(Business Lounge Journal – Event)
Mendekatkan Amerika Latin ke Jakarta Lewat Lensa Fotografi
Bagaimana cara mengenal sebuah kawasan tanpa harus mengunjunginya secara langsung? Fotografi mungkin menjadi salah satu medium yang paling memikat. Sebuah lanskap, raut wajah manusia, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari dapat membawa kita melihat sebuah tempat dari perspektif yang berbeda—bukan sekadar sebagai lokasi di atas peta, melainkan sebagai ruang yang memiliki cerita dan identitas.
Pertanyaan semacam itu terasa relevan ketika melangkah masuk ke pameran fotografi “Constelaciones Vivas – Stories and Identity of Latin America” di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini mempertemukan karya dari sembilan negara Amerika Latin: Argentina, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, Guatemala, Meksiko, Panama, Peru, dan Uruguay.
Diselenggarakan melalui kolaborasi kedutaan besar negara-negara tersebut di Indonesia bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Museum dan Cagar Budaya (unit Galeri Nasional Indonesia), pameran ini berlangsung pada 18 September hingga 11 Oktober 2026 di bawah arahan kurator Yoppy Pieter.
Namun, Constelaciones Vivas bukan sekadar kumpulan foto dari sembilan negara. Di balik keberagaman visualnya, terdapat gagasan tentang bagaimana cerita-cerita yang berbeda dapat saling terhubung dan membentuk pemahaman yang lebih luas tentang suatu kawasan.
Kawasan Amerika Latin
Amerika Latin bukanlah kawasan dengan satu wajah tunggal. Di dalamnya terbentang beragam negara dengan sejarah, lanskap, masyarakat, tradisi, dan warisan budaya yang unik. Dari pegunungan tinggi hingga metropolitan modern, dari tradisi masyarakat adat hingga dinamika kehidupan kontemporer, semuanya membentuk identitas yang berlapis.
Keragaman itulah yang kemudian hadir melalui karya-karya fotografi dalam Constelaciones Vivas.
Sembilan Negara, Beragam Cerita
Judul Constelaciones Vivas, yang berarti “konstelasi yang hidup”, menjadi metafora yang menarik. Layaknya bintang-bintang yang berdiri sendiri namun membentuk gugusan indah saat dipandang bersamaan, demikian pula karya-karya dalam pameran ini dihadirkan.
Masing-masing fotografer maupun institusi membawa perspektif khas dari negaranya. Ada yang menyoroti hubungan manusia dengan alam, ada yang menghadirkan lanskap, tradisi, kepercayaan, warisan budaya, hingga dinamika kehidupan sehari-hari.
Para peserta pameran terdiri atas fotografer dan institusi budaya dari sembilan negara, antara lain: Alejandro Chaskielberg (Argentina), Desiree Harahap (Meksiko/Indonesia), Kementerian Kebudayaan Panama, Federico “Fefo” Bouvier (Uruguay), Gabriel Barreto Bentin (Peru), Kementerian Luar Negeri dan Mobilitas Manusia Ekuador, Santiago Escobar Jaramillo (Kolombia), Kementerian Luar Negeri Kosta Rika, serta Institut Pariwisata Guatemala (INGUAT).
Keberagaman tersebut membuat pameran ini tidak menyajikan gambaran tunggal mengenai Amerika Latin. Sebaliknya, pengunjung diajak menjelajahi berbagai tema, lanskap, dan potret masyarakat yang membentuk identitas kawasan tersebut.
Dalam pameran ini, karya-karya ditata di beberapa ruang pamer, sehingga pengunjung dapat menikmati perjalanan visual dari satu negara ke negara lainnya.
Menariknya, pengalaman mengapresiasi karya tidak berhenti pada pengamatan visual semata. Pada sesi pembukaan dan tur pers, sejumlah Duta Besar serta perwakilan negara peserta turut membagikan latar belakang cerita di balik foto-foto yang ditampilkan.
Francisco Jose Masis Holdridge, Kuasa Usaha ad interim Kosta Rika, misalnya, menjelaskan karya-karya yang memperlihatkan lanskap negerinya—negara yang dikenal memiliki jajaran gunung berapi sekaligus ibu kota San José yang modern, namun tetap dikelilingi pegunungan dan pepohonan hijau.


Dari Peru, fotografer Gabriel Barreto Bentin menampilkan lanskap ikonik Machu Picchu berdampingan dengan potret kehidupan masyarakat tradisional Peru yang mengenakan pakaian khas mereka.
Sementara itu, Duta Besar Uruguay, Cristina González, mengulas karya fotografi yang menghadirkan lanskap Uruguay pada malam hari, di mana pendaran cahaya di langit memberikan karakter yang tenang sekaligus dramatis pada gambar.

Melihat Amerika Latin Melalui Manusia dan Lingkungannya
Salah satu kekuatan utama fotografi adalah kemampuannya menyampaikan cerita tanpa harus selalu mengandalkan banyak kata.
Sebuah lanskap dapat bertutur tentang keharmonisan manusia dengan alam. Sebuah tradisi memperlihatkan bagaimana warisan budaya dirawat dari generasi ke generasi. Sementara potret kehidupan sehari-hari menunjukkan sisi Amerika Latin yang mungkin tidak selalu terlihat dalam gambaran umum media massa.
Dalam konteks inilah Constelaciones Vivas menjadi menarik. Pameran ini tidak hanya mengajak pengunjung melihat tempat-tempat yang jauh dari Nusantara, tetapi juga mencermati hubungan antara manusia, lingkungan, tradisi, dan kehidupan modern.
Beberapa foto menyampaikan kesan tersebut secara bersahaja. Foto-foto dari Kosta Rika, misalnya, memperlihatkan lanskap alam sekaligus kawasan San José yang berkembang sebagai kota modern. Kehadiran pepohonan hijau di tengah perkotaan memberi gambaran bahwa alam dan modernitas tidak selalu harus dipertentangkan; keduanya dapat berjalan berdampingan ketika lingkungan tetap diberi ruang dan dijaga.
Dari Peru, perhatian tidak hanya tertuju pada megahnya pegunungan dan situs Machu Picchu, tetapi juga pada masyarakat yang menghidupinya. Warga lokal berpakaian tradisional berwarna-warni—baik orang tua maupun gadis-gadis muda—tampil bersahaja. Foto-foto tersebut memberi kesan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu yang kaku, melainkan bagian hidup yang terus dirayakan dalam keseharian.
Uruguay menghadirkan narasi yang berbeda. Kekuatan foto-fotonya terletak pada bentangan langit: pendaran cahaya, gugusan bintang, dan awan yang membentang di atas laut maupun pegunungan. Lanskap tersebut memperlihatkan sisi alam Uruguay yang tenang sekaligus dramatis saat cahaya langit menjadi narator utama.
Sementara itu, foto gadis-gadis Meksiko menghadirkan suasana yang penuh keceriaan. Busana sehari-hari mereka yang penuh warna menampilkan ekspresi budaya yang hangat dan hidup.

Perbedaan geografis dan budaya antarnegara memang terlihat jelas. Namun saat menikmati foto-foto ini secara menyeluruh, muncul sejumlah hal yang terasa dekat dengan Indonesia: alam yang indah, tradisi yang terjaga, masyarakat yang hangat, serta semangat modernitas yang terus berkembang.
Tentu saja, setiap negara memiliki konteks sejarah dan sosial yang berbeda. Namun fotografi mampu mendekatkan persamaan-persamaan tersebut. Kita dapat melihat bagaimana masyarakat di seberang samudra juga berjuang menjaga harmoni dengan alam dan tradisi di tengah arus perubahan zaman.
Mungkin di sinilah letak pesan paling berkesan dari pameran ini: modernitas tidak harus mengasingkan kita dari alam, dan kemajuan zaman tidak selalu harus mengikis tradisi. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keduanya berjalan selaras.
Gagasan ini terasa sangat relevan bagi publik Indonesia. Sebagai bangsa yang kaya akan alam dan tradisi namun juga tengah bergerak menuju kota-kota modern, perjumpaan dengan foto-foto Amerika Latin tidak hanya membawa kita melihat dunia luar, tetapi juga mengajak kita bercermin pada diri sendiri.
Di antara perbedaan yang ada, kita menemukan kesamaan sederhana: keinginan untuk terus berkembang tanpa kehilangan pijakan pada alam, budaya, dan identitas yang membentuk kehidupan kita.
Dari Ruang Pamer Menuju Dialog Budaya
Bagi pihak penyelenggara, pameran ini membawa dimensi yang lebih luas daripada sekadar apresiasi seni visual.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, memandang pameran seni sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif, pengalaman, dan nilai budaya. Menurutnya, interaksi semacam ini merupakan bentuk soft diplomacy yang penting dalam mempererat hubungan antarbangsa.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa kebudayaan memegang peran strategis dalam hubungan internasional. Diplomasi tidak selalu berlangsung di meja perundingan resmi. Pertemuan antarwarga melalui seni, fotografi, film, dan ekspresi budaya justru mampu menciptakan ruang komunikasi yang lebih cair dan hangat.

Hal senada disampaikan Duta Besar Uruguay, Cristina González, yang mewakili negara-negara peserta. Menurutnya, penyelenggaraan edisi kedua Pameran Fotografi Amerika Latin di Jakarta ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat jalinan budaya antara masyarakat Amerika Latin dan Indonesia.
Harapannya, Constelaciones Vivas dapat membuka ruang dialog baru sekaligus merayakan keberagaman warisan budaya yang terus tumbuh di kawasan Amerika Latin.
Ketika Budaya Menjadi Jembatan
Mempertemukan sembilan negara Amerika Latin dalam satu ruang pamer di Jakarta memberikan kesan tersendiri.
Jarak geografis antara Indonesia dan Amerika Latin memang membentang jauh. Latar belakang sejarah dan budayanya pun penuh perbedaan. Namun ketika karya-karya fotografi dipajang berdampingan, kesamaan nilai-nilai kemanusiaan justru menjadi lebih benderang.
Kita sama-sama memiliki keterikatan dengan tanah kelahiran, merawat warisan leluhur, serta memiliki cara tersendiri dalam memaknai alam, keluarga, komunitas, dan keseharian.
Melalui pameran ini, terlihat pula dorongan kuat dari negara-negara peserta untuk menjajaki hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Perjumpaan budaya ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi kerja sama yang lebih luas, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun pariwisata dua arah.
Di sinilah makna Constelaciones Vivas menemukan bentuk utuhnya.
Konstelasi tidak terbentuk karena bintang-bintangnya serupa. Justru karena masing-masing memiliki posisi dan pendar cahaya tersendiri, mereka mampu membentuk gambaran yang indah saat dipandang bersama.
Begitu pula dengan sembilan negara yang hadir di pameran ini. Masing-masing membawa kisahnya sendiri. Namun saat dipadukan di Jakarta, terbentuklah gambaran utuh tentang Amerika Latin—beragam, penuh warna, dan terus berkembang.
Pada akhirnya, fotografi tidak hanya mengajak kita memandang tempat yang jauh, melainkan juga menemukan persamaan di tengah perbedaan. Dari sanalah hubungan antarmasyarakat dapat bermula: dari rasa ingin tahu, keinginan untuk saling memahami, serta kesediaan untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda.


Informasi Pameran
- Judul Pameran: Constelaciones Vivas – Stories and Identity of Latin America
- Lokasi: Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat
- Periode: 18 September – 11 Oktober 2026
- Jam Operasional:
- Selasa–Kamis: 10.00–18.00 WIB
- Jumat–Minggu: 10.00–20.00 WIB
- Tutup setiap hari Senin
- Harga Tiket:
- Rp10.000: Pelajar (PAUD hingga Mahasiswa)
- Rp20.000: Dewasa WNI & Pemegang KITAS
- Rp50.000: Pengunjung WNA
- Gratis (Rp0): Anak usia < 3 tahun, lansia > 60 tahun, penyandang disabilitas, anak yatim-piatu, pemegang KIP/KIPK, dan pemandu rombongan.
- Diskon 20% berlaku untuk kunjungan rombongan minimal 30 orang.
- Program Pendukung: Rangkaian agenda publik seperti artist talk dan pemutaran film di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia. Informasi jadwal diumumkan melalui Instagram @galerinasional dan akun resmi kedutaan penyelenggara.

