Industri perhotelan Nepal tengah memasuki babak baru. Marriott International, salah satu operator hotel terbesar di dunia, tengah menyiapkan kehadiran dua mereknya, Ritz-Carlton dan Westin, di Kathmandu, setelah menandatangani kerja sama dengan konglomerat perhotelan lokal. Langkah ini menandai masuknya Ritz-Carlton pertama kalinya ke negara di kaki Pegunungan Himalaya tersebut, sekaligus dianggap sebagai bukti bahwa sektor pariwisata Nepal tengah bergeser dari basis wisatawan hemat menuju wisatawan kelas atas.
Proyek unggulan dalam ekspansi ini adalah The Ritz-Carlton Kathmandu, hasil kemitraan antara Chaudhary Group melalui anak usahanya, CG Hospitality Global, dengan Marriott International. Peletakan batu pertama proyek senilai sekitar 100 juta dolar AS ini digelar akhir Maret 2026 di kawasan Thamel, pusat wisata Kathmandu, di atas lahan seluas sekitar sembilan ropani dekat Durbar Marg. Hotel ultra-mewah ini dirancang untuk memiliki 150 kamar, dilengkapi dengan residensi bermerek, kompleks komersial, dan kasino, dengan target operasional komersial pada pertengahan 2029.
Bagi Chaudhary Group, kelompok usaha terbesar di Nepal, investasi ini menjadi simbol kepercayaan sektor swasta terhadap pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri Balen Shah, sekaligus upaya mendongkrak standar pariwisata Nepal ke level internasional. Chairman Marriott International bahkan menyebut industri perhotelan Nepal sudah siap menampung lebih banyak segmen mewah.
Namun, tidak semua pihak seoptimis itu. Sejumlah pengamat memperingatkan adanya ketidaksesuaian antara pasokan dan permintaan di pasar perhotelan Nepal. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Data terbaru menunjukkan bahwa meski masa tinggal wisatawan asing di Nepal mencapai rekor rata-rata 16,34 hari pada 2025, pengeluaran harian mereka justru turun menjadi 33,09 dolar AS per hari, salah satu angka terendah yang pernah tercatat. Banyak hotel mewah bahkan masih menawarkan tarif kamar jauh di bawah level sebelum pandemi demi menjaring tamu.
Nepal kini memiliki lebih dari 1.600 hotel dengan kapasitas sekitar 64.000 kamar per malam, termasuk 222 properti berbintang. Para pelaku industri menyalahkan sejumlah faktor seperti lemahnya keselamatan transportasi, perang tarif antarhotel, hingga gejolak politik yang membuat wisatawan bernilai tinggi enggan datang. Nepal, misalnya, masih masuk daftar hitam keselamatan penerbangan Uni Eropa sejak 2013, yang membatasi akses maskapai lokal ke wilayah Eropa.
Di sisi lain, pariwisata domestik justru menunjukkan geliat kuat, dengan sejumlah hotel mencatat tingkat hunian mendekati 100 persen pada momen liburan berkat lonjakan wisatawan lokal dan pengunjung asal India. Penutupan sementara sejumlah hotel bintang lima seperti Hilton dan Hyatt Regency akibat gejolak sosial juga sempat mengalihkan permintaan ke properti mewah lain di Kathmandu.
Situasi ini menggambarkan dilema besar bagi industri perhotelan Nepal: di satu sisi, investasi besar seperti kehadiran Ritz-Carlton mencerminkan optimisme jangka panjang dan ambisi menempatkan Kathmandu sejajar dengan destinasi mewah Asia lainnya. Namun, di sisi lain, tantangan struktural seperti keterbatasan pengeluaran wisatawan, persaingan tarif, dan risiko kelebihan pasokan kamar mewah tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum gelombang investasi baru ini benar-benar membuahkan hasil.

