(Business Lounge – Automotive) Persaingan antara Indian Motorcycle dan Harley-Davidson selama puluhan tahun biasanya berlangsung melalui peluncuran produk baru, inovasi teknologi, serta perebutan loyalitas komunitas pengendara. Namun kali ini, rivalitas tersebut memasuki wilayah yang berbeda. Menurut laporan The Wall Street Journal, Indian Motorcycle meluncurkan kampanye pemasaran yang secara terbuka mengkritik Harley-Davidson atas berbagai isu, mulai dari kendaraan listrik, lokasi produksi di luar Amerika Serikat, hingga kebijakan terkait keberagaman, kesetaraan, dan inklusi atau DEI. Kampanye tersebut segera memicu perdebatan luas di kalangan pengendara motor besar Amerika.
Laporan The Wall Street Journal menjelaskan bahwa kampanye tersebut dikemas menyerupai iklan politik yang biasa muncul selama musim pemilu. Dalam materi promosi yang beredar di media sosial, Indian berusaha menggambarkan dirinya sebagai alternatif bagi pengendara yang merasa Harley-Davidson telah menjauh dari identitas tradisionalnya. Strategi tersebut berhasil menarik perhatian publik dan memperoleh dukungan dari sejumlah influencer konservatif, tetapi pada saat yang sama memunculkan kritik dari sebagian pelanggan dan dealer Indian sendiri.
Menurut Reuters, langkah agresif tersebut muncul pada saat Indian berada dalam posisi yang jauh lebih kecil dibandingkan rivalnya. Penjualan Indian masih tertinggal cukup jauh dari Harley-Davidson di segmen motor besar Amerika. Kondisi tersebut membuat sebagian analis melihat kampanye kontroversial itu sebagai upaya mencuri perhatian pasar dan merebut sebagian pelanggan Harley yang selama ini dikenal sangat loyal terhadap mereknya.
Laporan New York Post menunjukkan bahwa salah satu bagian paling kontroversial dari kampanye tersebut adalah kritik terhadap CEO Harley-Davidson, Artie Starrs, yang sebelumnya pernah memimpin Pizza Hut. Beberapa dealer Harley menilai pendekatan itu telah melampaui batas persaingan bisnis yang sehat dan berubah menjadi serangan personal. Organisasi dealer Harley bahkan secara terbuka membela manajemen perusahaan dan mengecam strategi pemasaran berbasis serangan terhadap individu.
Menurut RideApart, kontroversi semakin membesar karena kampanye tersebut muncul bersamaan dengan gelombang kritik di media sosial yang menuduh Harley-Davidson terlalu dekat dengan agenda keberagaman perusahaan atau DEI. Sejumlah influencer konservatif mendorong pengikut mereka untuk meninggalkan Harley dan beralih ke Indian. Kesamaan pesan yang muncul di berbagai akun memunculkan spekulasi mengenai adanya strategi komunikasi yang lebih terkoordinasi, meskipun Indian membantah terlibat dalam pengaturan kampanye influencer tersebut.
Ironisnya, menurut berbagai laporan yang dirangkum The Guardian dan MarketWatch, Harley-Davidson sebenarnya telah mengurangi sejumlah program DEI sejak 2024 setelah mendapat tekanan dari kelompok konservatif. Perusahaan menghentikan sejumlah inisiatif keberagaman dan menyesuaikan pendekatan internalnya terhadap isu tersebut. Fakta ini membuat sebagian pengamat mempertanyakan relevansi kritik terbaru yang diarahkan kepada Harley karena sebagian tuntutan yang sebelumnya disuarakan kelompok konservatif telah direspons oleh perusahaan.
Laporan Bloomberg menunjukkan bahwa tantangan utama Harley-Davidson saat ini sebenarnya lebih berkaitan dengan bisnis dibandingkan politik. Perusahaan sedang berusaha meningkatkan penjualan melalui strategi harga yang lebih kompetitif dan peluncuran model yang lebih terjangkau. Penjualan ritel di Amerika Utara menunjukkan perbaikan meskipun profitabilitas masih menghadapi tekanan. Dalam konteks tersebut, manajemen Harley tampak lebih fokus pada restrukturisasi bisnis dibandingkan menanggapi serangan pemasaran dari kompetitornya.
Menurut Powersports Business, Harley-Davidson juga sedang menjalankan kampanye global baru yang bertujuan memperkuat kembali identitas merek dan komunitas pengendara. Strategi tersebut menekankan warisan lebih dari satu abad budaya bermotor Harley serta pengalaman emosional berkendara. Pendekatan itu sangat berbeda dengan strategi konfrontatif yang saat ini dipilih Indian Motorcycle dalam upayanya memperluas pangsa pasar.
Yang menarik, penolakan terhadap kampanye Indian tidak hanya datang dari penggemar Harley-Davidson. Diskusi yang berkembang di berbagai komunitas pengendara yang dikutip oleh sejumlah media otomotif menunjukkan bahwa sebagian pemilik Indian juga merasa tidak nyaman ketika merek yang mereka sukai memasuki arena perdebatan sosial dan politik. Banyak pengendara berpendapat bahwa keputusan membeli motor seharusnya didasarkan pada kualitas produk, kenyamanan, performa, serta layanan purna jual, bukan pada posisi ideologis tertentu.
Menurut The Wall Street Journal, manajemen Indian berpendapat bahwa kampanye tersebut bukanlah langkah politik, melainkan kritik terhadap arah bisnis kompetitor. Namun dalam praktiknya, batas antara strategi pemasaran dan isu politik menjadi semakin kabur. Ketika perusahaan menggunakan tema keberagaman, identitas budaya, atau nilai sosial sebagai materi promosi, respons publik sering kali melampaui pembahasan produk dan masuk ke wilayah yang jauh lebih sensitif.
Bagi industri sepeda motor Amerika, peristiwa ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam dunia pemasaran modern. Menurut The Wall Street Journal, merek-merek kini menghadapi godaan untuk memanfaatkan polarisasi sosial demi mendapatkan perhatian yang lebih besar. Strategi semacam itu memang dapat menghasilkan publisitas instan, tetapi juga berisiko mengasingkan sebagian pelanggan yang hanya ingin menikmati produk tanpa terlibat dalam perdebatan yang tidak berkaitan dengan pengalaman berkendara.
Kasus Indian dan Harley-Davidson menunjukkan bahwa pertarungan memperebutkan pelanggan tidak lagi hanya terjadi di ruang pamer atau jalur balap. Persaingan kini merambah ke ranah identitas, budaya, dan persepsi publik. Bagi Indian, kampanye tersebut mungkin berhasil menciptakan perhatian yang besar dalam jangka pendek. Namun bagi industri secara keseluruhan, peristiwa ini menjadi ujian apakah strategi pemasaran berbasis kontroversi mampu membangun loyalitas pelanggan yang berkelanjutan, atau justru memperdalam perpecahan di dalam komunitas pengendara yang selama ini dikenal karena semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap dunia roda dua.

