(Business Lounge Journal – Medicine)
Bagi banyak orang, pagi terasa belum lengkap tanpa secangkir minuman berkafein. Sebagian memilih kopi karena mampu mengusir kantuk dalam hitungan menit, sementara yang lain mulai beralih ke matcha yang dianggap memberikan energi lebih stabil. Keduanya sama-sama kaya akan antioksidan dan dapat meningkatkan konsentrasi, tetapi cara kerja keduanya di dalam tubuh ternyata sangat berbeda.
Perbedaan tersebut tidak hanya memengaruhi tingkat energi sepanjang hari, tetapi juga dapat berdampak pada kualitas tidur di malam hari. Lantas, mana yang lebih baik: matcha atau kopi?
Matcha: Energi Stabil dengan Efek Menenangkan
Matcha merupakan bubuk teh hijau yang dibuat dari daun teh utuh yang digiling halus. Berbeda dengan teh hijau biasa yang hanya diseduh, saat minum matcha seseorang mengonsumsi seluruh bagian daun, sehingga kandungan nutrisi dan antioksidannya lebih tinggi.
Salah satu keunggulan utama matcha adalah kombinasi unik antara kafein dan L-theanine, yaitu asam amino alami yang hampir tidak ditemukan dalam kopi.
L-theanine bekerja meningkatkan aktivitas gelombang alfa di otak, kondisi yang berkaitan dengan rasa tenang, fokus, dan relaksasi. Karena itu, meski mengandung kafein, matcha tidak menimbulkan lonjakan energi yang terlalu tajam.
Efeknya adalah rasa segar yang muncul secara bertahap dan bertahan lebih lama, biasanya selama empat hingga enam jam. Banyak orang menggambarkan efek ini sebagai “calm alertness” atau tetap waspada tanpa merasa gelisah.
Selain itu, matcha juga kaya akan epigallocatechin gallate (EGCG), salah satu antioksidan paling kuat dalam kelompok katekin. Berbagai penelitian menunjukkan EGCG berpotensi membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, mendukung metabolisme, serta berkontribusi terhadap kesehatan jantung.
Namun, matcha bukan tanpa kekurangan. Cara penyajiannya relatif lebih rumit karena idealnya dikocok menggunakan pengocok bambu (chasen) hingga berbusa agar tidak menggumpal. Rasanya yang khas, sedikit pahit dan beraroma rumput (earthy), juga tidak selalu cocok di lidah semua orang.
Kopi: Energi Instan yang Mendunia
Kopi tetap menjadi minuman berkafein paling populer di dunia. Kandungan kafeinnya yang lebih tinggi membuat efeknya terasa jauh lebih cepat dibandingkan dengan matcha.
Dalam satu cangkir kopi seduh, kandungan kafein umumnya berkisar antara 90 hingga 140 miligram, sedangkan secangkir matcha rata-rata mengandung sekitar 30 hingga 70 miligram.
Kafein pada kopi bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa kimia di otak yang bertanggung jawab menimbulkan rasa kantuk. Akibatnya, seseorang menjadi lebih waspada, fokus, dan berenergi dalam waktu singkat.
Selain itu, kopi juga merupakan sumber antioksidan yang baik, terutama asam klorogenat (chlorogenic acid), yang telah dikaitkan dengan penurunan risiko sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2 dan beberapa penyakit kardiovaskular.
Dari sisi kepraktisan, kopi juga unggul. Pilihan jenis dan metode penyeduhannya sangat beragam, mulai dari kopi tubruk, espresso, hingga berbagai minuman berbasis susu yang mudah ditemukan di mana saja.
Dampaknya terhadap Tidur
Perbedaan terbesar antara kopi dan matcha terlihat pada pengaruhnya terhadap kualitas tidur.
Karena kandungan kafeinnya lebih tinggi, kopi dapat bertahan cukup lama di dalam tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi bahkan sekitar enam jam sebelum waktu tidur masih dapat mengurangi durasi tidur nyenyak (deep sleep) pada sebagian orang.
Akibatnya, seseorang mungkin tetap bisa tertidur, tetapi kualitas tidurnya menurun sehingga terbangun dalam keadaan kurang segar keesokan harinya.
Sebaliknya, matcha cenderung memiliki dampak yang lebih ringan terhadap tidur. Kandungan L-theanine membantu mengurangi ketegangan mental dan membuat pikiran lebih rileks. Meski tetap mengandung kafein, efek relaksasi dari L-theanine dapat menyeimbangkan stimulasi tersebut sehingga risiko gangguan tidur menjadi lebih kecil, terutama bila dikonsumsi pada pagi atau siang hari.
Ada Efek Samping yang Perlu Diperhatikan
Kopi juga lebih berpotensi menimbulkan efek samping pada sebagian orang. Lonjakan energi yang cepat sering kali diikuti oleh penurunan energi atau energy crash beberapa jam kemudian. Pada individu yang sensitif terhadap kafein, kopi dapat memicu jantung berdebar, tangan gemetar, hingga rasa cemas.
Selain itu, tingkat keasaman kopi yang lebih tinggi dapat mengiritasi lambung, terutama bila diminum saat perut kosong atau pada orang yang memiliki penyakit asam lambung (GERD).
Matcha umumnya lebih ramah bagi lambung karena tingkat keasamannya lebih rendah. Namun, konsumsi berlebihan tetap dapat menyebabkan efek samping akibat kandungan kafein, meskipun risikonya relatif lebih kecil dibandingkan dengan kopi.
Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan dan kondisi masing-masing orang. Jika Anda membutuhkan dorongan energi yang cepat sebelum bekerja atau berolahraga, kopi bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika menginginkan energi yang lebih stabil, fokus yang tenang, serta ingin meminimalkan gangguan tidur, matcha menawarkan sejumlah keunggulan berkat kombinasi kafein dan L-theanine.
Pada akhirnya, baik matcha maupun kopi sama-sama memiliki manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Yang terpenting adalah memperhatikan waktu konsumsi, membatasi tambahan gula berlebih, serta menyesuaikannya dengan toleransi tubuh terhadap kafein. Dengan cara itu, Anda dapat menikmati manfaat keduanya tanpa mengorbankan kualitas tidur maupun kesehatan secara keseluruhan.

