disampaikan melalui Interconnected Existence tidak berhenti pada keberagaman budaya. Ia menilai dunia saat ini menghadapi persoalan-persoalan besar yang tidak mungkin diselesaikan oleh satu negara saja.
“If we find a solution only in one part of the planet, it doesn’t mean we will save everything.”
Karena itu, ia percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci.
“We are different, but we live on one land and should share these solutions everywhere.”
Pandangan tersebut juga diwujudkannya melalui elemen-elemen visual dalam mural. Salah satunya adalah bebatuan yang terinspirasi dari lanskap Ukraina. Garis-garis pada batu tersebut menggambarkan kondisi wilayah yang terdampak perang sekaligus mengingatkan pada hubungan erat antara manusia dan alam.
Vitalii menjelaskan bahwa Ukraina merupakan salah satu negara agrikultur terbesar di dunia. Karena itu, ketika produksi dan distribusi hasil pertanian terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Ukraina, tetapi juga masyarakat global.
“If we lose the possibility to share our agricultural products, the price of bread around the world will continue to rise.”
Baginya, hal tersebut menjadi bukti bahwa persoalan di satu negara dapat memengaruhi kehidupan di berbagai belahan dunia.
Selain tantangan artistik dalam menyatukan tiga gaya visual yang berbeda, Vitalii juga mengaku harus beradaptasi dengan cuaca Jakarta yang jauh berbeda dengan negaranya. Sambil tersenyum, ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar selama proses pengerjaan mural justru datang dari suhu udara.
“Of course there were challenges… and also, it’s panas. It’s very hot. I’m from the Ukrainian climate, and for me it’s not very common.”
Meski demikian, ia mengatakan seluruh proses tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan berkat dukungan dari panitia, Jakarta Arts Council, serta para asisten yang membantu proses pengerjaan mural.
“Of course there were challenges, but it was really a pleasure to paint here.”
Di akhir wawancara dengan Business Lounge Journal, Vitalii berharap proyek seperti Interconnected Existence dapat menjadi contoh bagaimana berbagai institusi dan seniman dari negara yang berbeda mampu bekerja sama menghasilkan karya yang bermakna sekaligus memperkuat hubungan antarbangsa.
“This is a really nice example of how to build an international project and bring different people together to create something meaningful.”


