Tokyo Modernisasi Pelabuhan Oi, Kejar Singapura dan Busan

 

(Business Lounge Journal – Global News) Tokyo mulai mempercepat transformasi salah satu fasilitas pelabuhan utamanya untuk menghadapi persaingan pusat logistik Asia yang semakin ketat. Pemerintah Metropolitan Tokyo menyiapkan perombakan besar Oi Container Terminal dengan target menjadikannya terminal kontainer berkapasitas tinggi, lebih ramah lingkungan, sekaligus mampu melayani kapal-kapal kontainer berukuran sangat besar.

Rencana tersebut ditargetkan terealisasi pada 2035. Area terminal Oi akan diperluas sekitar 40%, sementara fasilitas dermaga akan diperkuat agar dapat menerima kapal kontainer berkapasitas 150.000 deadweight ton (DWT). Pemerintah Tokyo menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Tokyo Port sebagai salah satu simpul utama rantai pasok internasional Jepang.

Ekspansi ini berlangsung ketika pelabuhan-pelabuhan besar Asia terus meningkatkan skala dan efisiensi operasional. Singapura, misalnya, tidak hanya memperbesar kemampuan infrastrukturnya, tetapi juga mengembangkan ekosistem pelayaran rendah emisi. Sementara Busan terus memperkuat perannya sebagai hub logistik regional.

Bagi Tokyo, peningkatan kapasitas bukan sekadar persoalan menambah ruang untuk kontainer. Pemerintah kota ingin mengubah Oi menjadi terminal yang lebih terintegrasi dengan teknologi digital dan otomatisasi.

Rencananya mencakup penggunaan Automated Stacking Cranes atau ASC untuk menangani kontainer, sistem reservasi truk berbasis CONPAS, serta pemanfaatan platform digital untuk memperlancar proses logistik. Artificial intelligence juga akan digunakan untuk mengoptimalkan operasi terminal.

Perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi kemacetan kendaraan yang keluar-masuk terminal sekaligus meningkatkan efisiensi pergerakan barang. Tokyo juga berupaya memisahkan jalur kendaraan eksternal dan kendaraan operasional di dalam terminal untuk meningkatkan keselamatan.

Aspek lingkungan menjadi bagian penting dari proyek ini. Tokyo menargetkan elektrifikasi peralatan bongkar muat dan penggunaan listrik hijau sehingga emisi CO₂ dari aktivitas bongkar muat dapat ditekan lebih dari 90%. Pembangkit listrik tenaga surya juga akan dimanfaatkan untuk mengurangi jejak lingkungan terminal.

Modernisasi Oi merupakan bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat Tokyo Port. Pelabuhan ini menghadapi perubahan besar dalam pola perdagangan global, meningkatnya ukuran kapal, kebutuhan akan efisiensi logistik, kekurangan tenaga kerja, serta tekanan untuk mengurangi emisi karbon.

Tokyo sebelumnya telah menetapkan strategi jangka panjang hingga 2050 untuk memperbarui terminal kontainer dan menggabungkan digitalisasi dengan dekarbonisasi. Oi menjadi salah satu fasilitas kunci dalam strategi tersebut.

Dengan ekspansi kapasitas, kemampuan menerima kapal besar dan penggunaan otomatisasi, Tokyo berharap Oi dapat tetap kompetitif ketika pusat-pusat pelabuhan Asia berlomba menawarkan infrastruktur yang lebih besar, cepat dan rendah emisi.

Persaingan tersebut menunjukkan bahwa pelabuhan modern tidak lagi hanya dinilai dari seberapa banyak kontainer yang dapat ditangani. Kecepatan, konektivitas, otomatisasi dan kemampuan memenuhi tuntutan dekarbonisasi kini menjadi bagian penting dari daya saing logistik global.