Sukses Membenahi Arby’s, Bob Berlin Kini Bertaruh US$1,5 Miliar untuk Menghidupkan Kembali Pizza Hut

(Businesslounge Journal-Global News) Melalui transaksi besar senilai US$2,7 miliar, LongRange Capital mengambil alih bisnis Pizza Hut di luar China dan bersiap mengawal babak baru pertumbuhan jaringan pizza legendaris tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hampir 50 tahun, jaringan restoran pizza terkenal, Pizza Hut, akan memiliki pemilik baru.

Pekan ini, Yum! Brands mengumumkan kesepakatan penjualan bisnis Pizza Hut melalui dua transaksi dengan nilai total mencapai US$2,7 miliar. Dalam kesepakatan tersebut, perusahaan ekuitas swasta LongRange Capital akan mengakuisisi seluruh bisnis Pizza Hut di luar China dengan nilai sekitar US$1,5 miliar.

Perusahaan yang berbasis di negara bagian Connecticut itu didirikan pada 2019 oleh Bob Berlin, sosok yang dikenal memiliki rekam jejak dalam membangkitkan merek makanan cepat saji yang mengalami tekanan bisnis. Sebelumnya, Berlin berhasil memimpin transformasi dan kebangkitan bisnis Arby’s.

Dalam pernyataannya, Berlin menyampaikan optimisme untuk bekerja sama dengan jajaran manajemen dan para pemegang waralaba Pizza Hut guna mendorong fase pertumbuhan berikutnya.

Sementara itu, Yum China Holdings, perusahaan yang berdiri sendiri setelah berpisah dari Yum! Brands pada 2016, akan mengambil alih operasional Pizza Hut di China dengan nilai sekitar US$1,2 miliar.

Alasan di Balik Penjualan Pizza Hut

Mitra senior praktik merger dan akuisisi di West Monroe, Brad Haller, menilai langkah tersebut merupakan keputusan strategis yang disengaja, bukan upaya keluar dari kondisi bisnis yang tertekan.

Menurutnya, alih-alih terus berupaya mengejar pesaing seperti Domino’s Pizza, manajemen dapat lebih fokus mengembangkan jaringan waralaba dan memperkuat fondasi bisnis.

Pada 2025, penjualan Pizza Hut tercatat turun 2 persen. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada November, Yum! Brands mulai mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk merek tersebut. Memasuki Februari, perusahaan induk bahkan mengumumkan rencana penutupan sekitar 250 gerai dari hampir 19.974 lokasi Pizza Hut yang beroperasi di Amerika Serikat.

Tantangan di Era Layanan Antar

Perubahan perilaku konsumen turut menjadi tantangan besar bagi Pizza Hut. Jaringan restoran yang selama puluhan tahun mengandalkan konsep makan di tempat kini menghadapi kenyataan bahwa semakin banyak pelanggan memilih layanan pesan antar.

Bahkan ketika permintaan pizza meningkat selama pandemi Covid-19 pada 2020, Pizza Hut tetap menutup sekitar 300 gerai di Amerika Serikat.

Situasi tersebut semakin kompleks dengan pertumbuhan platform pengiriman makanan seperti [DoorDash]dan [Uber Eats]. Kehadiran berbagai aplikasi itu membuat konsumen memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap beragam pilihan kuliner, tidak hanya pizza.

Haller menilai pelanggan yang menjadi target utama Pizza Hut kini cenderung memilih restoran lokal atau langsung memesan dari merek yang identik dengan layanan cepat dan praktis seperti Domino’s.

Domino’s Tunjukkan Kinerja Berbeda

Meski demikian, Haller menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi Pizza Hut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi industri pizza secara keseluruhan. Ia menunjuk kinerja Domino’s yang justru membukukan pertumbuhan penjualan gerai sejenis sebesar 3 persen pada tahun lalu.

Menurutnya, keberhasilan Domino’s berasal dari kemampuannya membangun loyalitas pelanggan dan mempertahankan identitas sebagai penyedia pizza yang cepat, mudah, dan praktis.

Dengan melepas bisnis Pizza Hut, Yum! Brands kini dapat memusatkan sumber dayanya pada dua merek andalan lainnya, yakni Taco Bell dan KFC, yang saat ini menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan.