(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Persaingan mendapatkan sumber daya mineral strategis semakin menjadi bagian penting dalam perkembangan industri global. Di tengah kebutuhan terhadap bahan baku teknologi dan manufaktur, Indonesia dan Meksiko melihat adanya ruang untuk saling berbagi pengalaman, khususnya dalam pengelolaan komoditas strategis seperti nikel dan lithium.
Dalam wawancara Business Lounge Journal dengan Duta Besar Meksiko untuk Indonesia, H.E. Francisco de la Torre Galindo, beberapa waktu lalu, dibahas peluang untuk memperluas hubungan ekonomi kedua negara melalui pertukaran pengalaman di sektor mineral strategis.
Indonesia memiliki pengalaman yang berkembang pesat dalam pengelolaan dan pengolahan nikel, sementara Meksiko memiliki sumber daya lithium yang menjadi salah satu mineral penting dalam perkembangan teknologi masa depan.
Francisco melihat adanya kesamaan kepentingan di antara kedua negara. Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam mengembangkan industri berbasis nikel dapat menjadi referensi bagi Meksiko dalam mengembangkan potensi lithium.
Mexico is sort of doing the same, for example, with lithium.”
Nikel Indonesia dan Lithium Meksiko
Bagi Francisco, kerja sama tidak harus selalu dimulai dari perdagangan produk jadi. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai sumber daya strategis juga dapat menjadi fondasi hubungan ekonomi yang lebih luas.
Ia menilai Indonesia memiliki pengalaman penting dalam mengembangkan sektor nikel, sementara Meksiko menghadapi peluang serupa melalui lithium.
Keduanya merupakan komoditas yang memiliki relevansi terhadap perkembangan teknologi dan industri. Karena itu, pertukaran pengalaman mengenai bagaimana sumber daya tersebut dikembangkan, diolah, dan diintegrasikan ke dalam rantai industri dapat menjadi salah satu area yang menarik untuk dijajaki.
Francisco bahkan melihat mineral strategis sebagai bagian dari perubahan peta ekonomi dan kekuatan global.
Minerals are the key to the future as well.”
Menurutnya, posisi mineral strategis dalam perekonomian dunia ke depan dapat semakin penting, bahkan memiliki arti strategis yang selama ini banyak diasosiasikan dengan sumber energi seperti minyak.
Pandangan tersebut membuka perspektif yang lebih luas mengenai hubungan Indonesia–Meksiko. Kerja sama kedua negara tidak hanya berpotensi berkembang melalui perdagangan komoditas, tetapi juga melalui pengalaman dalam membangun industri dan rantai nilai dari sumber daya strategis.
Bukan Sekadar Berdagang
Francisco juga melihat hubungan ekonomi Indonesia dan Meksiko tidak harus berhenti pada aktivitas ekspor dan impor.
Kedua negara memang dapat menjadi kompetitor dalam sejumlah sektor. Namun, menurutnya, persaingan tersebut tidak menutup kemungkinan bagi keduanya untuk menemukan bidang yang dapat dikembangkan bersama.
Can we compete? Yes, it’s true. But we can find the way to build things together eventually.”
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ruang untuk melihat hubungan bilateral dari perspektif yang lebih luas. Indonesia dan Meksiko dapat bersaing dalam pasar tertentu, tetapi pada saat yang sama memiliki kesempatan untuk membangun kerja sama di bidang industri, investasi, teknologi, maupun rantai pasok.
Bagi sektor swasta, peluang tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik pasar masing-masing negara.
Menurut Francisco, perusahaan Indonesia perlu melihat peluang di Meksiko, sementara perusahaan Meksiko juga perlu lebih mengenal Indonesia. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang memahami pasar masing-masing, hubungan bilateral dapat bergerak dari sekadar hubungan perdagangan menuju kemitraan bisnis yang lebih konkret.
Kedutaan sebagai Penghubung Dunia Usaha
Dalam konteks tersebut, Francisco menilai kedutaan memiliki peran penting untuk membantu mempertemukan peluang dengan pelaku usaha.
Menurutnya, salah satu tugas kedutaan adalah menjelaskan kepada dunia usaha di kedua negara bahwa peluang perdagangan dan investasi sebenarnya dapat dieksplorasi dengan lebih mudah.
What we have to do as embassies is to explain both countries how easy it is to explore the possibility of trading together.”
Peran tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia dan Meksiko yang secara geografis terpisah sangat jauh. Persepsi mengenai jarak, menurut Francisco, masih menjadi salah satu hal yang perlu dijembatani ketika perusahaan mempertimbangkan ekspansi ke negara lain.
Namun, pengalaman sejumlah perusahaan dari kedua negara menunjukkan bahwa jarak tidak selalu menjadi penghalang bagi investasi dan aktivitas bisnis.
Karena itu, diplomasi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarpemerintah, tetapi juga bagaimana informasi mengenai peluang bisnis dapat sampai kepada sektor swasta.
Dari Hubungan Persahabatan Menjadi Pengetahuan tentang Peluang
Francisco juga menyoroti pentingnya peran media dalam memperkenalkan kedua negara kepada masyarakat dan dunia usaha.
Menurutnya, Indonesia dan Meksiko memiliki sejarah persahabatan yang panjang. Tantangannya sekarang adalah bagaimana hubungan tersebut diterjemahkan menjadi pemahaman yang lebih konkret mengenai masing-masing negara dan peluang yang tersedia.
What is the country? What are the opportunities we have?”
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena Meksiko masih dapat dipandang sebagai pasar yang jauh dan kurang dikenal oleh sebagian pelaku usaha Indonesia. Hal yang sama juga berlaku bagi pemahaman masyarakat Meksiko terhadap Indonesia.
Francisco berharap komunikasi yang lebih intensif, termasuk melalui media dan jejaring digital, dapat membantu kedua negara saling mengenal lebih baik.
We have the obligation … to explain to the Indonesians … what is the country, what are the opportunities we have.”
Dengan demikian, hubungan Indonesia–Meksiko tidak berhenti pada sejarah persahabatan dan hubungan diplomatik, tetapi dapat berkembang menjadi pemahaman yang lebih konkret mengenai peluang ekonomi.
Bagi kedua negara, mineral strategis seperti nikel dan lithium dapat menjadi salah satu pintu menuju kerja sama baru. Namun lebih dari sekadar komoditas, pengalaman masing-masing negara dalam mengembangkan sumber daya tersebut dapat menjadi modal untuk membangun hubungan industri yang lebih luas.
Seperti yang disampaikan Francisco, Indonesia dan Meksiko mungkin berada jauh secara geografis. Tetapi dalam ekonomi global, keduanya memiliki pilihan untuk menentukan seberapa dekat hubungan tersebut akan dibangun.
Artikel sebelumnya: Mengapa Indonesia Menjadi Pintu Gerbang Meksiko ke Asia Tenggara

