(Business Lounge Journal – News and Insight)
Microsoft kembali membuat keputusan yang terasa kecil, namun sarat makna. Tanpa pengumuman resmi, perusahaan ini menghentikan layanan metadata Windows Media Player—fitur yang selama puluhan tahun secara otomatis menampilkan judul lagu, nama artis, dan artwork album ketika sebuah CD dimasukkan ke komputer.
Bagi generasi tertentu, pengalaman itu adalah ritual. Masukkan CD ke drive PC, dan Windows Media Player langsung “mengenali” album tersebut. Kini, di Windows 10 maupun Windows 11, hasilnya seragam dan aing: album not found.
Pengujian di berbagai perangkat Windows dengan optical drive menunjukkan pola yang sama. CD lama era 1990-an yang dulu pernah berhasil di-RIP, hingga rilisan ulang album yang lebih “indie” dan modern—semuanya tidak lagi dikenali. Server metadata yang sebelumnya diakses Windows Media Player tampaknya berhenti beroperasi sejak menjelang Natal.
Ketika dimintai konfirmasi, Microsoft tidak memberikan respons berarti. Tidak ada klarifikasi apakah layanan tersebut resmi dipensiunkan, apakah akan ada solusi alternatif, atau apakah ini sekadar gangguan sementara. Satu-satunya petunjuk datang dari forum Reddit, yang mengutip percakapan dengan perwakilan dukungan Microsoft. Pesannya singkat: server sudah dimatikan, pengguna disarankan mencari solusi pihak ketiga.
Alternatif lainnya? Mengisi data album secara manual. Ya—seperti tahun 1990-an.
Keputusan ini terasa ironis jika dilihat dari konteks yang lebih luas. Di tengah kejenuhan terhadap layanan streaming—di mana konten bisa menghilang sewaktu-waktu, algoritma menentukan apa yang terlihat, dan kepemilikan terasa semu—minat terhadap media fisik justru kembali meningkat. CD, vinyl, hingga kaset kembali dipandang sebagai simbol kontrol, kepemilikan, dan nostalgia yang nyata.
Secara teknis, drive CD memang belum sepenuhnya lenyap dari perangkat Windows. Namun layanan metadata bawaan Windows Media Player, yang terhubung ke domain musicmatch-ssl.xboxlive.com, kini tidak lagi menyajikan informasi apa pun. Tanpa server tersebut, fungsi pengenalan album praktis lumpuh.
Padahal Windows Media Player memiliki sejarah panjang. Ia pertama kali hadir pada era Windows 3.0, berevolusi mengikuti zaman—mendukung streaming, ripping, hingga burning CD—dan bahkan bertahan melewati eksperimen Zune yang gagal. Di Windows 11, aplikasi ini masih ada, meski kini diberi label “Legacy” seiring Microsoft mendorong pengguna ke aplikasi Media Player versi baru.
Microsoft tidak pernah membuka data telemetry secara detail, namun langkah ini menyiratkan satu kesimpulan internal: terlalu sedikit pengguna yang masih memutar CD untuk membenarkan biaya pemeliharaan layanan metadata. Dalam logika efisiensi perusahaan teknologi, fitur yang tidak berskala besar akan selalu menjadi kandidat pertama untuk dipangkas.
Perbandingan dengan Apple menjadi kontras. Dalam pengujian yang sama, iTunes masih mampu mengenali seluruh CD yang diuji—tanpa masalah. Ini memperlihatkan perbedaan filosofi: apakah teknologi lama dianggap beban, atau justru bagian dari pengalaman pengguna yang patut dijaga.
Bagi Microsoft, penghentian layanan metadata ini mungkin sekadar catatan kecil dalam roadmap produk. Namun bagi pengguna setia dan pengamat industri, keputusan ini mencerminkan pola yang lebih besar: teknologi modern semakin menyingkirkan pengalaman fisik, bahkan ketika minat publik mulai berayun kembali ke arah sebaliknya.
Di era AI, cloud, dan streaming, CD memang tampak usang. Tetapi justru di situlah paradoksnya. Ketika segalanya menjadi tidak berwujud, hal-hal yang bisa disentuh—dan dikenali—kembali terasa bernilai. Microsoft tampaknya memilih untuk melangkah maju, meski harus memutus satu lagi tali nostalgia yang pernah membuat Windows terasa personal.
Dan bagi pengguna Windows Media Player hari ini, pesan itu sederhana dan pahit: jika ingin memutar CD seperti dulu, bersiaplah mengetik ulang judul lagu satu per satu.

