Art Jakarta 2026: Ketika Seni Menjadi Pengalaman Interaktif bagi Pengunjung

(Business Lounge Journal – Event)

Seni tidak selalu berhenti pada karya yang dipajang untuk dilihat. Dalam Art Jakarta 2026, sejumlah perusahaan menghadirkan instalasi yang mengajak pengunjung berinteraksi, mengeksplorasi gagasan, bahkan menciptakan karya mereka sendiri. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan perusahaan sekaligus membangun pengalaman yang lebih dekat dengan publik.

Diselenggarakan pada 2–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Art Jakarta menghadirkan berbagai kolaborasi antara perusahaan, seniman, dan studio desain. Melalui instalasi dengan pendekatan yang berbeda-beda, para mitra tidak hanya menampilkan identitas merek, tetapi juga menghubungkannya dengan tema seperti adaptasi, kreativitas, rasa ingin tahu, dan nilai kehidupan.

Menghubungkan Identitas Brand dengan Karya Seni

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut hadir melalui Julius Baer, yang kembali menjadi Lead Partner Art Jakarta untuk tahun kelima. Dalam edisi ini, grup wealth management asal Swiss tersebut bekerja sama dengan seniman Indonesia Handiwirman Saputra untuk menghadirkan presentasi di area VIP lounge.

Selain menampilkan seri karya Penampang Taut Berpilin dan sejumlah lukisan baru, kolaborasi ini menghadirkan Kuasa Alam (The Might of Nature). Melalui aktivasi interaktif tersebut, pengunjung dapat menyesuaikan art print mereka sendiri dengan inspirasi dari hubungan personal dengan alam.

Bagi Julius Baer, seni merupakan bagian dari identitas perusahaan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Andrew Lee, Interim Market Head for South East Asia Julius Baer, menyampaikan bahwa seni memiliki kemampuan untuk memperluas perspektif dan memicu percakapan. Ia juga melihat pengalaman kreatif yang personal memiliki kesamaan dengan pendekatan perusahaan dalam menyediakan solusi pengelolaan kekayaan sesuai aspirasi setiap klien.

Pendekatan yang menghubungkan pengalaman seni dengan nilai perusahaan juga terlihat pada instalasi Lost at Sea, hasil kolaborasi Bibit dan Stockbit dengan seniman asal Yogyakarta, Endry Pragusta.

Instalasi berbentuk perahu tersebut mengangkat gagasan mengenai kemampuan beradaptasi ketika menghadapi perubahan. Tema ini dihubungkan dengan perjalanan investor yang perlu menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola keuangan. Pengunjung juga diajak mengikuti aktivitas menulis dan origami untuk menuangkan harapan serta aspirasi mereka.

Melalui karya tersebut, Bibit dan Stockbit membawa topik investasi ke dalam konteks yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Alih-alih hanya menyampaikan informasi mengenai produk keuangan, instalasi ini mengajak pengunjung memikirkan pentingnya ketangguhan dan kemampuan menyesuaikan diri dalam perjalanan finansial.

Dari Nilai Investasi hingga Rasa Ingin Tahu

Kolaborasi Treasury dengan Etza Meisyara, pemenang Treasury Art Prize 2026, menawarkan pendekatan berbeda melalui instalasi Gravity of the Unheld.

Karya intermedia dan multisensori ini mengeksplorasi pemaknaan emas yang melampaui wujudnya sebagai logam mulia. Dengan melibatkan penglihatan, penciuman, dan pendengaran, instalasi tersebut mengajak pengunjung merasakan hubungan antara emas, kepercayaan, dan nilai-nilai yang bersifat lebih abstrak.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana suatu produk investasi dapat menjadi titik awal untuk mengeksplorasi gagasan yang lebih luas. Dalam konteks seni, nilai tidak hanya dibicarakan melalui harga atau bentuk material, tetapi juga melalui pengalaman dan interpretasi personal.

Sementara itu, BCA menghadirkan myBCA District One sebagai area interaktif yang memperkenalkan sejumlah fitur perbankan digital. Pengunjung dapat mengenal fitur seperti Poket Valas, Poket Rupiah, dan aktivasi in-app OTP, sekaligus mengikuti aktivitas yang disediakan selama pameran.

Kehadiran layanan perbankan dalam sebuah pekan seni mempertemukan dua pengalaman yang biasanya berada dalam konteks berbeda. Di satu sisi, pengunjung datang untuk menikmati karya dan aktivitas kreatif. Di sisi lain, mereka dapat mengenal layanan keuangan melalui pengalaman langsung di lokasi.

Kolaborasi serupa juga terlihat dalam instalasi The Curiosity Engine, yang dihadirkan TACO bersama Aji Fajar dari Palette Studio. Karya ini mengeksplorasi rasa ingin tahu melalui bentuk melingkar yang merepresentasikan matahari dan berbagai elemen taktil yang mendorong interaksi.

Instalasi tersebut mengajak pengunjung melihat kembali benda dan mekanisme yang familier dari sudut pandang berbeda. Melalui interaksi, sesuatu yang biasanya memiliki fungsi tertentu dapat memperoleh makna baru.

Berbagai contoh ini menunjukkan bahwa kolaborasi seni dan perusahaan dapat mengambil bentuk yang beragam. Ada yang berangkat dari identitas produk, ada yang mengangkat nilai perusahaan, dan ada pula yang menempatkan interaksi pengunjung sebagai bagian utama dari pengalaman.

Seni, Material, dan Cerita di Balik Produk

Selain melalui instalasi interaktif, hubungan antara seni dan dunia usaha juga hadir lewat eksplorasi material serta proses kreatif.

iForte dan Protelindo Group, misalnya, menghadirkan Hutan Kabel, karya Agnes Hansella yang menggunakan ribuan meter limbah kabel tidak terpakai. Terinspirasi oleh pola pertumbuhan pepohonan sejenis beringin di Kalimantan Tengah, instalasi ini menggambarkan bagaimana jaringan kabel dapat membentuk struktur yang menyerupai sulur dan kanopi pohon.

Karya tersebut juga dilengkapi serat optik dan sensor yang merespons pergerakan pengunjung secara langsung. Material yang sebelumnya merupakan bagian dari infrastruktur telekomunikasi diolah menjadi karya seni yang mengundang pengunjung untuk melihatnya dalam konteks berbeda.

Sementara itu, SUPERMUSIC menghadirkan para pemenang kompetisi ART MEETS MUSIC. Kompetisi ini mengajak peserta menerjemahkan energi, gestur, dan gaya hidup dalam skena musik ke dalam karya seni, bukan sekadar menampilkan atribut genre atau representasi musisi di atas panggung.

MR.D.I.Y., yang menjadi Main Partner baru pada edisi tahun ini, turut menampilkan karya tujuh pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 dengan tema Strength & Resilience. Presentasi ini juga mencakup enam penerima penghargaan dari rangkaian kompetisi di Malaysia dan Thailand.

Di sisi lain, AIA mempersembahkan The Living Legacy, sebuah kolaborasi dengan maestro batik Iwan Tirta. Karya ini mengangkat ingatan dan jejak masa lalu yang membentuk kehidupan saat ini, sekaligus mempertanyakan apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ragam kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan dapat terlibat dalam dunia seni melalui pendekatan yang tidak seragam. Material industri, budaya populer, layanan keuangan, hingga warisan budaya dapat menjadi titik temu antara identitas perusahaan dan ekspresi artistik.

Bagi pengunjung, hasilnya bukan hanya deretan instalasi yang dapat dinikmati secara visual, tetapi juga beragam cara untuk berinteraksi dengan gagasan di balik setiap karya.

Art Jakarta 2026 memperlihatkan bagaimana pertemuan antara seniman dan perusahaan dapat menghasilkan pengalaman yang melampaui promosi produk konvensional. Seni menjadi ruang untuk menyampaikan cerita, mengeksplorasi nilai, dan membuka percakapan dengan publik.

Pada akhirnya, kolaborasi semacam ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya, sementara seniman memperoleh kesempatan untuk mengembangkan gagasan melalui material, teknologi, dan konteks yang beragam. Pertemuan keduanya menjadi salah satu bentuk kolaborasi lintas sektor yang mewarnai perkembangan industri kreatif.