(Business Lounge – Economy) Dunia tidak lagi hanya bergerak melalui diplomasi, militer, dan perjanjian politik. Di balik perdagangan barang, sistem pembayaran, teknologi, investasi, hingga rantai pasok, terdapat kekuatan yang semakin menentukan hubungan antarnegara, geoeconomics. Istilah ini menggambarkan bagaimana hubungan ekonomi dapat digunakan oleh negara-negara besar untuk memengaruhi negara lain, perusahaan, bahkan keputusan yang sebenarnya dibuat oleh pelaku ekonomi secara mandiri. Dalam kerangka yang digunakan dalam kajian ini, negara hegemon seperti Amerika Serikat dan China dapat memanfaatkan hubungan perdagangan dan keuangan yang sudah terbentuk untuk menjalankan kepentingan ekonomi maupun geopolitiknya.
Selama bertahun-tahun, ekonomi sering dilihat terutama melalui ukuran seperti pertumbuhan, perdagangan, produktivitas, harga, dan keuntungan. Kekuasaan ekonomi pun kerap dipahami secara sempit sebagai kemampuan sebuah perusahaan menaikkan harga atau mendapatkan keuntungan lebih besar. Namun kekuasaan sebuah negara sebenarnya jauh lebih luas. Sebuah negara dapat menjadi sangat berpengaruh bukan hanya karena memiliki perusahaan besar atau pasar yang besar, tetapi karena negara lain sudah terhubung begitu dalam dengan sistem ekonominya sehingga sulit mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Di sinilah konsep geoeconomics menjadi menarik. Kekuasaan tidak selalu muncul dalam bentuk ancaman yang terang-terangan. Kadang-kadang kekuasaan justru terbentuk secara perlahan melalui ketergantungan. Sebuah negara mungkin menjadi pemasok utama suatu teknologi, sumber pembiayaan, penyedia sistem pembayaran, pasar ekspor terbesar, atau pusat dari jaringan produksi tertentu. Selama hubungan tersebut berjalan normal, ketergantungan itu mungkin terlihat sebagai keuntungan. Masalah baru muncul ketika hubungan ekonomi tersebut berubah menjadi alat tekanan.
Kekuasaan yang Berasal dari Ketergantungan
Salah satu gagasan penting dalam geoeconomics adalah bahwa kekuasaan dapat muncul ketika pilihan alternatif menjadi semakin sedikit. Jika sebuah perusahaan dapat membeli komponen dari sepuluh negara berbeda, ancaman penghentian pasokan dari satu negara mungkin tidak terlalu berarti. Perusahaan tersebut cukup berpindah kepada pemasok lain. Sebaliknya, jika hanya ada satu pemasok yang menguasai teknologi tertentu, posisi perusahaan menjadi jauh lebih rentan.
Karena itu, tidak semua perdagangan menciptakan ketergantungan strategis. Yang penting bukan sekadar berapa besar nilai perdagangan, tetapi seberapa mudah suatu negara atau perusahaan menggantikan sumber tersebut. Teks ini menekankan pentingnya elastisitas substitusi: semakin sulit mengganti suatu input secara teknologi, semakin besar potensi kekuatan yang dimiliki pemasoknya. Dominasi pemasok menjadi jauh lebih penting ketika alternatifnya sedikit atau sangat mahal.
Bayangkan sebuah negara membutuhkan komponen tertentu untuk industri pertahanan, semikonduktor, sistem pembayaran, atau teknologi komunikasi. Jika komponen itu tersedia dari banyak sumber, ketergantungannya relatif rendah. Tetapi jika hanya satu negara yang mampu menyediakan teknologi tersebut dalam skala besar, hubungan ekonomi itu dapat berubah menjadi sebuah titik tekan strategis.
Karena itulah sektor seperti semikonduktor canggih, radar, dan jasa keuangan dapat menjadi sangat penting dalam perhitungan geoeconomics. Bukan semata-mata karena nilai ekonominya paling besar, melainkan karena sektor tersebut dapat menjadi bagian yang sulit digantikan oleh pihak lain.
Dari Perdagangan ke Senjata Ekonomi
Contoh yang digunakan untuk menjelaskan mekanisme ini adalah perusahaan teknologi asal Belanda, ASML, yang memproduksi mesin litografi canggih untuk industri semikonduktor. Perusahaan tersebut memiliki pemasok dari Amerika Serikat dan pelanggan di China. Secara formal, ASML bukan perusahaan Amerika. Karena itu, pemerintah Amerika Serikat tidak dapat memperlakukannya persis seperti perusahaan domestik.
Namun hubungan ekonomi lintas negara menciptakan ruang untuk tekanan. Jika sebuah perusahaan sangat bergantung pada akses terhadap sistem ekonomi negara lain, ancaman kehilangan akses tersebut dapat mengubah perilakunya. Dalam contoh yang dibahas, tekanan dapat berupa pembatasan ekspor, ancaman terhadap akses perusahaan kepada pihak-pihak Amerika, atau penggunaan aturan yang membuat hubungan bisnis dengan AS menjadi jauh lebih sulit.
Di sinilah perbedaan antara kekuatan ekonomi biasa dan kekuatan geoeconomic menjadi terlihat. Perusahaan tidak harus diperintah secara langsung. Pemerintah cukup membuat pilihan tertentu menjadi jauh lebih mahal dibandingkan pilihan lainnya. Perusahaan kemudian menghitung kembali keuntungan dan kerugiannya. Dalam bahasa sederhana, kekuasaan muncul ketika sebuah pihak mampu membuat pihak lain berkata, “Saya sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tetapi pilihan lainnya jauh lebih mahal.”
Konsep ini bukan hanya berlaku pada perusahaan. Prinsip yang sama dapat terjadi antara negara. Ketergantungan pada pasar, teknologi, sistem pembayaran, energi, bahan mentah, atau pembiayaan dapat menciptakan hubungan yang membuat sebuah negara memiliki ruang lebih besar untuk memengaruhi negara lainnya.
Mengapa Negara Mulai Memikirkan Alternatif?
Jika ketergantungan dapat digunakan sebagai alat tekanan, maka negara yang merasa rentan tentu akan mencari jalan keluar. Inilah yang kemudian melahirkan kebijakan yang dalam kajian tersebut disebut sebagai anti-coercion atau economic security policy.
Logikanya sederhana. Jika sebuah negara terlalu bergantung pada satu pemasok asing, pemerintah dapat mendorong perusahaan domestik untuk mencari pemasok lain. Jika teknologi penting seluruhnya berasal dari luar negeri, negara dapat memberikan dukungan kepada pengembangan teknologi domestik. Jika sistem pembayaran sangat bergantung pada jaringan asing, negara mungkin mulai membangun alternatif sendiri.
Tujuannya bukan selalu untuk menghentikan perdagangan. Justru persoalannya adalah bagaimana tetap memperoleh manfaat perdagangan tanpa membuat seluruh perekonomian berada dalam posisi yang terlalu rentan. Teks tersebut menggambarkan bahwa negara-negara mulai berpikir tentang bagaimana membangun “outside option” yang lebih kuat—pilihan alternatif yang dapat digunakan apabila hubungan dengan kekuatan ekonomi utama terganggu.
Dalam konteks inilah kebijakan industri, diversifikasi rantai pasok, pengembangan teknologi domestik, dan pembatasan ketergantungan pada satu negara memperoleh dimensi baru. Kebijakan tersebut bukan hanya soal efisiensi ekonomi, tetapi juga soal kemampuan bertahan ketika hubungan internasional berubah.
Bahaya dari Dunia yang Terlalu Terfragmentasi
Namun ada paradoks besar. Jika setiap negara berusaha mengurangi ketergantungannya secara agresif, dunia dapat bergerak terlalu jauh menuju fragmentasi. Bayangkan satu negara mengurangi penggunaan teknologi global karena khawatir terhadap tekanan negara lain. Negara kedua melihat langkah tersebut dan melakukan hal yang sama. Ketika semakin banyak negara mengurangi penggunaan teknologi bersama, teknologi global itu menjadi kurang menarik. Negara lain kemudian semakin terdorong untuk keluar. Proses tersebut dapat menciptakan lingkaran yang terus memperkuat dirinya sendiri.
Kondisi ini digambarkan sebagai semacam “fragmentation doom loop”. Satu negara meningkatkan keamanan ekonominya dengan mengurangi ketergantungan, tetapi langkah tersebut membuat jaringan global semakin kecil. Negara lain kemudian mengambil tindakan serupa. Pada akhirnya, dunia bisa menjadi lebih aman dari satu bentuk ketergantungan, tetapi kehilangan sebagian keuntungan yang sebelumnya diperoleh dari perdagangan dan integrasi ekonomi.
Inilah salah satu dilema terbesar geoeconomics. Integrasi ekonomi menciptakan efisiensi karena negara dan perusahaan dapat melakukan spesialisasi. Namun integrasi yang terlalu dalam juga dapat menciptakan ketergantungan. Sebaliknya, mengurangi ketergantungan dapat meningkatkan ketahanan, tetapi juga dapat membuat produksi menjadi lebih mahal dan perdagangan menjadi lebih terbatas.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara globalisasi atau kemandirian. Yang lebih penting adalah memahami di mana ketergantungan menjadi terlalu berisiko dan di mana diversifikasi justru lebih masuk akal.
Tidak Semua Sektor Sama Pentingnya
Salah satu pesan paling menarik dari kerangka ini adalah bahwa ukuran perdagangan saja tidak cukup untuk mengukur kekuatan ekonomi.Sebuah negara mungkin mengimpor sangat banyak barang dari negara tertentu, tetapi belum tentu berada dalam posisi rentan. Jika barang-barang tersebut mudah digantikan, tekanan ekonomi tidak akan terlalu efektif. Sebaliknya, sebuah negara dapat memiliki ketergantungan yang relatif kecil secara nilai, tetapi sangat besar secara strategis jika barang atau jasa tersebut tidak mempunyai pengganti yang mudah.
Karena itu, analisis geoeconomics perlu melihat beberapa hal sekaligus: seberapa besar pangsa pemasok tertentu, seberapa besar produksi domestik, seberapa mudah barang tersebut digantikan, dan seberapa luas dampaknya terhadap sektor lain. Ketergantungan yang tampak kecil pada satu sektor dapat menyebar ke seluruh perekonomian jika sektor tersebut menjadi input penting bagi banyak industri.
Sistem keuangan adalah contoh yang menarik. Sebuah sektor mungkin tidak memiliki porsi terbesar dalam total output ekonomi, tetapi jika hampir semua sektor lain membutuhkannya untuk melakukan pembayaran dan transaksi, pengaruhnya dapat jauh lebih besar daripada ukuran sektornya.Hal serupa berlaku pada teknologi. Sebuah komponen mungkin hanya merupakan bagian kecil dari sebuah produk akhir, tetapi jika tanpa komponen tersebut produksi berhenti, posisi strategisnya menjadi sangat besar.
Ketika Ekonomi Menentukan Politik Dunia
Geoeconomics pada akhirnya mengubah cara kita melihat persaingan antarnegara. Persaingan tidak selalu terjadi melalui perebutan wilayah atau kekuatan militer. Ia juga dapat berlangsung melalui siapa yang menguasai teknologi, siapa yang menjadi pusat keuangan, siapa yang mengendalikan bahan baku penting, siapa yang menyediakan sistem pembayaran, dan siapa yang memiliki pasar terbesar.
Bahkan jaringan perdagangan yang awalnya dibangun untuk menciptakan efisiensi dapat berubah menjadi sumber kekuasaan. Semakin banyak pihak menggunakan sebuah sistem, semakin berharga sistem tersebut. Tetapi semakin banyak pihak bergantung kepadanya, semakin besar pula kekuatan yang dapat dimiliki pengendalinya.
Di titik ini muncul sebuah paradoks. Negara yang memiliki kekuatan besar mungkin tergoda menggunakan ketergantungan negara lain untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Tetapi jika tekanan tersebut terlalu jauh, negara-negara lain justru memiliki alasan untuk membangun alternatif. Ketika alternatif mulai berkembang, kekuatan awal sang hegemon dapat berkurang.
Dengan kata lain, kekuatan ekonomi tidak selalu bertambah hanya karena sebuah negara semakin agresif menggunakannya. Kekuasaan juga bergantung pada apakah pihak lain masih bersedia berada dalam jaringan yang sama.
Itulah sebabnya masa depan ekonomi dunia kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh pertanyaan tentang siapa yang tumbuh paling cepat. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah siapa yang menguasai titik-titik strategis dalam jaringan ekonomi global, siapa yang memiliki alternatif ketika hubungan terputus, dan seberapa jauh negara-negara bersedia mempertahankan keterhubungan mereka.
Geoeconomics memperlihatkan bahwa perdagangan dan kekuasaan sebenarnya tidak pernah benar-benar terpisah. Di balik sebuah transaksi, terdapat jaringan ketergantungan. Di balik jaringan tersebut, terdapat pilihan dan alternatif. Dan di antara pilihan-pilihan itulah kekuatan sebuah negara dapat muncul—bukan selalu melalui ancaman terbuka, tetapi melalui kemampuan untuk membuat pilihan ekonomi pihak lain menjadi semakin sempit.

