konflik Perang timur tengah uss abraham lincoln

Apakah Perang Baik untuk Perekonomian?

(Business Lounge – Essay on Global) Perang pada dasarnya merupakan tragedi yang merenggut nyawa dan menghancurkan mata pencaharian. Namun sejumlah ekonom berpendapat bahwa dalam kondisi tertentu perang juga dapat memberi dampak terhadap perekonomian. Pandangan ini mungkin terdengar dingin, tetapi dalam perspektif jangka panjang beberapa analis menilai bahwa belanja militer dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan memicu investasi baru.

Dalam jangka pendek, konflik biasanya memicu gangguan ekonomi seperti lonjakan harga bahan bakar, kemacetan rantai pasok, dan kelangkaan barang. Namun pada saat yang sama, peningkatan pengeluaran militer sering kali menggerakkan aktivitas industri dan manufaktur. Di banyak negara, peningkatan produksi senjata dan investasi keamanan nasional menjadi bagian dari strategi untuk menghadapi atau mencegah ancaman dari negara lain.

Perubahan arah menuju ekonomi yang lebih berorientasi pada militer mulai terlihat beberapa tahun terakhir. Setelah kegagalannya menaklukkan Ukraina dengan cepat, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengalihkan perekonomian negaranya ke arah mobilisasi militer yang lebih besar. Saat ini Rusia mengalokasikan lebih dari tujuh persen produk domestik brutonya untuk belanja militer. Menurut sejumlah analis, langkah tersebut membantu negara itu menghindari keruntuhan ekonomi total meskipun berada di bawah tekanan sanksi internasional dan biaya perang yang tinggi.

Meskipun langkah Rusia tergolong ekstrem, kecenderungan peningkatan belanja pertahanan juga terlihat di banyak negara lain. Pemerintah di Amerika Utara, Eropa, dan Jepang mulai meningkatkan investasi pada sektor pertahanan dan keamanan dalam skala yang tidak terlihat selama beberapa dekade terakhir. Akibatnya, pengeluaran pemerintah berpotensi bergeser dari sektor lain, sementara defisit fiskal dan tekanan terhadap peringkat kredit negara juga dapat meningkat.

Dampak perang terhadap masyarakat tentu sangat berat bagi wilayah yang berada langsung di medan konflik. Negara dan wilayah seperti Ukraina, Lebanon, Gaza, serta sebagian Rusia mengalami kerugian besar berupa korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan keruntuhan ekonomi lokal. Iran juga menghadapi proses pemulihan yang sulit di tengah tekanan politik dan ekonomi yang sudah berlangsung lama.

Namun bagi negara yang berada jauh dari garis depan konflik, gambaran ekonominya bisa berbeda. Di Eropa, misalnya, selama beberapa dekade setelah berakhirnya Perang Dingin banyak negara memilih mengurangi anggaran pertahanan dan lebih memprioritaskan program kesejahteraan sosial serta proyek publik. Kebijakan tersebut sempat menciptakan kehidupan sosial yang relatif nyaman, tetapi pertumbuhan ekonomi di kawasan itu kemudian melambat.

Pada dekade 1980-an dan 1990-an, ekonomi Eropa masih mampu tumbuh sekitar dua hingga tiga persen per tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan tersebut turun menjadi sekitar satu persen. Sebaliknya, ekonomi Amerika Serikat relatif lebih stabil karena negara itu tetap mempertahankan pengeluaran militer yang besar. Banyak inovasi teknologi di sektor sipil justru muncul dari penelitian yang awalnya didanai oleh anggaran pertahanan, termasuk dalam bidang kecerdasan buatan.

Kini negara-negara anggota Eropa dari North Atlantic Treaty Organization berkomitmen meningkatkan belanja pertahanan hingga sekitar lima persen dari produk domestik bruto. Kebijakan ini berpotensi memaksa pemerintah memangkas pengeluaran di sektor lain seperti kesehatan, kesejahteraan sosial, dan kebudayaan. Meski demikian, sebagian ekonom melihat potensi manfaat ekonomi dari langkah tersebut.

Industri militer dapat menyerap tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di sektor lain yang sedang melemah. Di Eropa, misalnya, industri otomotif menghadapi tekanan dari persaingan global, khususnya dari produsen kendaraan China. Peningkatan produksi militer dinilai dapat membuka lapangan pekerjaan bagi pekerja otomotif yang kehilangan pekerjaan serta memberi peluang bagi para insinyur untuk mengembangkan teknologi baru.

Selain menciptakan pekerjaan, belanja militer juga berpotensi mendorong inovasi teknologi. Profesor ekonomi Guntram Wolff dari Free University of Brussels berpendapat bahwa peningkatan pengeluaran pertahanan kemungkinan akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Investasi dalam penelitian, pelatihan, dan pengembangan teknologi dinilai dapat melahirkan generasi baru wirausahawan yang menciptakan produk inovatif untuk pasar sipil.

Menurutnya, tanda-tanda awal sudah mulai terlihat dengan munculnya perusahaan teknologi baru di berbagai pusat inovasi di Eropa, seperti di sekitar Munich, Paris, dan kawasan Nordik.

Meski demikian, para ekonom juga mengingatkan bahwa belanja militer memiliki sejumlah konsekuensi negatif. Pengalihan bahan baku ke produksi senjata dapat menyebabkan kelangkaan barang konsumsi dan meningkatkan tekanan inflasi. Selain itu, peningkatan pengeluaran pertahanan sering kali dibiayai melalui utang pemerintah, yang dapat mendorong kenaikan suku bunga bagi rumah tangga dan dunia usaha.

Ada pula risiko bahwa sektor militer menarik tenaga kerja dari sektor industri lain yang lebih produktif, sehingga memicu kenaikan upah dan meningkatkan biaya produksi. Berbeda dengan investasi pada infrastruktur seperti jalan, jembatan, atau mesin pabrik, banyak peralatan militer yang pada akhirnya hanya disimpan atau hancur dalam konflik, sehingga tidak memberikan manfaat ekonomi jangka panjang secara langsung.

Meskipun demikian, sejarah menunjukkan bahwa beberapa negara justru mengalami pertumbuhan ekonomi setelah perang besar. Amerika Serikat, misalnya, keluar dari dua perang dunia dengan kondisi ekonomi yang jauh lebih kuat. Pada awal 1940-an, ketika negara itu memasuki Perang Dunia II, tingkat pengangguran masih sangat tinggi akibat Depresi Besar. Namun mobilisasi industri perang berhasil menurunkan tingkat pengangguran secara drastis.

Pada tahun 1940, tingkat pengangguran di Amerika Serikat mencapai sekitar 14,6 persen. Empat tahun kemudian angka tersebut turun menjadi sekitar 1,2 persen. Pada akhir perang, Amerika Serikat menghasilkan hampir setengah dari total produk domestik bruto dunia.

Banyak inovasi teknologi yang awalnya dikembangkan untuk keperluan militer kemudian digunakan secara luas dalam kehidupan sipil. Contohnya meliputi perkembangan industri baja skala besar, komputer, teknologi bedah rekonstruktif, serta berbagai sistem navigasi dan komunikasi modern.

Saat ini, kontrak pertahanan juga berperan dalam pendanaan teknologi baru seperti kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan sistem drone yang berpotensi memiliki aplikasi luas di sektor sipil.

Beberapa negara bahkan berhasil mengembangkan industri pertahanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Korea Selatan, yang hidup di bawah ancaman keamanan dari Korea Utara, membangun sektor ekspor senjata yang berkembang pesat. Industri ini menjadi mesin pertumbuhan kedua selain ekspor semikonduktor. Israel juga mencatat investasi besar di sektor teknologi, sebagian didorong oleh penelitian dan pengembangan militer.

Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengusulkan anggaran pertahanan sekitar 1,5 triliun dolar AS atau sekitar enam persen dari produk domestik bruto, angka yang sebanding dengan tingkat pengeluaran militer pada masa Presiden Ronald Reagan pada puncak Perang Dingin pada tahun 1985.

Sementara itu, China memperkuat kapasitas militernya dengan membangun angkatan laut terbesar di dunia sekaligus memperluas produksi kapal komersial. Armada kapal dagang yang besar memungkinkan negara itu mendukung kebutuhan logistik militernya sekaligus mengangkut produk industri ke pasar global.

Meski demikian, sejarah juga menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari belanja militer tidak selalu dapat diprediksi. Amerika Serikat sempat mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat pada tahun 1960-an, tetapi kemudian menghadapi periode stagflasi ketika negara tersebut menjalankan perang di Vietnam sambil mempertahankan ekonomi domestik pada tingkat aktivitas yang sangat tinggi.

Uni Soviet juga pernah terlihat sangat kuat secara militer, tetapi akhirnya runtuh karena sistem ekonominya tidak mampu menanggung biaya besar dari pengeluaran militer yang tidak efisien.

Pelajaran serupa dapat ditemukan dalam sejarah yang lebih jauh. French Revolution sebagian dipicu oleh tingginya biaya yang dikeluarkan Prancis untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Amerika melawan Inggris. Raja Louis XVI memang berhasil melemahkan rivalnya di Eropa dengan membantu pemberontakan tersebut, tetapi keputusan itu pada akhirnya memperburuk krisis keuangan kerajaan dan berujung pada runtuhnya monarki Prancis. Pemenang terbesar dari konflik tersebut justru adalah Amerika Serikat.