Lululemon

Lululemon Kehilangan Momentum Saat Konsumen Berubah

(Business Lounge – Global News) Lululemon memasuki fase paling sulit dalam perjalanan pertumbuhannya. Perusahaan yang selama bertahun-tahun berhasil menjadikan pakaian olahraga sebagai bagian dari gaya hidup premium kini harus menghadapi penurunan penjualan, perubahan selera konsumen, persaingan yang semakin agresif, dan pergantian CEO. Yang membuat situasinya semakin serius, pelemahan tersebut terjadi di pasar Amerika, wilayah yang selama ini menjadi fondasi utama bisnis Lululemon.

Dalam laporan kuartal kedua 2026, Lululemon mencatat pendapatan sekitar US$2,4 miliar, turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan sebanding atau comparable sales turun 9%, sementara bisnis di Amerika mengalami tekanan yang lebih besar. Perusahaan kini memperkirakan pendapatan sepanjang 2026 hanya berada pada kisaran US$10,35 miliar hingga US$10,50 miliar, jauh di bawah proyeksi sebelumnya sebesar US$11 miliar hingga US$11,15 miliar.

Pemangkasan tersebut merupakan yang kedua pada tahun ini. Bagi investor, masalahnya bukan sekadar penurunan angka penjualan, melainkan semakin sulitnya melihat kapan pertumbuhan Lululemon dapat kembali normal. Reuters mencatat bahwa saham perusahaan sempat jatuh sekitar 18% setelah laporan tersebut dan mencapai level terendah dalam sekitar delapan tahun. Saham Lululemon juga telah kehilangan lebih dari separuh nilainya sepanjang tahun berjalan.

Tekanan terbesar terlihat pada produk yang selama ini menjadi simbol Lululemon. Penjualan legging dilaporkan turun sekitar 20% pada kuartal tersebut. Perubahan ini penting karena kategori pakaian perempuan menyumbang bagian besar dari bisnis perusahaan. Konsumen mulai menunjukkan preferensi terhadap model yang lebih longgar, sementara sejumlah produk baru Lululemon tidak berhasil menghasilkan momentum yang diharapkan.

Perubahan selera tersebut menunjukkan bahwa tantangan Lululemon bukan hanya persoalan ekonomi atau daya beli. Perusahaan sedang menghadapi persoalan relevansi produk. Selama bertahun-tahun, Lululemon memiliki posisi kuat karena mampu menciptakan produk yang tidak hanya digunakan untuk olahraga, tetapi juga menjadi simbol gaya hidup. Namun ketika konsumen mulai beralih ke siluet yang berbeda dan mencari desain baru, keunggulan produk lama dapat berubah menjadi keterbatasan.

Persaingan juga semakin berat. Alo Yoga dan Vuori telah berkembang menjadi pesaing serius dalam pasar athleisure, terutama karena keduanya mampu menarik konsumen yang mencari kombinasi antara pakaian olahraga, fashion dan identitas gaya hidup. Reuters mencatat bahwa pangsa pasar Lululemon di kategori tersebut telah tergerus, sementara pesaingnya memperoleh momentum.

Situasi ini menciptakan masalah lain. Lululemon masih memiliki struktur bisnis yang dibangun untuk pertumbuhan. Perusahaan telah memperluas jaringan toko dan kapasitas fisiknya ketika penjualan masih berkembang pesat. Kini, ketika pertumbuhan melemah, investasi tersebut berpotensi menjadi beban. Barron’s menilai bahwa strategi ekspansi toko yang agresif menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan ketika perusahaan mencoba menyesuaikan struktur biaya dengan kondisi permintaan yang lebih lemah.

Perusahaan sebenarnya masih mempunyai neraca yang relatif kuat. Pada akhir kuartal kedua, Lululemon memiliki sekitar US$1,4 miliar kas dan setara kas serta kapasitas sekitar US$593,7 juta dari fasilitas kredit bergulir. Persediaan juga turun 1% secara nilai dan 7% berdasarkan unit dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, perusahaan tidak sedang menghadapi persoalan likuiditas. Tantangan utamanya adalah bagaimana menggunakan kekuatan finansial tersebut untuk mengembalikan daya tarik merek.

Pergantian kepemimpinan menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Heidi O’Neill, mantan eksekutif Nike, mulai mengambil alih sebagai CEO pada 8 September 2026. Ia masuk pada saat yang sangat berbeda dari kondisi ketika Lululemon membangun reputasinya sebagai salah satu merek dengan pertumbuhan tercepat di industri pakaian olahraga. Tugasnya bukan sekadar meningkatkan penjualan, tetapi menentukan kembali produk apa yang ingin dijual perusahaan dan kepada konsumen seperti apa.

Perusahaan sendiri telah mengindikasikan bahwa strategi berikutnya akan berfokus pada penguatan produk, peningkatan investasi pemasaran dan disiplin biaya. Namun, masalah terbesar mungkin berada pada produk, bukan pemasaran. Kampanye yang lebih besar tidak akan banyak membantu jika konsumen tidak lagi melihat produk Lululemon sebagai pilihan yang paling menarik.Hal tersebut menjelaskan mengapa kuartal berikutnya akan menjadi sangat penting. Lululemon memperkirakan pendapatan kuartal ketiga hanya sekitar US$2,29 miliar hingga US$2,32 miliar, yang berarti penurunan 10% hingga 11%. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa manajemen belum melihat pemulihan dalam waktu dekat.

Namun, krisis ini juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan reset. Lululemon masih memiliki merek yang kuat, basis pelanggan global, kemampuan pengembangan material teknis dan jaringan distribusi yang luas. Perusahaan juga masih memiliki sumber daya keuangan untuk melakukan investasi selektif.Pertanyaannya sekarang bukan apakah Lululemon dapat bertahan. Dengan posisi keuangan dan kekuatan mereknya, persoalan tersebut relatif berbeda. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah Lululemon mampu menemukan kembali alasan konsumen memilih produknya ketika pasar athleisure tidak lagi didominasi oleh satu merek.

Jika O’Neill berhasil mengembalikan relevansi produk sekaligus memperbaiki struktur biaya, penurunan tajam saham dapat menjadi titik awal restrukturisasi yang lebih sehat. Tetapi jika masalah produk, persaingan dan perubahan selera konsumen berlangsung bersamaan, pemulihan Lululemon bisa membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada yang diharapkan investor.