(Business Lounge Journal – Interview Session)
Jerman kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui pengembangan energi hijau dan energi terbarukan. Hal tersebut disampaikan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali-Radovan, dalam kunjungannya ke Jakarta pada 18–20 Agustus 2026.
Dalam wawancara dengan Business Lounge Journal, Alabali-Radovan mengatakan hubungan kerja sama Indonesia dan Jerman di bidang energi telah berlangsung selama sekitar 30 tahun. Menurutnya, kunjungan ke Indonesia menjadi momentum untuk memperkuat kembali kemitraan kedua negara, terutama dalam kerja sama ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.
Kami telah bekerja sama dengan Indonesia dalam waktu yang lama. Dalam hal energi, kami telah bekerja sama selama 30 tahun,” ujar Alabali-Radovan.
Ia menegaskan bahwa energi hijau dan energi terbarukan menjadi salah satu fokus utama dalam penguatan kerja sama tersebut. Jerman juga ingin mendorong semakin banyak perusahaan Jerman untuk hadir dan menjalankan kegiatan bisnis di sektor energi terbarukan Indonesia.
Menurut Alabali-Radovan, kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan investasi dan teknologi, tetapi juga dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan keterampilan tenaga kerja.
Kami ingin memperkuat bisnis-bisnis Jerman yang datang ke Indonesia dan bekerja di sektor tersebut, sekaligus menciptakan lapangan kerja serta pelatihan vokasi bagi generasi muda di Indonesia,” katanya.
Jerman Dukung Visi Presiden Indonesia
Salah satu perhatian utama dalam pernyataan Alabali-Radovan adalah dukungan terhadap visi Presiden Indonesia, khususnya dalam pengembangan energi surya.
Ia menyebut visi tersebut sangat penting dan menyampaikan apresiasinya terhadap arah kebijakan Indonesia dalam pengembangan energi surya. Jerman, lanjutnya, siap memberikan dukungan melalui kerja sama pembangunan maupun melalui keterlibatan perusahaan-perusahaan Jerman yang telah beroperasi di Indonesia.
Kami siap mendukungnya melalui kerja sama pembangunan kami, tetapi juga melalui perusahaan-perusahaan Jerman kami di Indonesia yang bekerja di bidang energi surya,” ujar Alabali-Radovan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama energi Indonesia-Jerman diarahkan tidak hanya pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga pada keterlibatan sektor swasta. Perusahaan Jerman diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan proyek dan teknologi energi terbarukan di Indonesia.
Membuka Peluang Kemitraan Baru
Penguatan keterlibatan sektor swasta menjadi semakin relevan seiring Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, dan kapasitas sumber daya manusia untuk mempercepat transisi energi. Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 yang berlangsung pada 19–20 Agustus di Fairmont Hotel Jakarta memang dirancang sebagai platform yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, investor, penyedia teknologi, akademisi, serta masyarakat sipil. Hari kedua ISEW secara khusus berfokus pada mobilisasi investasi swasta, inovasi, dan business matchmaking.
Alabali-Radovan berharap kehadiran perusahaan-perusahaan Jerman dalam ekosistem energi Indonesia dapat berkembang menjadi kemitraan baru.
Saya berharap mereka juga dapat berkomitmen pada kemitraan-kemitraan baru di sini pada Indonesia Sustainable Energy Week,” ujarnya.
ISEW 2026 sendiri menjadi salah satu platform utama kerja sama energi Indonesia-Jerman untuk menjembatani dialog kebijakan tingkat tinggi dengan keterlibatan dunia usaha, pengenalan teknologi, dan peluang investasi. Forum tersebut diselenggarakan bersama oleh Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian ESDM dengan dukungan Pemerintah Jerman dan GIZ.
Kerja sama ini juga memiliki konteks yang lebih luas. Jerman merupakan salah satu negara dalam Just Energy Transition Partnership (JETP) yang diluncurkan untuk membantu mempercepat transisi energi Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, Jerman mendukung pengembangan energi terbarukan dan jaringan listrik modern sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja dan peluang bagi perusahaan Jerman.
Dari Energi Surya hingga Pengembangan SDM
Peluang kerja sama Indonesia-Jerman di sektor energi juga semakin luas, mulai dari energi surya hingga pengembangan teknologi dan sumber daya manusia. Dalam rangkaian kunjungannya, Alabali-Radovan dijadwalkan menyaksikan sejumlah inisiatif kerja sama, termasuk fasilitas pendingin bertenaga surya di IPB University, sistem prakiraan cuaca untuk mendukung proyek Cirata Floating Solar PV, serta Green Hydrogen Academy yang didukung perusahaan Jerman Enapter dan lembaga pembiayaan pembangunan Jerman DEG.
Pengembangan energi surya menjadi salah satu peluang terbesar. Indonesia memiliki potensi teknis energi surya sekitar 3.294 GW, sementara kapasitas yang telah terpasang hingga Maret 2026 baru sekitar 1,6 GW. Kesenjangan tersebut menunjukkan besarnya ruang bagi investasi, teknologi, dan inovasi untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia.
Dengan dukungan Jerman, peluang tersebut dapat berkembang bukan hanya menjadi proyek energi bersih, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang mencakup investasi, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
Bagi Jerman, penguatan kerja sama energi dengan Indonesia sekaligus membuka pasar baru bagi perusahaan-perusahaan Jerman. Sementara bagi Indonesia, kemitraan tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk mengubah potensi energi terbarukan menjadi proyek nyata yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi.
Melalui Business Lounge Journal, Reem Alabali-Radovan menegaskan bahwa Jerman melihat masa depan kerja sama Indonesia-Jerman bukan hanya pada hubungan diplomatik, tetapi pada kemitraan konkret yang dapat mempercepat energi bersih, membuka peluang bisnis, dan mendukung visi Indonesia menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan.

