5 Kota dengan Transportasi Publik Terbaik di Dunia Saat Ini — dan Pelajaran bagi Indonesia

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Mobilitas perkotaan berubah dengan sangat cepat. Pertumbuhan populasi, tekanan perubahan iklim, serta kemajuan teknologi membuat banyak kota di dunia mulai memikirkan ulang sistem transportasinya. Sejumlah kota kini tampil sebagai pionir mobilitas perkotaan berkelanjutan, memadukan kereta, sepeda, dan jalur pedestrian untuk mengurangi ketergantungan pada mobil pribadi.

Mereka bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menciptakan pengalaman mobilitas yang mudah, nyaman, dan terjangkau—hingga membuat mobil pribadi menjadi pilihan opsional. Berikut lima kota yang menjadi acuan global dalam transformasi transportasi publik pada 2025, serta bagaimana konteksnya dapat menginspirasi Indonesia.

1. Chengdu, Tiongkok: Megacity yang Disulap Menjadi Kota Hijau Berbasis Jalur Sepeda

Chengdu melakukan transformasi besar lewat pembangunan greenway terpanjang di dunia. Lebih dari 20.000 km jalur sepeda dan pedestrian menghubungkan area hunian, pusat bisnis, kawasan industri, hingga taman kota. Langkah ini membuat aktivitas berjalan kaki dan bersepeda menjadi pilihan komuter harian — bukan sekadar aktivitas rekreasi.

Strategi Chengdu menunjukkan bahwa kota besar tetap bisa manusiawi jika mobilitas aktif diberikan prioritas. Infrastruktur yang berkesinambungan menciptakan pola perjalanan baru: lebih sehat, lebih murah, lebih cepat.

2. Hong Kong: Kepadatan Kota yang Tertata dengan Transit Super Efisien

Hong Kong dikenal memiliki salah satu sistem transportasi publik paling efisien di dunia. Kapasitas besar, frekuensi tinggi, dan harga yang terjangkau membuat warganya sangat bergantung pada MTR, bus, dan tram.

Selain itu, tingkat adopsi kendaraan listrik di Hong Kong termasuk tinggi. Ini membuat kombinasi transportasi publik dan mobilitas rendah emisi menjadi tulang punggung kota masa depan.

3. Oslo, Norwegia: Kota yang Menjadikan Mobilitas Aktif sebagai Gaya Hidup

Oslo telah mengurangi penggunaan mobil di pusat kota, memperluas taman, dan mengintegrasikan jalur sepeda serta pejalan kaki dengan jaringan bus dan tram. Sepeda bahkan diperbolehkan naik ke beberapa moda transportasi, membuat komuter lebih fleksibel.

Kota ini perlahan membentuk budaya “berjalan, naik sepeda, atau naik transportasi publik dulu; mobil nanti saja.” Meski adopsinya lebih kuat di pusat kota dibanding pinggiran, arah kebijakan Oslo jelas: mobilitas bersih dan manusia-sentris.

4. Paris, Prancis: Multimodal yang Kuat Mendukung Kota Tanpa Mobil

Paris terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu kota dengan transportasi publik terbaik. Metro dan bus yang padat, ditambah opsi mobilitas lain seperti sepeda, skuter, dan e-scooter, membuat warga memiliki banyak pilihan.

Upaya seperti perluasan jalur sepeda dan pembatasan mobil di area tertentu membuat perjalanan di Paris semakin ramah pengguna dan ramah lingkungan. Meski pola penggunaan berbeda-beda antar distrik, infrastrukturnya memungkinkan warga untuk benar-benar meninggalkan mobil pribadi.

5. Stockholm, Swedia: Mobilitas Listrik dan Transportasi Padat yang Berorientasi Keberlanjutan

Stockholm memadukan jaringan transportasi publik yang padat dengan tingkat adopsi kendaraan listrik yang tinggi. Kota ini menargetkan mobilitas bebas karbon dalam jangka panjang, memadukan energi bersih, transportasi listrik, dan integrasi moda yang kuat.

Pendekatan jangka panjang ini menunjukkan bagaimana kebijakan, teknologi, dan perilaku masyarakat bisa disatukan dalam satu visi mobilitas masa depan.

Transportasi Umum di Indonesia

Kita patut berbangga bahwa transportasi publik di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun tantangannya masih besar, sejumlah kota mulai mengarah pada konsep mobilitas berkelanjutan seperti yang diterapkan kota-kota dunia di atas.

Jakarta: Transformasi Besar, Tapi Masih Berproses

Jakarta telah menjadi laboratorium mobilitas modern Indonesia melalui:

  • MRT Jakarta yang mulai membentuk pola perjalanan baru di koridor Sudirman–Lebak Bulus.
  • LRT Jabodebek dan LRT Jakarta yang memperluas jaringan rel.
  • TransJakarta, sistem BRT terbesar di dunia dengan lebih dari 1 juta penumpang per hari.
  • Ekspansi jalur sepeda dan pedestrian-friendly di kawasan seperti Sudirman–Thamrin.

Namun, tantangan integrasi, konektivitas antarmoda, dan budaya naik angkutan umum masih perlu diperkuat.

Jabodetabek: Kereta Komuter sebagai Tulang Punggung

KRL Commuter Line tetap menjadi mode transportasi publik paling vital bagi jutaan orang setiap hari. Proyek integrasi tarif dan jadwal yang sedang berjalan menjadi langkah penting agar pengalaman perjalanan semakin seamless.

Kota-Kota Besar Lain

  • Bandung terus mengembangkan konsep kota ramah sepeda dan jalur pedestrian yang lebih nyaman.
  • Surabaya berfokus pada transportasi ramah lingkungan, seperti bus listrik dan pengembangan koridor Suroboyo Bus.
  • Yogyakarta memperkuat jaringan TransJogja dan mendorong penggunaan sepeda sebagai identitas mobilitas kota.

Meskipun berbeda skala, semua kota menghadapi tantangan yang sama: mengurangi penggunaan mobil, meningkatkan transportasi massal, dan memperbaiki kualitas ruang publik.

Pelajaran utama dari lima kota terbaik di dunia adalah konsistensi dan keberanian dalam melakukan transformasi. Infrastruktur sepeda, kualitas trotoar, integrasi antarmoda, dan komitmen pada transportasi listrik bukanlah proyek satu tahun—tetapi upaya jangka panjang.

Indonesia sudah berada di jalur yang tepat. Masa depan mobilitas kita akan sangat bergantung pada:

  • Integrasi seluruh moda transportasi.
  • Perencanaan kota yang menempatkan manusia, bukan mobil, sebagai prioritas.
  • Investasi pada transportasi publik yang nyaman, bersih, aman, dan tepat waktu.

Jika langkah ini dijalankan secara konsisten, kota-kota Indonesia dapat bergabung dengan deretan kota terbaik dunia dalam transportasi modern.