Mengapa Orang Mengundurkan Diri dari Pekerjaannya? Jawaban Sebenarnya Hanya Tiga Kata

(Businesslounge Journal-Human Resources) Karyawan cenderung memilih pergi ketika atasan gagal menjalankan salah satu tanggung jawab kepemimpinan yang paling penting. Ada pola yang sering terjadi dalam dunia kerja. Banyak karyawan melalui proses rekrutmen yang panjang dan mendetail, menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menemukan perusahaan yang dianggap paling sesuai. Setelah menerima tawaran kerja, mereka biasanya dipenuhi harapan dan antusiasme saat mulai mengenal atasan serta rekan kerja baru.

Namun, masa-masa awal yang menyenangkan itu sering kali tidak berlangsung lama. Pada suatu titik, manajer melakukan sesuatu—atau justru tidak melakukan sesuatu—yang membuat karyawan mulai mempertanyakan integritasnya dan kepeduliannya terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Bagi karyawan yang datang dengan harapan besar untuk membangun masa depan yang cerah, situasi tersebut dapat memunculkan keraguan. Mereka mulai bertanya-tanya apakah perusahaan atau pemimpin yang mereka temui saat proses perekrutan benar-benar sama dengan kenyataan yang dihadapi sehari-hari. Seiring waktu, kekecewaan dapat berkembang hingga muncul kesadaran bahwa mereka bekerja di bawah kepemimpinan yang tidak mampu membimbing dan mengembangkan tim dengan baik.

Akhir dari kisah tersebut tentu berbeda bagi setiap orang. Namun salah satu keputusan yang paling sering diambil adalah memilih mengundurkan diri.

Penelitian tentang Pergantian Karyawan Menunjukkan Pola yang Sama

Hingga kini, temuan yang pernah disampaikan mantan CEO Gallup, Jim Clifton, masih dianggap relevan. Menurutnya, keputusan terpenting dalam sebuah organisasi adalah menentukan siapa yang menjadi manajer. Jika seseorang yang tidak tepat ditempatkan pada posisi tersebut, berbagai fasilitas seperti gaji tinggi atau tunjangan menarik tidak akan mampu memperbaiki dampaknya.

Karyawan dari berbagai tingkat jabatan dan sektor industri umumnya siap meninggalkan pekerjaannya ketika atasan gagal memenuhi tanggung jawab kepemimpinannya. Banyak yang memandang keputusan tersebut sebagai langkah yang wajar untuk menghindari dampak negatif bekerja di bawah pemimpin yang toksik.

Berbagai alasan utama seseorang meninggalkan pekerjaan pada dasarnya berkaitan dengan beberapa hal berikut:

* Karyawan merasa perusahaan lebih mengutamakan keuntungan dibanding perlakuan terhadap manusia.
* Mereka tidak menyukai atasan langsung yang memimpin mereka.
* Mereka menilai perusahaan gagal merekrut atau mempertahankan talenta berkinerja tinggi.
* Kesempatan pengembangan karier dinilai tidak memadai untuk masa depan.
* Kemampuan dan keterampilan mereka tidak dimanfaatkan secara optimal.
* Mereka harus pindah ke perusahaan lain untuk mendapatkan kemajuan karier.

Menariknya, hampir semua faktor tersebut berkaitan langsung dengan peran dan kualitas manajer.

Tiga Kata yang Menjelaskan Mengapa Orang Memilih Pergi

Jika dirangkum, alasan terbesar karyawan meninggalkan pekerjaan dapat disederhanakan menjadi tiga kata:

“Mereka tidak dihargai.”

Ketika karyawan tidak diperlakukan dengan hormat sebagai pekerja maupun sebagai manusia, ketika mereka tidak mendapatkan dukungan dan kesempatan berkembang, ketika hambatan yang mengganggu kinerja mereka tidak diselesaikan, serta ketika suara mereka diabaikan, maka keterikatan terhadap pekerjaan mulai menurun.

Proses tersebut bahkan bisa terjadi hanya dalam hitungan minggu setelah seseorang bergabung dengan perusahaan baru. Jika keadaan tidak berubah, karyawan perlahan kehilangan komitmen intelektual dan emosional terhadap pekerjaannya.

Saat keterlibatan sudah hilang dan mereka merasa tidak lagi memiliki hubungan dengan pekerjaan maupun organisasinya, langkah berikutnya sering kali mudah ditebak: mulai memperbarui daftar riwayat hidup dan mencari peluang baru di tempat lain.