Selama ini, es krim kerap dianggap sebagai “pantangan” dalam pola makan sehat. Kandungan gula dan lemaknya membuat banyak orang langsung mengaitkannya dengan kenaikan berat badan hingga risiko penyakit metabolik. Namun, belakangan muncul kembali perbincangan menarik: benarkah es krim justru bisa memberi manfaat kesehatan jika dikonsumsi dengan bijak?
Diskusi ini mencuat setelah beredarnya klaim bahwa es krim memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan beberapa sumber karbohidrat, bahkan disebut-sebut berkaitan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2. Klaim tersebut terdengar mengejutkan, sehingga penting untuk melihatnya dari sudut pandang ilmiah yang lebih utuh.
Apa Kata Penelitian?
Salah satu dasar dari klaim ini berasal dari penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health. Studi yang dipimpin oleh Andres Ardisson Korat pada 2018 menemukan adanya korelasi antara konsumsi produk susu—termasuk es krim—dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.
Dalam analisis tersebut, individu yang mengonsumsi es krim dalam jumlah kecil, sekitar setengah porsi per hari, menunjukkan risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang sama sekali tidak mengonsumsinya. Namun, penting untuk ditekankan bahwa penelitian ini bersifat observasional, sehingga tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Dengan kata lain, belum tentu es krimlah yang “melindungi” tubuh. Bisa jadi faktor lain seperti pola makan keseluruhan, gaya hidup aktif, atau kualitas nutrisi lain ikut berperan.
Kandungan Nutrisi Es Krim
Di balik rasanya yang manis, es krim berbasis susu memang memiliki beberapa kandungan nutrisi yang bermanfaat. Di antaranya adalah kalsium dan fosfor untuk kesehatan tulang, serta vitamin A, B12, dan riboflavin yang mendukung fungsi metabolisme tubuh.
Selain itu, kombinasi lemak dan protein dalam es krim membuatnya berbeda dari camilan manis biasa. Kandungan ini memperlambat penyerapan gula dalam darah, sehingga lonjakan glukosa tidak secepat makanan tinggi gula sederhana.
Efek lainnya adalah rasa kenyang yang lebih tahan lama. Lemak susu membantu tubuh merasa puas lebih lama dibandingkan camilan rendah lemak yang sering kali justru tinggi gula tambahan.
Dampak pada Kesehatan Mental
Tak hanya dari sisi fisik, es krim juga sering dikaitkan dengan efek psikologis. Mengonsumsi makanan favorit dalam jumlah wajar dapat meningkatkan produksi dopamin—zat kimia otak yang berhubungan dengan rasa senang. Selain itu, momen menikmati es krim juga bisa membantu menurunkan stres, yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Namun, manfaat ini tetap bergantung pada konteks. Jika dikonsumsi berlebihan, efek positif tersebut bisa tertutupi oleh dampak negatif dari asupan gula dan kalori yang tinggi.
Moderasi Tetap yang Utama
Meski terdengar menjanjikan, para ahli sepakat bahwa es krim tidak bisa dikategorikan sebagai “makanan kesehatan.” Hubungan antara konsumsi es krim dan penurunan risiko diabetes masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk benar-benar dipahami.
Kunci utamanya tetap pada moderasi. Menikmati es krim sesekali sebagai bagian dari pola makan seimbang tidak menjadi masalah, terutama jika diimbangi dengan aktivitas fisik dan konsumsi makanan bergizi lainnya.
Es krim bukan sekadar makanan penutup yang “bersalah,” tetapi juga bukan solusi kesehatan. Ia berada di tengah—sebagai makanan yang bisa dinikmati tanpa rasa khawatir, selama porsinya terkontrol.
Dengan pendekatan yang seimbang, Anda tetap bisa menikmati manisnya es krim tanpa harus mengorbankan kesehatan.

