(Business Lounge Journal – Culture)
Sulit membayangkan bahwa sebuah kuas yang dibuat dari beberapa helai bulu kucing mampu melahirkan karya seni yang diakui dunia. Namun, itulah tradisi yang masih hidup di Petrykivka, sebuah desa kecil sekitar satu jam perjalanan dari Kota Dnipro, Ukraina. Di tempat ini, bunga-bunga tidak sekadar tumbuh di halaman rumah, melainkan bermekaran di dinding, pintu, perabot, hingga lembar-lembar kertas, seolah menjadi bahasa yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dari desa yang tampak sederhana inilah lahir Seni Lukis Dekoratif Petrykivka, yang pada tahun 2013 diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Di tengah citra Dnipro sebagai kota industri dan salah satu pusat ilmu pengetahuan serta pertahanan Ukraina, keberadaan Petrykivka menghadirkan kontras yang nyaris paradoksal. Jika Dnipro bergerak mengikuti dentuman mesin dan geliat pembangunan, Petrykivka justru berjalan mengikuti irama kuas dan warna. Desa ini mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga ingatan kolektif melalui kebudayaan.
Sejarah Petrykivka bermula pada tahun 1772 ketika desa ini didirikan oleh Petro Kalnyshevsky, Otaman terakhir Kosak Zaporozhian. Pada masa ketika sebagian besar wilayah Eropa Timur masih mengenal sistem serfdom, Petrykivka berkembang sebagai permukiman orang-orang merdeka yang tidak terikat pada tuan tanah. Kebebasan itu memberi ruang bagi masyarakat untuk membangun tradisi yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga memenuhi kebutuhan jiwa. Dari ruang kebebasan itulah, perlahan-lahan, seni Petrykivka menemukan bentuknya.
Setiap datang musim semi, para perempuan desa akan membersihkan rumah-rumah mereka yang terbuat dari tanah liat dan dicat putih. Namun, pekerjaan itu belum dianggap selesai sebelum dinding-dinding rumah dihiasi dengan bunga, sulur tanaman, buah viburnum, burung-burung khayalan, serta dedaunan yang tidak sepenuhnya meniru alam, melainkan lahir dari imajinasi para pelukisnya. Mereka dikenal sebagai Chepurushky, para perempuan yang mempercantik rumah. Bagi masyarakat setempat, lukisan itu bukan sekadar hiasan. Lukisan tersebut dipercaya membawa keberuntungan, melindungi keluarga dari mara bahaya, sekaligus menjadi cerminan jiwa penghuninya. Bahkan dahulu, rumah yang dibiarkan polos kerap dipandang sebagai rumah yang kehilangan kehangatan dan harapan.
Keunikan Petrykivka tidak berhenti pada motif-motif bunganya. Di balik setiap garis halus dan gradasi warna yang nyaris transparan, tersimpan teknik yang diwariskan turun-temurun. Sebagian maestro tradisional masih mempertahankan penggunaan kuas bulu kucing, yang dibuat sendiri dari bulu halus kucing peliharaan yang diambil secara hati-hati tanpa menyakitinya. Bulu-bulu itu kemudian diikat pada tangkai kayu kecil untuk menghasilkan sapuan yang lembut, lentur, dan presisi, melahirkan teknik khas yang dikenal sebagai tsybulka. Hingga kini, ketika dunia seni telah mengenal beragam peralatan modern, kuas sederhana itu tetap dipertahankan karena diyakini menyimpan karakter yang tidak dapat digantikan oleh alat apa pun.
Perjalanan seni Petrykivka juga tidak selalu berjalan mulus. Pada masa Uni Soviet, tradisi ini sempat diarahkan menjadi produksi kerajinan dalam skala industri. Meski demikian, identitasnya tidak pernah benar-benar hilang. Setelah Ukraina merdeka, para seniman dan masyarakat setempat kembali menghidupkan nilai-nilai yang menjadi “nyawa” Petrykivka. Kini, Petrykivka Folk Art Center tidak hanya menjadi tempat belajar melukis, tetapi juga ruang perjumpaan antara tradisi lokal dan masyarakat dunia yang datang untuk memahami kisah di balik setiap sapuan warna.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketika Ukraina menghadapi berbagai ujian akibat perang, makna seni Petrykivka terasa semakin dalam. Motif bunga yang terus bermekaran seakan menjadi metafora tentang kehidupan yang menolak tunduk pada kehancuran. Seni ini tidak berbicara tentang peperangan, tetapi justru tentang sesuatu yang sering terlupakan ketika perang berlangsung: harapan. Mungkin itulah sebabnya seni ini tetap bertahan selama lebih dari dua abad. Seni ini lahir bukan dari ambisi untuk menjadi terkenal, melainkan dari keinginan sederhana manusia untuk menghadirkan keindahan di tempat mereka pulang.
Karena itu, berkunjung ke Dnipro tanpa menyempatkan diri singgah ke Petrykivka rasanya seperti membaca sebuah buku sambil melewatkan bab terakhirnya. Di desa kecil inilah kita menemukan sisi lain Ukraina, sebuah negeri yang tidak hanya dikenang karena sejarah dan pergolakannya, tetapi juga karena keyakinannya bahwa sehelai bulu kucing, setangkai bunga, dan tangan-tangan yang sabar dapat melahirkan warisan yang mampu memikat dunia.

