(Business Lounge Journal – News & Insight)
Industri penerbangan global masih menghadapi tekanan biaya operasional, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghambat pertumbuhan bisnis Air France-KLM. Grup maskapai asal Prancis dan Belanda ini berhasil membukukan laba operasional kuartal ketiga 2026 di atas ekspektasi analis, didukung oleh permintaan perjalanan ke Asia yang kuat serta meningkatnya minat terhadap layanan penerbangan premium. Di balik pencapaian tersebut, perusahaan juga harus menyiapkan langkah efisiensi yang lebih besar untuk menjaga profitabilitas dalam jangka panjang.
Laba Operasional Melampaui Ekspektasi Analis
Pada Kamis, 5 November 2026, Air France-KLM melaporkan laba operasional sebesar €1,34 miliar untuk kuartal ketiga 2026. Angka ini melampaui proyeksi analis sebesar €1,1 miliar dan menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan grup juga tumbuh 7,6% menjadi €9,9 miliar. Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan masih mampu meningkatkan pendapatan meskipun menghadapi kenaikan sejumlah komponen biaya operasional.
Salah satu pendorong pertumbuhan berasal dari meningkatnya permintaan penerbangan langsung menuju kawasan Asia, khususnya India dan sejumlah destinasi di Asia lainnya. Perubahan pola perjalanan turut memberikan keuntungan bagi maskapai yang memiliki jaringan penerbangan langsung. Di tengah ketidakpastian situasi Timur Tengah, sebagian penumpang memilih menghindari penerbangan transit melalui sejumlah hub di kawasan Teluk. Kondisi ini membuka peluang bagi Air France-KLM untuk memperkuat layanan penerbangan langsung dan menarik penumpang dari pasar yang sebelumnya mengandalkan rute transit.
Selain itu, strategi pengembangan layanan premium ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Penawaran kabin dengan layanan lebih eksklusif menjadi salah satu cara maskapai meningkatkan pendapatan per penumpang, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pertumbuhan jumlah penumpang. Dalam industri penerbangan yang memiliki persaingan harga cukup ketat, segmen premium menawarkan peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Strategi ini juga menjadi bagian dari upaya maskapai jaringan besar untuk memperkuat posisi di pasar perjalanan bisnis dan internasional.
Kenaikan Harga Bahan Bakar Menjadi Tantangan Berikutnya
Meskipun mencatatkan kinerja yang positif, Air France-KLM masih harus menghadapi peningkatan biaya bahan bakar. Perusahaan menaikkan proyeksi pengeluaran bahan bakar sepanjang 2026 menjadi US$9,2 miliar, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar US$8,9 miliar. Angka tersebut juga sekitar US$2,3 miliar lebih tinggi dibandingkan total biaya bahan bakar pada 2025. Kenaikan ini memperlihatkan besarnya pengaruh kondisi geopolitik terhadap struktur biaya perusahaan penerbangan.
Menurut laporan perusahaan, kenaikan harga bahan bakar memberikan tambahan beban sekitar €436 juta setelah memperhitungkan strategi lindung nilai atau hedging pada kuartal ketiga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hedging merupakan strategi yang digunakan perusahaan untuk mengurangi risiko perubahan harga komoditas melalui pengaturan pembelian atau kontrak pada harga tertentu. Bagi maskapai penerbangan, strategi ini penting karena bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional. Namun, hedging tidak sepenuhnya menghilangkan dampak kenaikan harga, terutama ketika tekanan pasar berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Air France-KLM juga mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dalam mengembangkan kapasitas penerbangannya. Perusahaan kini memperkirakan pertumbuhan kapasitas sepanjang 2026 sekitar 2%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada pada kisaran 2% hingga 3%. Keputusan ini menunjukkan bahwa ekspansi tidak lagi menjadi satu-satunya prioritas perusahaan. Manajemen tampaknya lebih menekankan keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan, pengendalian biaya, dan tingkat keuntungan dari setiap rute yang dioperasikan.
KLM Perkuat Efisiensi Melalui Restrukturisasi
Tantangan profitabilitas juga mendorong anak usaha KLM mengambil langkah restrukturisasi yang lebih luas. Maskapai asal Belanda tersebut berencana mengurangi sekitar 1.000 posisi pekerjaan melalui peningkatan produktivitas dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, sekitar 4.000 posisi lainnya akan dialihkan atau dialihdayakan kepada mitra eksternal dan unit lain dalam grup. Secara keseluruhan, perubahan organisasi ini menjadi bagian dari upaya KLM memperbaiki struktur biaya dan meningkatkan kinerja keuangan.
Manajemen KLM menilai bahwa langkah penghematan yang telah dijalankan sebelumnya belum cukup untuk mencapai target profitabilitas perusahaan. CFO KLM, Bas Brouns, menyampaikan bahwa peningkatan laba tahunan sebesar €1 miliar diperlukan untuk mendukung strategi perusahaan, termasuk pembaruan armada pesawat dan peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan. Target tersebut memperlihatkan bahwa efisiensi bukan hanya ditujukan untuk mengurangi pengeluaran, tetapi juga menyediakan ruang keuangan bagi investasi jangka panjang. Perusahaan ingin memastikan bahwa kebutuhan pembaruan armada dan peningkatan layanan dapat berjalan tanpa terus membebani kinerja keuangan.
Restrukturisasi tersebut tentu bukan tanpa konsekuensi. Serikat pekerja di Belanda telah menyampaikan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap karyawan dan kebutuhan tenaga kerja dalam operasional sehari-hari. KLM menyatakan akan berupaya membatasi dampak terhadap pekerja melalui pengurangan alami jumlah karyawan, skema sukarela, serta pemindahan ke posisi lain. Dengan demikian, keberhasilan restrukturisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghematan yang dapat dicapai, tetapi juga kemampuan manajemen menjaga kualitas operasional dan hubungan industrial.
Kinerja Air France-KLM pada kuartal ketiga memberikan gambaran bahwa perusahaan penerbangan besar masih memiliki peluang untuk tumbuh di tengah tekanan biaya global. Permintaan perjalanan ke Asia, pengembangan layanan premium, dan pengendalian biaya menjadi faktor penting yang menopang pencapaian tersebut. Namun, kenaikan proyeksi biaya bahan bakar dan rencana restrukturisasi KLM menunjukkan bahwa tantangan industri penerbangan masih jauh dari selesai. Bagi Air France-KLM, pekerjaan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan pendapatan dapat diterjemahkan menjadi profitabilitas yang berkelanjutan, bukan hanya pencapaian positif dalam satu kuartal.

