(Business Lounge – Global News) Persaingan Ford dan General Motors memasuki babak yang berbeda. Dua raksasa otomotif Detroit yang selama lebih dari satu abad bersaing dalam penjualan, teknologi, tenaga kerja, dan pangsa pasar kini juga berlomba membuktikan siapa yang paling layak disebut sebagai pembuat mobil Amerika. The Wall Street Journal melaporkan bahwa perang dagang pemerintahan Donald Trump telah membuat kedua perusahaan saling berhadapan dalam lobi kebijakan, terutama mengenai tarif kendaraan impor, bahan baku, baterai, dan komponen dari luar negeri.
Di balik pertarungan tarif terdapat perbedaan strategi industri yang semakin tajam.
Ford memiliki argumen sederhana: lebih banyak kendaraan yang dijualnya di Amerika Serikat dibuat di Amerika Serikat. Sekitar 80% kendaraan Ford yang dijual di pasar domestik dirakit di dalam negeri, sementara perusahaan tersebut juga merupakan salah satu pemberi kerja terbesar bagi pekerja otomotif berbasis upah. The Wall Street Journal mencatat bahwa Ford menggunakan posisi tersebut untuk mendorong tarif lebih tinggi terhadap kendaraan dari Korea Selatan, negara tempat GM memproduksi sekitar 400.000 kendaraan yang kemudian diimpor ke Amerika Serikat.
GM membalas dengan definisi yang berbeda mengenai apa artinya menjadi perusahaan Amerika. Perusahaan menekankan total kontribusinya terhadap tenaga kerja Amerika, termasuk karyawan tetap dan pekerja pabrik. GM juga berusaha menampilkan dirinya sebagai produsen yang lebih mandiri dalam teknologi baterai, terutama dibandingkan Ford yang bekerja sama dengan CATL dari China dalam proyek baterai di Michigan. Dengan demikian, perdebatan tersebut tidak lagi hanya mengenai lokasi pabrik, tetapi juga mengenai asal teknologi yang digunakan untuk membangun kendaraan masa depan.
Perbedaan tersebut membuat perang dagang justru membuka kembali persaingan lama Detroit.
Ford sendiri memiliki kepentingan besar terhadap kebijakan tarif bahan baku. Perusahaan merupakan pengguna aluminium terbesar di industri otomotif Amerika Serikat, terutama untuk kendaraan seperti F-150. Ketika aluminium impor menghadapi tarif tinggi, biaya produksi Ford ikut terdampak. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Ford telah meminta keringanan atas tarif aluminium, terutama setelah gangguan pada salah satu pemasok domestiknya membuat perusahaan lebih bergantung pada aluminium impor.
GM mengambil posisi berbeda. Perusahaan mengkritik ketergantungan Ford terhadap teknologi baterai China dan bahkan sebelumnya berusaha menentang pendanaan federal untuk fasilitas baterai Ford-CATL di Michigan. Pada saat yang sama, GM juga tidak sepenuhnya terbebas dari China. Perusahaan masih menggunakan baterai dari China untuk membantu menekan biaya kendaraan listrik tertentu, sembari mengembangkan teknologi baterai sendiri di Amerika Serikat.
Inilah paradoks terbesar dalam upaya menjadi “paling Amerika”.
Hampir tidak ada produsen otomotif modern yang sepenuhnya domestik. Kendaraan Amerika membutuhkan bahan baku, baterai, semikonduktor, mesin, transmisi, dan komponen dari berbagai negara. Bahkan ketika sebuah mobil dirakit di Amerika Serikat, sebagian kandungannya tetap berasal dari rantai pasok internasional. Brookings Institution mencatat bahwa industri otomotif merupakan salah satu industri yang paling terintegrasi secara regional di Amerika Utara dan menyerap bagian besar dari produksi baja, semikonduktor, serta baterai lithium-ion. (Brookings)
Karena itu, klaim mengenai siapa yang paling Amerika tidak mudah diukur. Apakah berdasarkan jumlah kendaraan yang dirakit di Amerika Serikat? Jumlah pekerja domestik? Nilai investasi? Kandungan komponen lokal? Kepemilikan perusahaan? Atau teknologi yang digunakan? Setiap ukuran dapat menghasilkan pemenang yang berbeda.
Tarif kemudian menjadi alat untuk mengubah perbedaan tersebut menjadi keunggulan kompetitif.
Ford ingin kebijakan perdagangan yang membuat kendaraan impor GM dari Korea Selatan menjadi lebih mahal. GM, sebaliknya, ingin pemerintah memperketat aturan mengenai teknologi dan komponen China yang digunakan dalam kendaraan Ford. Keduanya pada dasarnya menggunakan kebijakan perdagangan untuk melindungi model bisnis masing-masing. The Wall Street Journal menggambarkan kondisi ini sebagai perubahan besar dibandingkan masa lalu, ketika tiga perusahaan besar Detroit lebih sering mengambil posisi bersama dalam isu industri utama.
Persaingan tersebut berlangsung ketika Amerika Serikat dan Kanada juga menghadapi ketegangan perdagangan yang semakin tinggi. Washington telah mengenakan tambahan tarif 50% terhadap sejumlah produk Kanada melalui Section 338, dengan pemerintah AS menyatakan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk merespons perlakuan Kanada terhadap perdagangan Amerika. Gedung Putih mengatakan tarif tersebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan produsen dan pekerja Amerika.
Masalahnya, rantai pasok Ford dan GM sendiri tidak mengenal batas politik sesederhana itu.
Kanada merupakan bagian penting dari produksi kedua perusahaan. Ford, misalnya, telah menginvestasikan sekitar US$3 miliar untuk memperluas fasilitas Ontario yang memproduksi F-Series Super Duty. Ketika Washington mengancam tarif kendaraan dan komponen Kanada hingga 50%, investasi tersebut justru ikut terkena risiko. MarketWatch mencatat bahwa tarif baru dapat meningkatkan biaya produksi dan mengganggu perencanaan rantai pasok Ford.
GM juga tidak dapat dengan mudah memutus ketergantungannya terhadap Kanada. Bahkan pada akhir Agustus, perusahaan mencapai kesepakatan tentatif dengan serikat pekerja Unifor yang mencakup investasi C$1,1 miliar di fasilitas Ontario. Menurut Reuters, investasi itu mencakup produksi generasi berikutnya GMC Sierra di Oshawa, transmisi baru di St. Catharines, serta komitmen mempertahankan fasilitas CAMI di Ingersoll.
Dengan kata lain, menjadi lebih Amerika tidak berarti menjadi sepenuhnya domestik.
Ironisnya, Ford dan GM justru memiliki kepentingan yang sama dalam satu isu besar: mempertahankan integrasi perdagangan Amerika Utara. Keduanya membutuhkan USMCA agar kendaraan dan komponen yang diproduksi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tetap dapat bergerak dengan biaya serendah mungkin. Reuters melaporkan bahwa produsen otomotif Amerika sedang berupaya menghindari perubahan aturan USMCA yang berpotensi menambah biaya miliaran dolar per tahun.
Pada akhirnya, persaingan Ford dan GM memperlihatkan bahwa label “paling Amerika” kini memiliki nilai ekonomi yang nyata. Di tengah politik tarif, asal sebuah baterai, lokasi sebuah pabrik, jumlah pekerja domestik, hingga negara tempat sebuah kendaraan dirakit dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran sekaligus lobi politik.
Pertarungan ini bukan sekadar soal patriotisme, tetapi siapa yang paling siap menghadapi industri berikutnya.
Ford dan GM sedang memasuki era ketika kendaraan listrik, baterai, kecerdasan buatan, perdagangan internasional, dan kebijakan industri saling bertemu. Perusahaan yang berhasil membangun rantai pasok domestik yang efisien memang akan memiliki keunggulan. Tetapi perusahaan yang terlalu cepat memutus hubungan dengan pemasok global juga dapat kehilangan efisiensi dan menaikkan harga bagi konsumen. Karena itu, pertanyaan sebenarnya bukan siapa yang paling Amerika, melainkan siapa yang mampu membangun industri Amerika yang tetap kompetitif di dunia yang semakin terfragmentasi.

