(Business Lounge Journal – Foreign Insight)
Costa Rica selama ini dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi berkualitas dunia. Namun, negara kecil di Amerika Tengah ini ternyata telah melakukan transformasi ekonomi yang jauh lebih luas. Dari industri kopi, Costa Rica kini berkembang menjadi salah satu pusat industri medical devices di Amerika Latin, dengan lebih dari 90 perusahaan multinasional di sektor tersebut yang beroperasi di negara itu.
Dalam wawancara dengan Head of Mission Costa Rica, Francisco José Masís Holdridge, ia menjelaskan bahwa transformasi tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Pendidikan tinggi, kemampuan beradaptasi, keberadaan ekosistem industri, riset dan pengembangan, serta jaringan perjanjian perdagangan internasional menjadi bagian penting dari perjalanan Costa Rica membangun ekonomi bernilai tinggi.
Menurutnya, ketika satu perusahaan medical device berhasil beroperasi di Costa Rica, perusahaan lain dari industri yang sama mulai melihat potensi negara tersebut. Mereka menemukan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, fasilitas untuk melakukan penelitian, serta perusahaan-perusahaan lokal yang mampu menyediakan berbagai layanan pendukung.
Ketika sebuah perusahaan perangkat medis datang ke Costa Rica dan semuanya berjalan dengan sangat baik bagi mereka, beberapa perusahaan lain dari klaster tersebut akan datang,” jelasnya.
Pendidikan Menjadi Fondasi Transformasi
Salah satu faktor utama di balik perubahan tersebut adalah pendidikan. Costa Rica secara bertahap membangun tenaga kerja dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang mampu memenuhi kebutuhan industri berteknologi tinggi. Perubahan ini membuat tenaga kerja Costa Rica tidak hanya bekerja di sektor tradisional. Mereka juga dapat masuk ke industri medical devices, mikroprosesor, penelitian ilmiah, hingga berbagai bidang teknologi lainnya.
Menurut Francisco, keberadaan tenaga kerja berpendidikan tinggi kemudian menciptakan efek berantai. Perusahaan tidak hanya mendapatkan pekerja, tetapi juga menemukan sumber daya manusia yang mampu melakukan penelitian dan pengembangan. Ekosistem tersebut menjadi semakin menarik ketika dikombinasikan dengan keberadaan perusahaan-perusahaan pendukung. Ketika sebuah industri mulai terbentuk sebagai cluster, perusahaan baru dapat menemukan berbagai kebutuhan bisnisnya di dalam ekosistem yang sudah tersedia.
Costa Rica juga memiliki jaringan perjanjian perdagangan dengan sejumlah pasar besar, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, negara-negara Amerika Latin dan Karibia, serta beberapa negara di Asia. Dalam wawancara tersebut, Francisco juga menyebut bahwa negosiasi Costa Rica untuk bergabung dengan CPTPP telah selesai dan kini memasuki proses ratifikasi.
Perkembangan tersebut dinilai dapat membuka koneksi ekonomi baru dengan negara-negara anggota CPTPP, termasuk Indonesia yang juga sedang dalam proses bergabung dengan perjanjian perdagangan tersebut.
Karena itu, ia melihat momentum ini sebagai kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk mulai melihat Costa Rica sebagai salah satu pintu masuk ke pasar Amerika dan kawasan sekitarnya.
Kopi Tidak Lagi Dipandang Sekadar Komoditas
Menariknya, strategi Costa Rica untuk menciptakan nilai tambah juga terlihat jelas dalam industri kopi. Di pasar internasional, kopi diperdagangkan sebagai komoditas sehingga harga internasional sangat memengaruhi produsen. Ketika harga komoditas naik, harga kopi ikut terdorong naik. Sebaliknya, ketika harga komoditas turun, produsen dapat terkena dampaknya.
Costa Rica memilih pendekatan yang berbeda. Negara tersebut secara bertahap mengurangi fokus pada volume produksi dan lebih menekankan kualitas.
Kopi Costa Rica banyak diproduksi melalui perkebunan-perkebunan kecil yang melibatkan perusahaan kecil dan menengah. Para produsen tidak hanya berusaha menghasilkan kopi terbaik di negaranya, tetapi bersaing untuk menghasilkan kopi terbaik di dunia.
Karena itu, kopi Costa Rica tidak diposisikan semata-mata sebagai komoditas. Produk tersebut mendapatkan premium berdasarkan kualitas, sehingga nilainya dapat berada di atas harga komoditas biasa.
“Kami tidak menjual kopi komoditas. Kami menjual kopi berkualitas. Kami menjual kopi kelas premium,” kata Francisco.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat meningkatkan nilai ekonomi produk tradisional tanpa harus meninggalkan sektor tersebut. Alih-alih mengejar produksi sebanyak-banyaknya, Costa Rica memilih membangun reputasi melalui kualitas, inovasi dan diferensiasi.
Dari “Biji Emas” ke Kopi Berteknologi Tinggi
Kopi bahkan memiliki posisi khusus dalam sejarah Costa Rica. Francisco menyebut kopi sebagai “golden bean” atau biji emas, karena komoditas tersebut memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi dan sejarah negara tersebut. Namun, perkembangan teknologi dan pendidikan kemudian mengubah cara Costa Rica menjaga industri kopinya.
Tenaga kerja berpendidikan tinggi tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan medical devices atau teknologi. Mereka juga dapat digunakan untuk melakukan penelitian terkait kopi, mulai dari kondisi tanah, gunung berapi, perubahan iklim hingga penyakit yang dapat menyerang tanaman kopi.
Perubahan iklim, misalnya, dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan penyakit tertentu menyebar lebih luas pada tanaman. Dengan dukungan penelitian dan pengetahuan ilmiah, Costa Rica dapat mengantisipasi tantangan tersebut dan menjaga produktivitas serta kualitas kopinya. Artinya, teknologi tidak harus menggantikan industri tradisional. Sebaliknya, teknologi dan pendidikan dapat digunakan untuk membuat industri tradisional menjadi lebih kuat dan bernilai tinggi.
Hal inilah yang kemudian membuat sektor kopi Costa Rica berkembang menjadi industri yang tidak hanya berbicara tentang perkebunan dan ekspor, tetapi juga tentang penelitian, kualitas, inovasi dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, perjalanan Costa Rica menunjukkan bahwa transformasi ekonomi tidak selalu berarti meninggalkan sektor lama untuk mengejar industri baru. Kopi tetap menjadi bagian penting dari identitas dan ekonomi negara tersebut, sementara pendidikan, teknologi dan riset digunakan untuk meningkatkan nilainya. Dari “golden bean” hingga medical devices, Costa Rica menunjukkan bagaimana investasi pada manusia dan pengetahuan dapat membantu sebuah negara kecil membangun ekonomi yang semakin berbasis teknologi dan bernilai tinggi.
Previous article: Francisco Masís Holdridge: Costa Rica’s 78 Years Without an Army

