(Business Lounge Journal – News and Insight)
Perusahaan logistik asal Amerika Serikat, United Parcel Service (UPS), menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya menjadi US$92,6 miliar untuk 2026. Keputusan ini menjadi sinyal awal bahwa strategi perusahaan untuk mengurangi pengiriman dengan margin keuntungan rendah dan memprioritaskan bisnis yang lebih menguntungkan mulai menunjukkan hasil.
Dalam laporan kinerja kuartal III 2026 yang diumumkan pada 27 Oktober, UPS mencatat pendapatan konsolidasi sebesar US$22,9 miliar, meningkat 6,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga menaikkan proyeksi pendapatan tahunan dari sebelumnya US$91,2 miliar menjadi sekitar US$92,6 miliar, di tengah upaya menata kembali jaringan operasional dan komposisi bisnisnya.
CEO UPS Carol Tomé menyatakan bahwa perusahaan terus mendorong pertumbuhan dari layanan bernilai lebih tinggi, meningkatkan kualitas pendapatan, serta memperkuat efisiensi jaringan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa UPS tidak lagi hanya mengejar jumlah paket yang dikirim, tetapi juga memperhatikan kontribusi keuntungan dari setiap pengiriman.
Mengurangi Ketergantungan pada Amazon
Salah satu perubahan terbesar dalam strategi UPS adalah mengurangi volume pengiriman untuk Amazon, salah satu pelanggan terbesarnya. Pada awal 2025, UPS mengumumkan rencana untuk memangkas volume pengiriman Amazon hingga setengahnya. Pengurangan yang direncanakan tersebut telah diselesaikan pada kuartal II 2026.
Keputusan ini didasarkan pada perbedaan antara besarnya volume bisnis dan keuntungan yang dihasilkan. Menurut Carol Tomé, Amazon merupakan pelanggan terbesar UPS, tetapi bukan pelanggan yang paling menguntungkan. Pengiriman dalam jumlah besar dengan margin tipis dinilai membebani profitabilitas bisnis domestik perusahaan.
Pada 2023, Amazon menyumbang sekitar separuh dari pengiriman paket domestik UPS dan sekitar 12% dari total pendapatannya. Mengurangi porsi bisnis sebesar itu tentu membawa risiko, terutama karena Amazon merupakan pemain utama dalam perdagangan elektronik. Namun, UPS memilih untuk mengalihkan kapasitas dan sumber dayanya ke layanan yang menawarkan imbal hasil lebih baik.
Meski demikian, UPS tidak sepenuhnya memutus hubungan bisnis dengan Amazon. Perusahaan tetap menangani pengembalian barang atau reverse logistics bagi pelanggan Amazon. Layanan ini memungkinkan pelanggan mengembalikan paket melalui lokasi UPS, termasuk dengan proses tanpa kotak dan tanpa label. Bagi UPS, pengelolaan retur tetap menjadi peluang bisnis di tengah pertumbuhan perdagangan elektronik.
Efisiensi Operasional dan Perubahan Model Bisnis
Strategi UPS juga mencakup restrukturisasi jaringan operasional. Setelah melakukan pengurangan sekitar 48.000 pekerjaan pada 2025, perusahaan mengumumkan rencana memangkas 30.000 pekerjaan lagi dan menutup puluhan fasilitas pada 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menyesuaikan kapasitas operasional dengan volume pengiriman yang lebih rendah sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja, transportasi, dan fasilitas.
Dalam laporan terbarunya, UPS menyebut telah merealisasikan manfaat penghematan sekitar US$1,8 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Perusahaan menargetkan manfaat penghematan hampir US$3 miliar sepanjang tahun ini melalui berbagai program efisiensi dan penataan jaringan.
Hasil kuartal III juga memperlihatkan pertumbuhan di sejumlah segmen. Pendapatan bisnis domestik Amerika Serikat meningkat 4,5% menjadi sekitar US$14,9 miliar, sementara pendapatan segmen internasional naik 7,1% menjadi sekitar US$5 miliar. Kinerja ini memperkuat alasan UPS untuk lebih selektif dalam menentukan jenis pengiriman dan pelanggan yang menjadi prioritas.
Pendapatan Besar Belum Tentu Menguntungkan
Langkah UPS memperlihatkan tantangan yang dihadapi perusahaan logistik ketika pertumbuhan perdagangan elektronik tidak selalu sejalan dengan peningkatan margin keuntungan. Volume pengiriman yang tinggi memang dapat memperbesar pendapatan, tetapi juga menuntut kapasitas tenaga kerja, kendaraan, fasilitas, dan jaringan distribusi yang besar. Jika biaya untuk melayani pelanggan terlalu tinggi dibandingkan pendapatan yang diperoleh, pertumbuhan tersebut justru dapat menekan profitabilitas.
Strategi UPS menjadi contoh bahwa perusahaan perlu mengevaluasi kualitas pendapatan, bukan hanya besarnya transaksi. Dalam situasi tertentu, mengurangi bisnis yang berkontribusi besar terhadap volume dapat menjadi keputusan rasional apabila perusahaan dapat menggunakan kapasitasnya untuk melayani segmen yang memberikan margin lebih baik.
Bagi pelaku bisnis, pendekatan ini relevan dalam mengelola portofolio pelanggan, menentukan harga, dan mengalokasikan sumber daya. Pelanggan dengan transaksi besar belum tentu menjadi pelanggan paling menguntungkan jika biaya pelayanan, tuntutan operasional, dan risiko yang menyertainya tidak diperhitungkan secara menyeluruh.
Ke depan, tantangan bagi UPS adalah memastikan bahwa pelanggan dan layanan yang menggantikan sebagian volume Amazon benar-benar mampu menghasilkan keuntungan yang lebih baik. Peningkatan proyeksi pendapatan menjadi US$92,6 miliar merupakan perkembangan positif, tetapi keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan, meningkatkan margin, dan menjalankan restrukturisasi tanpa mengorbankan kualitas layanan.

