(Businesslounge Journal-News & Insight) Setelah ledakan popularitas minuman Shirley Temple, strategi pemasaran yang mengandalkan nostalgia kini menemukan primadona rasa baru: “lemonade”.
Setelah awal tahun yang diwarnai tren minuman Shirley Temple—dengan hampir semua merek soda sehat populer meluncurkan versinya masing-masing dari minuman klasik berbahan grenadine dan ceri tersebut—musim panas 2026 diperkirakan akan dipenuhi berbagai produk bercita rasa jeruk. Rak-rak toko, lemari pendingin rumah, menu layanan drive-through, hingga kotak pendingin di pantai kini mulai dipenuhi produk lemonade.
Hari ini, Poppi, merek soda bernilai sekitar US$1,95 miliar yang didirikan bersama oleh Allison Ellsworth, memperkenalkan lemonade kalengan pertamanya. Peluncuran tersebut menambah panjang daftar perusahaan produk konsumen dan jaringan makanan cepat saji yang ikut meramaikan tren minuman lemon.
Wakil Presiden Senior Pemasaran Poppi, Kristina MacIntosh, menilai bahwa rasa jeruk sedang berada di puncak popularitas. Menurutnya, cita rasa tersebut memiliki daya tarik yang abadi karena telah lama dikenal dan disukai konsumen. Respons positif terhadap tren Shirley Temple juga menunjukkan tingginya minat pasar terhadap kategori rasa serupa.
Awal bulan ini, Bero, merek bir nonalkohol yang didirikan bersama oleh Tom Holland dan veteran industri barang konsumsi John Herman, meluncurkan lini shandy pertamanya. Minuman tersebut memadukan 30 persen bir nonalkohol dan 70 persen lemonade.
Minat konsumen terhadap rasa lemon yang segar terbukti cukup tinggi. Pada hari pertama penjualan shandy, perusahaan yang berbasis di New York City itu mencatat salah satu hari terbaiknya untuk penjualan langsung ke konsumen. Antusiasme tersebut berlanjut dalam beberapa hari berikutnya. Bero sendiri hampir mencapai pendapatan US$10 juta pada 2025, tahun pertamanya berada di pasaran.
Nostalgia Jadi Penggerak Utama
Seperti banyak tren lain di industri barang konsumsi saat ini, popularitas lemonade didorong oleh unsur nostalgia. Lemonade mengingatkan banyak orang pada masa liburan sekolah, musim panas, dan kios-kios penjual limun di lingkungan perumahan.
Meski menggunakan resep klasik, berbagai perusahaan berupaya menghadirkan sentuhan baru yang lebih modern. Pekan lalu, [Starbucks] menambahkan sejumlah varian lemonade ke dalam menunya, termasuk kombinasi mangga dan buah naga, mangga dan stroberi, hingga blended matcha lemonade.
Sementara itu, [McDonald’s] menghadirkan lemonade dengan campuran blackberry, markisa, dan boba sebagai bagian dari strategi pengembangan minuman penyegar dan dirty soda. Pada periode yang sama, [Wendy’s] juga memperluas pilihan lemonade dengan rasa semangka, stroberi, serta nanas-mangga.
Merek Suplemen Ikut Meramaikan
Demam lemonade bahkan merambah industri suplemen. Pada Mei lalu, Nutrabolt yang berbasis di Austin meluncurkan varian pink lemonade untuk minuman energi tanpa gula mereka.
Perusahaan yang telah beberapa kali masuk daftar Inc. 5000 tersebut menyatakan bahwa edisi terbatas itu dirancang untuk menghadirkan cita rasa khas musim panas. Tahun lalu, Nutrabolt juga mengungkapkan bahwa pendapatan tahunannya berpotensi melampaui US$1 miliar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setelah tren Shirley Temple mereda, lemonade kini menjadi rasa yang paling banyak diburu oleh merek-merek makanan dan minuman. Dengan kombinasi kesegaran jeruk dan sentuhan nostalgia, lemonade tampaknya siap menjadi ikon rasa musim panas tahun ini.

