Google Membayarnya Hampir US$1 Juta dalam Setahun. Mengapa Ia Tetap Memilih Mundur?

(Businesslounge Journal-Global News)

Bagi Yousuf Imran, peluang yang lebih menarik justru berada di luar Google. Pria berusia 41 tahun itu memperoleh pendapatan sebesar US$986.000 pada 2026, yang sebagian besar berasal dari komisi penjualan di luar gaji pokoknya sebesar US$170.000 per tahun. Namun, penghasilan yang hampir mencapai US$1 juta tersebut tidak cukup untuk membuatnya bertahan di Google.

Imran mengaku lebih tertarik pada potensi keuntungan finansial yang ditawarkan oleh perusahaan rintisan AI. Menurutnya, meskipun Google memberikan kompensasi yang sangat kompetitif, paket kepemilikan saham (equity) yang ditawarkan perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi.

Selain itu, Imran juga mulai kehilangan keyakinan terhadap stabilitas pekerjaannya di Google setelah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah rekan kerjanya dalam beberapa tahun terakhir. Sejak awal 2023, Google telah memangkas puluhan ribu posisi secara global setelah melakukan perekrutan besar-besaran selama masa pandemi.

Pada April 2026, Imran akhirnya memutuskan meninggalkan Google dan mendirikan startup yang mengembangkan solusi AI untuk membantu proses penjualan.

Gelombang AI Mengubah Persaingan Perekrutan Talenta

Keputusan Imran dinilai mencerminkan semakin ketatnya persaingan mendapatkan talenta terbaik di industri AI. Menurut laporan Business Insider, dominasi Google sebagai tujuan utama para profesional teknologi mulai tergerus oleh perusahaan-perusahaan AI yang berkembang pesat.

Selama bertahun-tahun Google dikenal sebagai salah satu perusahaan paling diminati karena menawarkan gaji tinggi, tunjangan yang menarik, serta lingkungan kerja yang nyaman. Berdasarkan survei perusahaan employer branding Universum, Google menjadi perusahaan paling diminati oleh mahasiswa bisnis sejak 2009 hingga 2022 sebelum posisinya digantikan oleh Apple.

Kini, perusahaan-perusahaan AI mulai menjadi magnet baru bagi para profesional teknologi. Business Insider mewawancarai 12 karyawan dan mantan karyawan Google yang menilai ledakan industri AI telah membuka lebih banyak peluang karier.

Bahkan, menurut laporan Bloomberg News, dua peneliti AI Google, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, berencana bergabung dengan Anthropic. Keduanya sebelumnya terlibat dalam pengembangan model AI Gemini milik Google.

Google Tetap Menawarkan Gaji Kompetitif

Meski menghadapi persaingan dari startup AI, Google masih menawarkan paket kompensasi yang sangat kompetitif. Berdasarkan dokumen resmi pemerintah Amerika Serikat, median pendapatan karyawan Google mencapai US$331.894 pada 2024, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, banyak mantan karyawan menilai startup AI menawarkan peluang kekayaan yang lebih besar melalui kepemilikan saham perusahaan yang berpotensi melonjak nilainya apabila bisnis berkembang pesat.

Fasilitas Mewah Mulai Dikurangi

Google selama bertahun-tahun dikenal sebagai simbol perusahaan teknologi dengan berbagai fasilitas premium bagi karyawannya, mulai dari makanan gratis atau bersubsidi, layanan kesehatan menyeluruh, cuti orang tua yang panjang, hingga program pensiun yang menarik.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan mulai mengurangi sejumlah fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi. Pada 2023, Google menghapus beberapa area makanan ringan, mengurangi pilihan makanan, serta menutup sebagian kafetaria pada hari-hari ketika jumlah karyawan yang bekerja di kantor relatif sedikit. Selain itu, layanan pijat gratis bagi karyawan juga dihentikan.

Meski demikian, juru bicara Google menyatakan kepada Business Insider bahwa perusahaan tetap yakin mampu menarik dan mempertahankan talenta terbaik di industri teknologi.