(Business Lounge Journal – News and Insight)
Peringatan German Unity Day tahun ini tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan 36 tahun reunifikasi Jerman, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Indonesia dan Jerman untuk menegaskan kembali hubungan bilateral yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade. Tahun 2026 menandai 74 tahun hubungan diplomatik kedua negara, sementara tahun depan akan menjadi peringatan ke-75 tahun hubungan Indonesia–Jerman.
Dalam perayaan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Jerman terus berkembang dengan fondasi saling menghormati, kepercayaan, serta kepentingan bersama. Menurutnya, momentum German Unity Day juga menjadi pengingat mengenai pentingnya persatuan, perdamaian dan solidaritas—nilai yang relevan bagi kedua negara.
Selama satu dekade terakhir, kerja sama kita terus semakin dalam,” ujar Airlangga dalam pidatonya.
2026 Menjadi Tahun Penting bagi Hubungan Indonesia–Jerman
Tahun 2026 menjadi periode yang cukup penting dalam hubungan kedua negara dengan sejumlah kunjungan tingkat tinggi. Pada Juni 2026, Presiden Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Jerman kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, investasi, transisi energi, pendidikan dan ketenagakerjaan.
Kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan melalui berbagai pertemuan antara pemerintah dan dunia usaha. Indonesia dan Jerman membahas bagaimana hubungan politik yang kuat dapat diterjemahkan menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret, antara lain melalui Joint Economic Commission, kerja sama industri dan hijau, investasi serta pengembangan sumber daya manusia.
Pada Agustus, delegasi tingkat tinggi Jerman juga datang ke Indonesia untuk membahas berbagai peluang kerja sama. Beberapa sektor yang menjadi perhatian adalah energi terbarukan, infrastruktur kelistrikan, kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, infrastruktur digital serta pembiayaan berkelanjutan.
Jerman juga menjadi bagian penting dalam upaya Indonesia mempercepat transisi energi bersih. Bersama Jepang sebagai anggota International Partners Group, Jerman berperan dalam mendukung investasi dan pembiayaan transisi energi Indonesia, termasuk melalui Just Energy Transition Partnership atau JETP.
Perdagangan Lebih dari US$6 Miliar, Peluang Investasi Terus Dibuka
Dari sisi ekonomi, Jerman merupakan salah satu mitra penting Indonesia di Eropa. Airlangga menyebut nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar US$6,11 miliar pada 2025. Sementara itu, investasi kumulatif Jerman di Indonesia sejak 2021 hingga kuartal pertama 2026 telah mencapai lebih dari US$1 miliar.
Lebih dari 250 perusahaan multinasional Jerman juga telah beroperasi di Indonesia. Ke depan, pemerintah melihat masih banyak ruang untuk memperluas kerja sama di sektor industri, infrastruktur, perdagangan, investasi, energi, transformasi digital, kesehatan, life sciences dan pengembangan sumber daya manusia.
Salah satu peluang yang mendapat perhatian adalah penyelesaian Indonesia–EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Pemerintah Indonesia berharap proses penandatanganan dan ratifikasi dapat berlangsung pada 2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027.
Airlangga menilai CEPA akan membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Uni Eropa. Bagi perusahaan Jerman, kesepakatan tersebut diharapkan dapat menciptakan peluang yang lebih besar untuk masuk dan berkembang di pasar Indonesia.
Salah satu sektor yang secara langsung akan merasakan dampaknya adalah industri otomotif. Dalam sesi tanya jawab, Ambassador Jerman untuk Indonesia Ralf Beste menyebut bahwa dengan adanya CEPA, tarif untuk kendaraan Jerman diharapkan dapat mendekati nol persen. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat produk otomotif Jerman lebih kompetitif di pasar Indonesia.
Kami ingin lebih banyak mobil Jerman berada di jalan-jalan Indonesia dan Jakarta,” ujar Beste. Menurutnya, kendaraan Jerman dikenal modern dan berteknologi tinggi, sementara CEPA akan memberikan akses yang lebih baik bagi perusahaan Jerman ke pasar Indonesia yang terus berkembang.
Jerman Siap Dukung Transisi Energi dan Teknologi Indonesia
Selain perdagangan, transisi energi menjadi salah satu area utama dalam hubungan kedua negara. Jerman melihat Indonesia sebagai mitra penting dalam pengembangan energi terbarukan, jaringan listrik dan teknologi penyimpanan energi.
Beste menyebut kerja sama tersebut mencakup berbagai proyek, mulai dari teknologi untuk sistem LRT, proyek energi surya, pembangunan jaringan listrik hingga pengembangan proyek energi terbarukan. Jerman juga siap menyediakan investasi berbasis teknologi tinggi di Indonesia.
Teknologi baterai menjadi salah satu bidang yang dinilai strategis karena Indonesia membutuhkan solusi untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan energinya. Melalui kerja sama dengan lembaga pembangunan serta perusahaan teknologi Jerman, kedua negara dapat mengembangkan solusi untuk mengurangi konsumsi energi, menyimpan energi dan menstabilkan jaringan listrik.
Beste menekankan bahwa teknologi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat membantu Indonesia memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat sekaligus memperkuat energy security dan kemandirian energi.
Kerja sama kedua negara juga mencakup bidang kesehatan dan kemanusiaan. Dalam sektor kesehatan, perusahaan seperti Bayer disebut sebagai salah satu mitra yang berkontribusi dalam penyediaan produk nutrisi bagi perempuan dan anak-anak. Di bidang kemanusiaan, Jerman bersama mitra Eropa juga telah mendukung Indonesia melalui pengiriman pesawat transportasi A400M yang dapat digunakan dalam operasi bantuan, termasuk menghadapi bencana banjir dan kebakaran.
Hubungan teknologi Indonesia–Jerman bahkan mencakup bidang kelautan. Beste menyebut KRI Rigel—kapal penelitian yang dibangun melalui kerja sama perusahaan Indonesia dan Jerman—yang membantu Indonesia melakukan survei wilayah perairannya. Menurutnya, pemetaan dan survei perairan Indonesia memiliki arti penting karena wilayah tersebut merupakan jalur bagi arus perdagangan dunia.
Dari Reunifikasi Menuju Kemitraan Masa Depan
Bagi Jerman, German Unity Day memiliki makna sejarah yang sangat kuat. Reunifikasi pada 1990 mengakhiri pemisahan Jerman selama beberapa dekade dan membawa negara tersebut ke dalam babak baru sebagai negara yang hidup damai bersama negara-negara tetangganya di Eropa.
Menurut Ralf Beste, pengalaman tersebut membuat masyarakat Jerman semakin menyadari pentingnya hidup dalam perdamaian dan menjadi bagian dari komunitas bangsa-bangsa yang saling bekerja sama.
Nilai tersebut, menurutnya, juga menjadi dasar bagi hubungan Jerman dengan Indonesia. Kedua negara sama-sama merupakan negara besar dengan keberagaman yang tinggi dan memiliki sistem demokrasi yang memungkinkan perbedaan pandangan diselesaikan melalui proses politik dan dialog, bukan melalui kekerasan.
Indonesia sendiri memiliki prinsip Bhinneka Tunggal Ika—persatuan dalam keberagaman—yang menurut Beste memiliki kemiripan dengan pengalaman Jerman dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakatnya.
Dengan hubungan diplomatik yang memasuki usia 75 tahun pada 2027, Indonesia dan Jerman kini memiliki kesempatan untuk membawa kemitraan tersebut ke tingkat berikutnya. Perdagangan, investasi, teknologi, energi terbarukan, kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, pendidikan dan pengembangan keterampilan menjadi sejumlah bidang yang dapat menentukan arah hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi Jerman, Indonesia bukan hanya pasar yang besar, tetapi juga mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik. Sementara bagi Indonesia, pengalaman, teknologi dan kapasitas industri Jerman dapat menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi ekonomi dan transisi energi.
Dari perayaan reunifikasi Jerman, pesan yang muncul bukan hanya tentang sejarah persatuan sebuah bangsa, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun kemitraan baru. Setelah 74 tahun hubungan diplomatik, Indonesia dan Jerman kini memasuki babak yang lebih berorientasi pada investasi, teknologi, energi dan pertumbuhan bersama.

