Asia Tenggara

Asia Tenggara dan Jalan Menuju Masa Depan AI

(Business Lounge – Technology) Keberhasilan adopsi AI secara luas akan sangat bergantung pada lima fondasi utama. Pertama adalah infrastruktur yang andal. Kedua adalah kemampuan organisasi dan tenaga kerja dalam memanfaatkan AI. Ketiga adalah keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Keempat adalah regulasi dan tata kelola yang mendukung. Kelima adalah kerja sama internasional yang memungkinkan negara-negara belajar dan berkembang bersama.

Kabar baiknya, Asia Tenggara dinilai sudah bergerak di kelima aspek tersebut. Kawasan ini sedang berada dalam momentum yang tepat untuk mempercepat transformasi digital dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan kecerdasan buatan. Pertumbuhan ekonomi digital yang kuat, meningkatnya investasi teknologi, serta populasi muda yang semakin terkoneksi menjadi modal penting bagi kawasan untuk memasuki era AI.Fondasi pertama adalah infrastruktur. Dalam beberapa tahun mendatang, pembangunan infrastruktur digital di Asia Tenggara diperkirakan meningkat secara signifikan. Antara tahun 2025 hingga 2030, kapasitas pusat data atau data center diproyeksikan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Bahkan sejumlah pelaku industri memperkirakan pertumbuhannya dapat mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

Peningkatan kapasitas tersebut menunjukkan bahwa Asia Tenggara sedang berkembang menjadi salah satu jaringan jalan raya digital paling sibuk di dunia. Investasi besar mengalir ke berbagai negara untuk membangun pusat data, komputasi awan, dan konektivitas digital yang diperlukan untuk mendukung era AI.Meski demikian, infrastruktur tidak hanya terdiri atas kabel, pusat data, atau daya komputasi. Infrastruktur digital juga mencakup lapisan perangkat lunak dan kebijakan yang membuat AI dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Salah satu contoh yang menonjol adalah Sea-Lion atau Southeast Asian Languages in One Network. Model AI sumber terbuka ini dirancang untuk memahami bahasa-bahasa Asia Tenggara yang sangat beragam. Karena bersifat open source, siapa pun dapat menggunakannya secara gratis. Hingga saat ini, model tersebut telah diunduh lebih dari 200.000 kali dan menjadi fondasi bagi berbagai produk AI yang dikembangkan perusahaan-perusahaan di kawasan.

Fondasi kedua adalah kemampuan organisasi dan sumber daya manusia. Membangun infrastruktur sering kali lebih mudah dibandingkan mengubah cara organisasi bekerja. Tantangan terbesar justru terletak pada integrasi AI ke dalam proses bisnis sehari-hari.Saat ini berbagai sektor mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Industri perbankan menggunakannya untuk mendeteksi penipuan secara lebih cepat dan akurat. Sektor manufaktur memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan rantai pasok, mengurangi waktu henti produksi, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Di Indonesia, perusahaan seperti Kata.ai mengembangkan berbagai solusi AI yang dirancang untuk meningkatkan layanan pelanggan dan membantu perusahaan memahami kebutuhan konsumen secara lebih baik. Kehadiran perusahaan-perusahaan semacam ini menunjukkan bahwa inovasi AI tidak hanya datang dari perusahaan teknologi global, tetapi juga berkembang dari dalam kawasan sendiri.

Transformasi tersebut juga harus menjangkau pelaku usaha kecil dan menengah. Karena itu, kepemimpinan ASEAN tahun ini menjadikan adopsi AI oleh UMKM sebagai salah satu prioritas utama. Berbagai inisiatif regional juga menargetkan pemberdayaan hingga 100.000 UMKM agar mampu memanfaatkan perangkat digital dan teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas usaha mereka.Fondasi ketiga adalah keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Asia Tenggara memiliki keuntungan berupa populasi muda yang besar, tingkat konektivitas digital yang tinggi, dan kemampuan adaptasi yang relatif cepat terhadap perkembangan teknologi baru.

Banyak pemerintah di kawasan kini berupaya membekali siswa dan mahasiswa dengan keterampilan yang relevan untuk era AI. Berbagai kemitraan dengan perusahaan teknologi juga dibangun untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja agar siap menghadapi perubahan yang terjadi di pasar kerja.Nilai demokratisasi AI terlihat jelas melalui berbagai inovasi yang lahir dari generasi muda. Dalam kompetisi AI Ready ASEAN Youth Challenge, dua mahasiswa dari Brunei berhasil mengembangkan Sahabat Care, sebuah platform AI yang membantu pasien demensia dan para pengasuh mereka.

Sementara itu, tim Indonesia melalui Noa AI mengembangkan solusi yang berbeda. Mereka membangun platform yang mampu memprediksi, memverifikasi, dan mengirimkan peringatan banjir secara real-time melalui pesan singkat. Inovasi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan di daerah-daerah yang memiliki konektivitas internet terbatas, bahkan hanya mengandalkan jaringan 3G atau lebih rendah.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa AI bukan sekadar teknologi canggih untuk perusahaan besar. AI juga dapat digunakan untuk membantu kelompok masyarakat yang selama ini kurang terlayani dan menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi sehari-hari.Namun semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan akan tata kelola yang baik. Manfaat AI harus selalu diimbangi dengan kemampuan mengelola risiko dan memastikan akuntabilitas.

Beberapa risiko AI sebenarnya dapat ditangani melalui regulasi yang sudah ada. Misalnya, diskriminasi dalam proses rekrutmen yang disebabkan oleh sistem otomatis dapat diatur melalui undang-undang ketenagakerjaan. Namun ada pula persoalan baru yang memerlukan pembaruan kebijakan.Salah satu contohnya adalah penggunaan materi yang dihasilkan AI dalam proses pemilu. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat regulasi sering kali tertinggal. Karena itu, pendekatan berbasis prinsip sering kali lebih efektif dibandingkan aturan yang terlalu rinci dan kaku.

Singapore menjadi salah satu negara pertama di Asia yang meluncurkan Model AI Governance Framework. Negara tersebut juga menerbitkan berbagai pedoman mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab. Pendekatan serupa mulai diadopsi oleh negara-negara lain di kawasan melalui berbagai panduan tata kelola, etika AI, serta program pengujian keamanan AI.

Kerja sama regional menjadi faktor penting yang memungkinkan perkembangan tersebut. ASEAN telah membentuk kelompok kerja mengenai tata kelola AI dan secara aktif terlibat dalam berbagai forum internasional. Kawasan ini juga berpartisipasi dalam berbagai pertemuan global mengenai AI serta organisasi standardisasi internasional seperti International Organization for Standardization agar memiliki suara dalam pembentukan standar AI global.Meskipun prospeknya menjanjikan, terdapat dua tantangan utama yang dapat menggagalkan rencana terbaik Asia Tenggara.Tantangan pertama adalah kebijakan data. Data merupakan sumber kehidupan bagi AI. Untuk membangun model yang akurat dan andal, dibutuhkan akses terhadap data yang berkualitas serta lingkungan yang memungkinkan data mengalir secara aman dan terpercaya.

Perusahaan yang beroperasi di banyak negara membutuhkan pandangan yang menyeluruh terhadap pelanggan, pemasok, dan operasinya. Jika data tidak dapat bergerak secara efisien lintas batas negara, kemampuan perusahaan untuk berinovasi dan berkembang akan menjadi terbatas.Tentu saja pembatasan tertentu tetap diperlukan untuk melindungi data pribadi, informasi sensitif, dan kepentingan keamanan nasional. Namun pembatasan yang terlalu ketat berisiko menghambat inovasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi digital.

Dampaknya akan paling dirasakan oleh perusahaan kecil yang tidak memiliki sumber daya besar untuk memenuhi berbagai persyaratan kepatuhan yang rumit. Karena itu, negara-negara ASEAN perlu menciptakan lingkungan yang membantu perusahaan-perusahaan kecil berkembang dan melakukan ekspansi lintas negara.Inilah tujuan utama dari Digital Economy Framework Agreement atau DEFA. Kesepakatan bersejarah ini bertujuan membangun seperangkat aturan dan kerangka kerja bersama untuk mendukung perdagangan digital serta aliran data lintas batas yang terpercaya.

Dalam proses pembentukannya, Thailand, Philippines, dan Indonesia memainkan peran penting dalam meletakkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi digital kawasan.Tantangan kedua adalah cara negara-negara memandang kedaulatan AI atau AI sovereignty. Kedaulatan merupakan perhatian yang sah dan penting. Setiap negara harus mampu menggunakan AI sesuai kepentingan rakyatnya sendiri.Namun persoalan ini sering kali dipahami secara terlalu sempit, seolah-olah kedaulatan hanya dapat dicapai jika sebuah negara memiliki seluruh rantai teknologi AI, mulai dari chip, model, data, hingga aplikasi.

Pandangan tersebut dinilai kurang realistis. Selain membutuhkan biaya yang sangat besar, rantai pasok AI modern bergantung pada jaringan global yang sangat kompleks. Hanya sedikit negara yang memiliki kemampuan untuk menguasai seluruh lapisan teknologi tersebut.Selain itu, banyak negara masih memiliki prioritas pembangunan lain yang tidak kalah penting, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan populasi yang menua.

Karena itu, terdapat tiga tujuan yang lebih realistis dalam membangun kedaulatan AI. Pertama, kemampuan untuk menggunakan dan mengatur AI demi kepentingan publik. Kedua, kebebasan untuk memilih mitra teknologi, pemasok, dan bentuk kerja sama yang paling sesuai dengan kebutuhan nasional. Ketiga, kemampuan membangun ekosistem AI domestik yang kuat melalui lembaga penelitian, komunitas pengembang, investor modal ventura, dan pengguna teknologi yang ambisius.Ketiga tujuan tersebut membutuhkan upaya besar untuk dicapai, namun jauh lebih relevan dalam melindungi kepentingan strategis setiap negara dibandingkan mengejar kepemilikan penuh atas seluruh rantai teknologi AI.Ke depan, terdapat tiga prioritas utama yang akan menjadi fokus kawasan. Pertama, memperluas penggunaan AI oleh UMKM, pekerja, dan pemerintah. Kedua, meningkatkan investasi pada digital public goods seperti model bahasa, perangkat tata kelola AI, dan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ketiga, memperdalam mekanisme aliran data lintas batas serta menyelaraskan pendekatan tata kelola AI di seluruh kawasan.

Agenda tersebut bukan milik satu negara, melainkan agenda bersama ASEAN. Kekuatan ASEAN tidak pernah terletak pada kesamaan. Kekuatan kawasan ini justru lahir dari kemampuannya bekerja sama di tengah keberagaman. Sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, negara-negara Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem AI yang inklusif, aman, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi ratusan juta penduduk kawasan.