Marah 5 Menit Bisa Melemahkan Imun Hingga 5 Jam, Ini Penjelasan Ilmiahnya

(Business Lounge Journal – Medicine)

Pernahkah Anda merasa tubuh menjadi lemas, kepala terasa berat, atau tenggorokan tidak nyaman setelah mengalami pertengkaran atau kemarahan yang hebat? Banyak orang menganggap marah hanyalah reaksi emosional yang berlangsung sesaat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampaknya bisa jauh lebih lama dibandingkan dengan durasi kemarahan itu sendiri.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, terdapat bidang yang disebut psikoneuroimunologi, yaitu cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara pikiran, sistem saraf, hormon, dan sistem kekebalan tubuh. Salah satu temuan menarik dari bidang ini adalah bagaimana emosi negatif, terutama kemarahan, dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melawan penyakit.

Salah satu penelitian yang sering dikutip dilakukan oleh Dr. Glen Rein dan tim peneliti. Dalam studi tersebut, para peserta diminta mengingat kembali pengalaman yang memicu kemarahan selama beberapa menit. Hasilnya cukup mengejutkan. Setelah mengalami kembali emosi marah yang intens, terjadi penurunan kadar Sekretori Imunoglobulin A (sIgA), yaitu antibodi penting yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus dan bakteri.

sIgA banyak ditemukan dalam air liur serta lapisan mukosa di mulut, hidung, dan saluran pernapasan. Antibodi ini bekerja layaknya petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk tubuh. Ketika kadarnya menurun, kemampuan tubuh untuk menghadang berbagai mikroorganisme penyebab penyakit ikut melemah.

Yang menarik, efek penurunan sIgA tersebut tidak hanya berlangsung selama seseorang sedang marah. Penelitian menemukan bahwa dampaknya dapat bertahan hingga empat sampai lima jam setelah emosi mereda. Artinya, walaupun seseorang sudah merasa tenang, sistem pertahanan tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk kembali ke kondisi optimal.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ketika seseorang marah, otak mengaktifkan respons stres yang dikenal sebagai fight-or-flight response atau respons “lawan atau lari”. Mekanisme ini merupakan warisan evolusi yang membantu manusia menghadapi ancaman. Dalam kondisi tersebut, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Hormon-hormon ini meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan kewaspadaan. Namun, untuk menghemat energi, tubuh juga mengurangi aktivitas beberapa sistem yang dianggap tidak mendesak, termasuk sebagian fungsi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, produksi antibodi dan respons imun tertentu dapat menurun sementara.

Meski demikian, bukan berarti manusia tidak boleh marah. Marah adalah emosi yang normal dan penting sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai atau kebutuhan kita. Yang perlu diperhatikan adalah cara mengelolanya.

Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana untuk mencegah dampak negatif kemarahan terhadap kesehatan. Misalnya, dengan mengambil jeda sebelum bereaksi, menarik napas dalam secara perlahan, berjalan sejenak, atau mengungkapkan perasaan secara asertif tanpa meledak-ledak. Teknik-teknik ini membantu menenangkan sistem saraf sehingga produksi hormon stres tidak berlebihan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak hanya soal pola makan, olahraga, dan tidur yang cukup. Cara kita mengelola emosi juga memiliki peran besar terhadap daya tahan tubuh. Jika kemarahan yang berlangsung beberapa menit saja dapat memengaruhi sistem imun selama berjam-jam, maka belajar mengendalikan emosi bisa menjadi salah satu investasi kesehatan paling sederhana yang dapat kita lakukan setiap hari.