Jepang

Itochu Bidik 10 Data Center, Trading House Jepang Ikut Berebut Cuan AI

(Business Lounge Journal – Global News)

Ledakan kebutuhan komputasi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta bisnis infrastruktur Jepang. ITOCHU Corporation, salah satu trading house terbesar di Jepang, kini membidik bisnis data center dengan rencana mengembangkan hingga 10 fasilitas di berbagai wilayah negara tersebut.

Langkah ini memperlihatkan ambisi Itochu untuk menangkap pertumbuhan ekonomi digital sekaligus memperluas bisnisnya ke sektor infrastruktur yang memiliki prospek pendapatan jangka panjang.

Itochu merupakan salah satu sogo shosha terbesar di Jepang, dengan sejarah bisnis yang membentang lebih dari 160 tahun. Perusahaan yang berdiri pada 1858 ini memiliki portofolio luas, mulai dari tekstil, makanan, energi, bahan kimia dan mesin hingga keuangan, teknologi serta infrastruktur.

Kini, perusahaan tersebut melihat data center sebagai salah satu aset strategis generasi baru.

Permintaan terhadap fasilitas komputasi meningkat seiring ekspansi AI generatif, layanan cloud dan berbagai aplikasi yang membutuhkan pemrosesan data dalam skala besar. Jepang pun berlomba memperkuat kapasitas digital domestiknya, menciptakan peluang bagi investor dan perusahaan infrastruktur.

Mengincar Kekuatan JR East

Untuk menjalankan ekspansi tersebut, Itochu berharap dapat bekerja sama dengan East Japan Railway Company (JR East) melalui perusahaan patungan baru.

Kemitraan ini menarik karena kekuatan kedua perusahaan saling melengkapi. Itochu memiliki kemampuan investasi, jaringan bisnis dan pengalaman mengelola proyek lintas sektor, sedangkan JR East menguasai jaringan infrastruktur serta aset properti yang tersebar luas di Jepang.

Bagi bisnis data center, lokasi menjadi faktor krusial. Sebuah fasilitas tidak cukup hanya memiliki lahan. Infrastruktur tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan besar, jaringan telekomunikasi berkapasitas tinggi serta konektivitas yang memadai.

Aset JR East berpotensi memberikan Itochu akses terhadap lokasi strategis sekaligus membuka peluang pemanfaatan aset yang sebelumnya lebih banyak terkait dengan bisnis transportasi dan properti.

Dari Perdagangan ke Infrastruktur Digital

Rencana hingga 10 fasilitas juga menunjukkan bahwa Itochu tidak sekadar ingin menjadi investor pasif. Perusahaan tampaknya ingin membangun portofolio data center yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan komputasi Jepang.

Strategi tersebut sejalan dengan perubahan model bisnis trading house Jepang. Perusahaan seperti Itochu semakin aktif bergerak dari perdagangan barang menuju investasi pada bisnis yang menghasilkan pendapatan berulang dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

Data center memenuhi karakteristik tersebut. Setelah fasilitas beroperasi, kapasitasnya dapat disewakan kepada operator cloud, perusahaan teknologi, maupun pengguna korporasi yang membutuhkan kemampuan komputasi dan penyimpanan data.

Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan besar. Pembangunan data center membutuhkan investasi modal yang tinggi, sementara persaingan untuk mendapatkan lahan, listrik, dan kapasitas jaringan semakin ketat.

Di sinilah skala dan jaringan Itochu dapat menjadi keunggulan. Dengan menggandeng pemilik aset besar seperti JR East, perusahaan berupaya mengurangi salah satu hambatan utama dalam ekspansi data center: menemukan lokasi yang memenuhi kebutuhan infrastruktur.

Jika terealisasi, ekspansi hingga 10 fasilitas akan menjadi langkah penting bagi Itochu untuk menempatkan dirinya lebih dekat dengan pusat pertumbuhan ekonomi AI Jepang.

Bagi trading house berusia lebih dari satu setengah abad tersebut, data center bukan lagi sekadar bisnis properti atau teknologi. Ini adalah taruhan pada infrastruktur yang akan menopang gelombang AI Jepang berikutnya.