(Business Lounge – General Management) Ada satu bagian dari sebuah perusahaan yang tidak pernah bisa sepenuhnya ditangkap oleh laporan keuangan. Angka dapat menunjukkan berapa besar pendapatan, laba, utang, arus kas, dan tingkat pengembalian modal yang berhasil diciptakan. Namun angka-angka itu tidak selalu menjawab pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang membuat keputusan di balik semuanya, bagaimana mereka berpikir, dan apa yang akan mereka lakukan ketika keadaan berubah? Bagi Warren Buffett, pertanyaan semacam ini bukan pelengkap dalam proses investasi. Ia justru menjadi salah satu bagian penting ketika menilai sebuah bisnis. Dalam pendekatan yang dijelaskan dalam The Warren Buffett Way, Buffett menilai manajemen melalui tiga sifat utama: apakah mereka rasional, apakah mereka terbuka kepada pemegang saham, dan apakah mereka mampu menolak kecenderungan perusahaan untuk sekadar mengikuti tindakan perusahaan lain.
Bagi Buffett, membeli saham pada dasarnya berarti membeli bagian dari sebuah bisnis. Karena itu, kualitas orang-orang yang menjalankan bisnis tersebut ikut menentukan kualitas investasi. Ia tidak hanya bertanya apakah perusahaan memiliki produk bagus atau sejarah keuntungan yang panjang, tetapi juga ingin mengetahui apakah para pengelolanya berpikir seperti pemilik perusahaan. Manajer yang memiliki cara berpikir seperti pemilik cenderung tidak mudah terjebak oleh ambisi memperbesar perusahaan hanya demi ukuran, pendapatan, atau gengsi. Mereka lebih mungkin bertanya apakah setiap keputusan benar-benar meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan inilah yang membuat penilaian terhadap manajemen menjadi bagian penting dalam keseluruhan metode Buffett.
Rasionalitas Dimulai dari Cara Menggunakan Uang
Salah satu pekerjaan paling penting seorang manajemen bukan sekadar menghasilkan laba, melainkan menentukan apa yang dilakukan terhadap laba tersebut. Ketika perusahaan menghasilkan uang lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis, manajemen menghadapi pilihan yang menentukan masa depan perusahaan. Uang tersebut dapat diinvestasikan kembali ke bisnis, digunakan untuk melakukan akuisisi, atau dikembalikan kepada pemegang saham. Buffett melihat keputusan semacam ini sebagai ujian terhadap rasionalitas manajemen.
Masalahnya muncul ketika perusahaan terus menanamkan modal pada bisnis yang hanya mampu memberikan tingkat pengembalian rata-rata atau bahkan di bawah rata-rata. Jika modal tambahan tidak mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai dibandingkan biaya modalnya, mempertahankan uang tersebut di dalam perusahaan menjadi sulit dibenarkan secara ekonomi. Namun dalam praktiknya, keputusan seperti ini cukup sering terjadi. Manajemen bisa merasa bahwa pertumbuhan akan segera membaik, bahwa proyek baru akan menyelesaikan masalah, atau bahwa ekspansi lebih menarik daripada mengakui bahwa perusahaan sudah tidak mempunyai banyak peluang reinvestasi yang menguntungkan. Di sinilah Buffett mencari perbedaan antara manajemen yang sekadar aktif dan manajemen yang benar-benar rasional.
Rasionalitas juga berkaitan dengan kemampuan seorang CEO mengalokasikan modal. Seorang manajer dapat sangat hebat dalam pemasaran, produksi, teknologi, atau operasi, tetapi keahlian tersebut belum tentu berarti ia mampu menentukan penggunaan modal perusahaan secara optimal. Buku tersebut mencatat bahwa banyak CEO mencapai posisi puncak karena unggul dalam bidang operasional tertentu, tetapi memiliki pengalaman yang lebih terbatas dalam alokasi modal. Ketika keputusan semacam itu kemudian diserahkan kepada staf, konsultan, atau bank investasi, tekanan untuk melakukan transaksi atau ekspansi dapat semakin besar.
Keterbukaan Menunjukkan Karakter Manajemen
Setelah rasionalitas, Buffett memperhatikan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur dengan angka: keterbukaan. Cara manajemen berbicara kepada pemegang saham dapat memberikan petunjuk mengenai bagaimana mereka memandang tanggung jawabnya. Manajemen yang terbuka tidak hanya menceritakan keberhasilan, tetapi juga menjelaskan kegagalan. Mereka tidak berusaha menyembunyikan masalah dengan bahasa yang terlalu optimistis atau hanya menampilkan ukuran kinerja yang menguntungkan.
Bagi Buffett, laporan kepada pemegang saham seharusnya membantu investor memahami setidaknya tiga hal penting: kira-kira berapa nilai perusahaan, seberapa besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya di masa depan, dan seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan berdasarkan kondisi yang mereka hadapi. Artinya, laporan perusahaan bukan sekadar alat untuk memoles citra. Informasi tersebut seharusnya memungkinkan pemilik modal memahami realitas ekonomi bisnis secara lebih jernih.
Keterbukaan menjadi semakin penting ketika perusahaan melakukan kesalahan. Setiap bisnis pasti pernah membuat keputusan yang keliru. Ada investasi yang tidak berjalan sesuai harapan, akuisisi yang ternyata terlalu mahal, strategi yang gagal, atau peluang yang terlewatkan. Perbedaan antara manajemen yang matang dan yang tidak matang dapat terlihat dari cara mereka menghadapi kenyataan tersebut. Manajemen yang hanya ingin mempertahankan citra keberhasilan akan cenderung mencari alasan. Sebaliknya, manajemen yang benar-benar berorientasi pada pemilik akan lebih bersedia mengakui apa yang salah dan menjelaskan apa yang dipelajari dari kesalahan tersebut.
Bahaya Terbesar Datang dari Kerumunan
Sifat ketiga yang diperhatikan Buffett adalah kemampuan manajemen untuk menolak apa yang disebut institutional imperative. Istilah ini menggambarkan kecenderungan perusahaan untuk mengikuti perilaku perusahaan lain hanya karena perusahaan lain melakukannya. Ketika seluruh industri melakukan ekspansi, perusahaan merasa harus ikut berekspansi. Ketika pesaing melakukan akuisisi, manajemen mulai mencari perusahaan yang bisa dibeli. Ketika perusahaan lain menaikkan kompensasi eksekutif, standar tersebut ikut diikuti. Perlahan-lahan keputusan bisnis tidak lagi ditentukan oleh logika ekonomi, melainkan oleh perilaku kelompok.
Menurut buku tersebut, dorongan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Organisasi menjadi sulit mengubah arah meskipun strategi lama tidak lagi efektif. Proyek baru bermunculan untuk menghabiskan dana yang tersedia. Keinginan seorang pemimpin dapat memperoleh pembenaran melalui berbagai analisis yang disiapkan oleh bawahannya. Bahkan keputusan perusahaan lain dapat ditiru tanpa benar-benar mempertanyakan apakah keputusan tersebut masuk akal untuk kondisi perusahaan sendiri. Buffett melihat bahwa perilaku semacam ini bukan selalu akibat ketidakjujuran atau kurangnya kecerdasan. Sering kali sumbernya justru berasal dari sifat manusia yang tidak ingin terlihat berbeda atau salah ketika orang lain tampak melakukan hal yang sama.
Contoh yang menarik dalam buku adalah Jack Ringwalt dari National Indemnity. Ketika perusahaan asuransi lain menulis polis dengan persyaratan yang berpotensi menghasilkan pengembalian yang tidak memadai, Ringwalt memilih untuk tidak mengikuti arus pasar. Ia menolak menulis bisnis baru ketika kondisi tidak memberikan imbal hasil yang layak. Bagi Buffett, keputusan tersebut menunjukkan sesuatu yang sangat penting: hanya karena semua orang melakukan sesuatu, bukan berarti tindakan tersebut menjadi benar.
Membaca Manajemen Sebelum Angka Berbicara
Menilai manajemen memang jauh lebih sulit dibandingkan menghitung margin laba atau return on equity. Angka memiliki satuan, rumus, dan periode pengukuran. Manusia jauh lebih kompleks. Namun buku ini justru menekankan bahwa mengamati kata-kata dan tindakan manajemen dapat memberikan sinyal lebih awal mengenai kemungkinan kinerja keuangan perusahaan pada masa mendatang. Cara seorang CEO menjelaskan kegagalan, menggunakan modal, memperlakukan pemegang saham, dan merespons perilaku pesaing dapat menjadi petunjuk sebelum dampaknya terlihat jelas dalam laporan keuangan.
Karena itu, membaca laporan tahunan bagi investor bukan hanya kegiatan mencari angka laba bersih atau pertumbuhan pendapatan. Ada cerita yang lebih dalam di antara angka-angka tersebut. Investor dapat memperhatikan bagaimana manajemen menjelaskan keputusan besar, apakah mereka konsisten dengan keputusan masa lalu, bagaimana mereka berbicara tentang kesalahan, dan apakah mereka menggunakan modal perusahaan seolah-olah itu uang milik sendiri. Dari sinilah karakter manajemen mulai terlihat.
Pendekatan Buffett juga mengingatkan bahwa perusahaan yang hebat tidak otomatis menjadi investasi yang hebat. Bisnis yang bagus membutuhkan pengelola yang mampu menjaga kualitas ekonominya, mengalokasikan modal secara rasional, berbicara jujur kepada pemilik, dan memiliki keberanian untuk berdiri sendiri ketika tekanan industri mendorong semua orang ke arah yang sama. Dalam kerangka The Warren Buffett Way, tiga pertanyaan tentang manajemen—rasional atau tidak, terbuka atau tidak, dan mampu melawan institutional imperative atau tidak—menjadi semacam jendela untuk melihat apa yang terjadi di balik angka-angka perusahaan.
Investor tidak pernah benar-benar membeli sekumpulan angka. Di balik pendapatan, laba, aset, dan arus kas selalu ada keputusan manusia. Ada seseorang yang menentukan apakah keuntungan akan ditanam kembali, disimpan, dibagikan, atau digunakan untuk membeli perusahaan lain. Ada seseorang yang memutuskan bagaimana menjelaskan kegagalan kepada pemegang saham. Dan ada seseorang yang harus memilih apakah akan mengikuti kerumunan atau berjalan ke arah yang berbeda. Bagi Buffett, memahami siapa orang tersebut dan bagaimana mereka berpikir dapat menjadi bagian penting dari upaya memahami nilai sebuah bisnis.

