Studi Pemindaian Otak Pertama Pengguna ChatGPT: Temuan MIT yang Mengkhawatirkan

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memindai aktivitas otak pengguna ChatGPT secara langsung. Hasilnya mengejutkan — dan bagi sebagian peneliti, cukup mengkhawatirkan. Studi ini dilakukan oleh MIT Media Lab dan dilaporkan oleh sejumlah media internasional seperti TIME Magazine dan Futurism pada Juni 2025.

Penelitian tersebut melibatkan 54 orang dewasa yang dipantau selama empat bulan. Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok: pengguna ChatGPT, pengguna Google Search, dan kelompok “brain-only” — yakni mereka yang menulis esai tanpa bantuan teknologi apa pun. Selama proses menulis, peneliti menggunakan teknologi electroencephalography (EEG) untuk memantau aktivitas di 32 area otak, termasuk jaringan yang berkaitan dengan perhatian, memori, kreativitas, dan kontrol eksekutif.

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Kelompok pengguna ChatGPT tampil paling rendah dalam hampir semua aspek: neural, linguistik, dan perilaku. Pemindaian EEG memperlihatkan konektivitas neural yang lebih lemah serta rendahnya keterlibatan gelombang otak alpha dan beta — bagian penting yang berperan dalam fokus, pengambilan keputusan, dan pemikiran kreatif. Dengan kata lain, otak mereka terlihat “kurang aktif” saat bekerja.

Yang lebih mencolok, peneliti mencatat bahwa pengguna ChatGPT semakin pasif dari waktu ke waktu. Pada esai pertama, mereka masih berusaha mengolah hasil AI. Namun pada esai ketiga, banyak peserta hanya menyalin-tempel jawaban ChatGPT tanpa modifikasi berarti. Para pengajar yang menilai hasil tulisan menyebut esai-esai tersebut sebagai “soulless” — kehilangan suara pribadi, terlalu seragam, dan minim gagasan orisinal.

Eksperimen lanjutan memperlihatkan dampak yang lebih dalam. Ketika pengguna ChatGPT diminta menulis kembali tanpa bantuan AI, mereka menunjukkan kelelahan kognitif yang menetap. Aktivitas otak tetap rendah meski AI sudah disingkirkan. Banyak peserta bahkan kesulitan mengutip atau mengingat tulisan mereka sendiri, menandakan gangguan memori dan penurunan keterlibatan mental.

Fenomena ini oleh peneliti disebut sebagai “cognitive debt” — kondisi di mana ketergantungan jangka panjang pada AI menurunkan kemampuan berpikir mandiri. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya, termasuk riset Carnegie Mellon–Microsoft, yang menemukan bahwa penggunaan AI secara intensif dapat mengikis keterampilan berpikir kritis. Penelitian lain juga mencatat gejala mirip adiksi, termasuk rasa gelisah dan penurunan performa ketika akses AI dihentikan.

Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi serius. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI generatif meningkat pesat di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda. Di tengah tantangan literasi, kualitas pendidikan yang belum merata, serta budaya belajar yang masih berorientasi pada hasil akhir, AI berpotensi menjadi jalan pintas massal — bukan alat pembelajaran.

Tanpa panduan yang jelas, ChatGPT bisa memperlebar kesenjangan kognitif: mereka yang sudah memiliki kemampuan berpikir kuat akan menggunakan AI sebagai penguat, sementara kelompok lain berisiko kehilangan proses belajar mendasar. Kondisi ini menjadi krusial mengingat Indonesia sedang menikmati bonus demografi, di mana kualitas otak generasi muda akan menentukan daya saing bangsa dalam beberapa dekade ke depan.

Artinya, tantangan Indonesia bukan melarang AI, melainkan mengatur cara menggunakannya. AI perlu diposisikan sebagai alat bantu berpikir — bukan pengganti berpikir. Tanpa kebijakan pendidikan, literasi digital, dan kesadaran publik yang memadai, kenyamanan instan dari AI bisa berubah menjadi utang kognitif nasional yang mahal di masa depan.