Maskapai

Strategi Turnaround Maskapai untuk Menjaga Profitabilitas 2026

(Business Lounge – Operation Management) Industri penerbangan pada 2026 menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan keuntungan di tengah kenaikan biaya bahan bakar, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik. Permintaan perjalanan udara masih kuat, tetapi pertumbuhan pendapatan tidak selalu sejalan dengan peningkatan laba. International Air Transport Association (IATA), dalam proyeksi yang dirilis pada 7 Juni 2026, memperkirakan laba bersih industri penerbangan global hanya mencapai US$23 miliar dengan margin bersih 2%, meskipun pendapatan diperkirakan tumbuh menjadi US$1,165 triliun. IATA juga memperkirakan biaya operasional meningkat 13%, lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan sebesar 9,4%. Kondisi ini membuat strategi turnaround atau pemulihan bisnis semakin penting bagi maskapai yang ingin menjaga profitabilitas dan daya saing.

Kenaikan Biaya Menekan Margin Keuntungan

Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari bahan bakar pesawat. IATA memperkirakan biaya bahan bakar industri penerbangan global mencapai US$350 miliar pada 2026, meningkat hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga avtur yang tinggi membuat maskapai menghadapi pilihan sulit antara menaikkan tarif, menyesuaikan kapasitas penerbangan, atau menyerap sebagian kenaikan biaya melalui penurunan margin keuntungan.

Tekanan serupa terlihat di Indonesia. Pemerintah pada 6 April 2026 mengumumkan penyesuaian fuel surcharge menjadi 38% untuk pesawat jet maupun propeler, dari sebelumnya masing-masing 10% dan 25%. Kebijakan tersebut disertai upaya menjaga kenaikan harga tiket domestik tetap pada kisaran 9–13% serta pemberian insentif pajak untuk tiket ekonomi domestik. Langkah ini, sebagaimana dijelaskan pemerintah melalui Sekretariat Negara, bertujuan menjaga keberlanjutan industri penerbangan sekaligus mempertahankan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa maskapai tidak dapat mengandalkan kenaikan tarif sebagai satu-satunya strategi. Perusahaan perlu mengendalikan pengeluaran, memperbaiki produktivitas armada, dan memastikan kapasitas penerbangan sesuai dengan permintaan pasar. Tanpa langkah tersebut, peningkatan pendapatan berisiko tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya.

Mengutamakan Pendapatan dan Rute yang Menguntungkan

Tingginya jumlah penumpang belum tentu menjamin keuntungan apabila pendapatan per kursi terlalu rendah. IATA memperkirakan load factor global mencapai 84% pada 2026, tetapi margin laba bersih industri tetap tertekan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya mengelola kualitas pendapatan, bukan hanya mengejar tingkat keterisian kursi.

Maskapai perlu mengevaluasi harga tiket berdasarkan pola permintaan, musim perjalanan, persaingan, dan biaya operasional setiap rute. Pendapatan tambahan dari bagasi, pemilihan kursi, makanan, serta layanan lainnya juga dapat membantu meningkatkan pendapatan per penumpang. IATA memperkirakan pendapatan tambahan industri penerbangan global mencapai US$165 miliar pada 2026, meningkat 12,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Restrukturisasi rute menjadi langkah berikutnya. Perusahaan perlu mengidentifikasi rute yang memberikan kontribusi positif, rute yang masih dapat diperbaiki, dan rute yang terus menghasilkan kerugian. Penyesuaian frekuensi, pemindahan pesawat, atau penggunaan armada yang lebih sesuai dapat membantu mengurangi biaya tanpa harus mengorbankan seluruh jaringan penerbangan.

Keputusan tersebut perlu mempertimbangkan pendapatan dan biaya secara bersamaan. Rute dengan tingkat keterisian tinggi belum tentu menguntungkan apabila tarif rata-ratanya terlalu rendah, sedangkan rute dengan jumlah penumpang lebih sedikit dapat memberikan margin yang lebih baik apabila struktur biayanya efisien.

Indonesia AirAsia Menunjukkan Pentingnya Efisiensi

Contoh penerapan strategi tersebut terlihat pada Indonesia AirAsia. Dalam laporan kinerja semester pertama 2026 yang diterbitkan pada 28 Juli 2026, PT AirAsia Indonesia Tbk melaporkan pendapatan sebesar Rp3,91 triliun, turun 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar sebesar 26,1% menjadi Rp1,99 triliun, sementara pelemahan rupiah sebesar 5% terhadap dolar AS turut menambah tekanan biaya.

Untuk menghadapi situasi tersebut, perusahaan melakukan penataan rute dan kapasitas, serta memprioritaskan penerbangan yang lebih menguntungkan. Kapasitas disesuaikan menjadi 3,44 juta kursi, turun 4,2%, sedangkan jumlah penumpang mencapai 2,83 juta dengan load factor 82%. Tarif rata-rata juga meningkat 4,9% menjadi sekitar Rp1,13 juta, sementara revenue per available seat kilometer atau RASK naik 17,4%.

Menurut laporan perusahaan, kerugian operasional di luar pengaruh selisih kurs berhasil ditekan 6,9% menjadi Rp678,4 miliar. Meskipun demikian, perusahaan masih mencatat kerugian operasional. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penataan kapasitas dan efisiensi dapat membantu mengurangi tekanan keuangan, tetapi belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan profitabilitas.

Pengendalian Operasi Menjadi Kunci Pemulihan

Strategi komersial dan efisiensi biaya membutuhkan sistem pengendalian yang mampu menghubungkan keputusan manajemen dengan pelaksanaan di lapangan. Operation Control Center (OCC) berperan mengoordinasikan jadwal penerbangan, kesiapan pesawat, ketersediaan awak, dan penanganan gangguan operasional. Integrasi dengan fungsi pemeliharaan, reservasi, dan komersial memungkinkan perusahaan melihat dampak sebuah keputusan secara lebih menyeluruh.

Gangguan teknis pada satu pesawat, misalnya, dapat memengaruhi jadwal penerbangan lain, menambah biaya, dan mengganggu perjalanan penumpang. Melalui koordinasi yang terintegrasi, manajemen dapat menentukan tindakan korektif dengan mempertimbangkan aspek operasional sekaligus keuangan.

Pemantauan harian perlu mencakup indikator seperti load factor, ketepatan waktu, utilisasi pesawat, biaya operasional, dan EBITDA. EBITDA menggambarkan kinerja sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, sehingga dapat membantu mengevaluasi perkembangan hasil operasional. Namun, indikator ini tetap harus dibaca bersama arus kas, kewajiban keuangan, dan kebutuhan investasi perusahaan.

Membangun Turnaround yang Berkelanjutan

Pemulihan bisnis maskapai membutuhkan disiplin organisasi dan pembagian tanggung jawab yang jelas. Divisi pemasaran perlu meningkatkan kualitas pendapatan, bagian operasi mengoptimalkan produktivitas penerbangan, tim teknis menjaga kesiapan pesawat, dan fungsi pendukung memastikan penggunaan sumber daya lebih efisien. Setiap program harus memiliki target, indikator keberhasilan, dan evaluasi berkala.

Efisiensi juga tidak boleh mengorbankan keselamatan maupun kualitas layanan. Pengurangan biaya yang mengganggu pemeliharaan pesawat atau keandalan penerbangan justru dapat meningkatkan risiko dan menimbulkan kerugian lebih besar. Karena itu, keputusan penghematan harus didasarkan pada analisis biaya-manfaat yang mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang.

Pada 2026, tantangan industri penerbangan memperlihatkan bahwa pertumbuhan penumpang saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan bisnis. Maskapai perlu menggabungkan pengelolaan pendapatan, restrukturisasi rute, efisiensi bahan bakar, optimalisasi armada, dan pengendalian operasi dalam satu strategi yang terintegrasi.

Keberhasilan turnaround pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengubah data menjadi keputusan yang tepat dan memastikan perbaikan berlangsung secara konsisten. Dengan memprioritaskan rute yang produktif, menjaga biaya tetap terkendali, dan menghubungkan strategi bisnis dengan pengawasan operasional harian, maskapai memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan profitabilitas di tengah tekanan industri penerbangan yang semakin kompleks.