Mengenal Klompen Sepatu Ikonik Tradisional Belanda

(Business Lounge Journal – Culture)

Belanda adalah salah satu negara Eropa Barat yang penuh daya tarik. Bukan hanya kincir angin, bunga tulip, dan kejunya yang terkenal. Salah satu benda ikonik yang dapat ditemukan di negeri kincir angin ini adalah sepatu kayu tradisional Belanda yang dinamakan klompen.

Klompen sudah dipakai oleh para petani dan peternak Belanda untuk pekerjaan sehari-hari di atas tanah yang lembap. Sepatu kayu berongga ini adalah “safety shoes” tradisional, dibuat untuk melindungi kaki para petani di ladang, nelayan di laut, maupun para pekerja buruh di industri tradisional Belanda. Kayu dipilih karena bahan ini mudah didapat dan sifatnya yang tahan lama, anti-air, serta mampu memberikan perlindungan dari kecelakaan kerja, seperti benda tajam atau binatang pengganggu yang ditemukan di tempat kerja. Bagian depan klompen yang keras juga mampu menahan beban berat.

Bukan sembarang kayu dapat menghasilkan klompen yang berkualitas dan tahan lama. Orang Belanda menggunakan kayu poplar (Populus) pada saat ini karena ketersediaannya yang melimpah di Eropa Utara. Pada zaman dahulu, kayu dedalu (willow/Salix) digunakan karena kualitasnya dalam membuat klompen yang tahan lama, terutama terhadap air. Kedua jenis kayu berkualitas ini dipilih karena memiliki sifat ringan, tahan lama, dan elastis. Dibandingkan dengan kayu pohon oak yang kuat, ternyata kayu tersebut tidak cocok dibuat menjadi klompen karena dianggap terlalu berat. Namun, kayu poplar dan dedalu sangat cocok dijadikan alas kaki karena sifatnya yang ringan dan kuat sehingga tidak terasa melelahkan ketika diajak berjalan jauh.

Selain itu, kedua jenis kayu ini memiliki keistimewaan tersendiri karena mudah dibentuk, baik secara manual pada zaman dahulu maupun dengan mesin bubut di era modern ini. Bahan kayu ini memiliki kemampuan termal yang fleksibel, sehingga klompen mampu menjaga suhu kaki. Pada musim dingin, kaki terasa hangat, sedangkan pada cuaca panas, kaki terasa sejuk. Klompen yang terbuat dari kayu poplar dan dedalu memiliki sifat antipecah dan benar-benar melindungi kaki dari cedera internal. Kayunya bersifat solid sehingga tidak mudah pecah menjadi serpihan di dalam sepatu.

Pembuatan klompen dilakukan melalui proses pemahatan selagi kayu masih dalam keadaan basah. Ketika kayu menjadi kering, sifat kayu menjadi sulit dibentuk, terlalu keras, dan berisiko pecah.

Kayu yang akan diolah menjadi klompen melalui proses pemotongan terlebih dahulu hingga menjadi balok-balok berbentuk silinder sesuai ukuran kaki yang diinginkan. Kemudian, bagian luarnya dibentuk (the rough shape). Pada abad ke-12, proses ini menggunakan kapak berukuran kecil dan pisau besar, sedangkan pada zaman sekarang sudah menggunakan mesin berteknologi modern. Tahap ini dinamakan “copier-lathe”. Proses modern ini membuat balok kayu yang dipasang pada mesin dibentuk sesuai model klompen yang telah didesain. Bentuk luar klompen pun akan menyerupai sepatu.

Setelah desain luar klompen selesai dibuat, proses pengerukan bagian dalam untuk membuat rongga sepatu dilakukan. Proses ini dinamakan “hollowing”. Klompen yang sudah selesai dipahat kemudian dikeringkan secara alami hingga mengeras. Pada tahap ini, bobot klompen menjadi lebih ringan. Setelah klompen kering, dilakukan proses pengamplasan hingga permukaan sepatu tradisional ini menjadi licin. Klompen dapat dijual dalam keadaan polos maupun dihiasi dengan ornamen khas Belanda, yaitu kincir angin atau bunga tulip. Kemudian, klompen diberi lapisan pernis agar tahan air dan mengilap.

Klompen memiliki warna yang berbeda-beda. Bukan hanya sebagai dekoratif, warna-warna tersebut juga memiliki makna tersendiri secara sosial. Klompen berwarna kuning polos digunakan oleh penduduk kota atau para pekerja. Klompen berwarna putih terdiri atas dua jenis. Putih alami tanpa dicat biasanya digunakan oleh para petani. Uniknya, para petani sering menggosok atau mengamplas klompen hingga putih bersih. Kebiasaan ini mereka anggap sebagai suatu kelayakan untuk beribadah di gereja.

Sementara itu, klompen berwarna putih karena dicat memiliki makna berbeda. Bagi orang Belanda, warna putih melambangkan kesucian. Biasanya, klompen putih yang sengaja dicat ini diperuntukkan bagi pengantin wanita dalam upacara pernikahan tradisional Belanda. Klompen berwarna hitam atau gelap juga memiliki makna ganda. Klompen berwarna hitam dapat diperuntukkan bagi acara kedukaan. Namun, ada pula yang sengaja dicat dengan warna gelap untuk mendapatkan kesan profesional dan agar tidak cepat kotor.

Klompen berwarna merah melambangkan suasana yang meriah. Warna ini sering dikaitkan dengan status kemewahan kecil di kalangan masyarakat pedesaan. Bahkan, anak-anak sering diberi klompen berwarna merah agar mudah terlihat dengan jelas. Klompen berwarna biru biasanya digunakan di daerah Staphorst. Namun, warna ini juga sering dikenakan karena selera pribadi atau untuk mencocokkan warna pakaian.

Motif dekoratif pada klompen juga memiliki makna sosial. Klompen polos diperuntukkan bagi para pekerja, buruh pabrik, petani, dan nelayan. Sementara itu, klompen dengan motif bunga digunakan dalam perayaan maupun acara santai.

Penggunaan klompen saat ini ditunjang oleh sertifikasi keamanan berdasarkan standar keamanan Uni Eropa (CE). Para pekerja di pedesaan Belanda masih dapat dijumpai menggunakan klompen. Namun, pada umumnya saat ini klompen lebih dikenal sebagai salah satu suvenir khas Belanda yang sangat ikonik.