(Business Lounge Journal – News and Insight)
Ketika berbicara tentang industri cokelat dunia, nama-nama seperti KitKat, Toblerone, Cadbury, Ferrero Rocher, atau Hershey’s biasanya lebih mudah dikenali. Namun, di balik banyak merek terkenal tersebut terdapat sebuah perusahaan yang justru memiliki peran jauh lebih besar dalam rantai pasok global: Barry Callebaut.
Bagi masyarakat Indonesia, nama Barry Callebaut mungkin masih terdengar asing. Hal itu wajar karena perusahaan asal Swiss ini bukan produsen cokelat yang menjual produk langsung ke konsumen. Mereka bergerak di belakang layar sebagai pemasok cokelat, kakao, dan berbagai bahan baku untuk ribuan perusahaan makanan dan minuman di seluruh dunia.
Padahal, Barry Callebaut adalah produsen cokelat dan pengolah kakao terbesar di dunia. Perusahaan ini mengolah hampir satu juta ton kakao setiap tahun, setara sekitar seperlima volume kakao global. Bahan bakunya digunakan dalam sekitar satu dari empat produk cokelat dan kakao yang dikonsumsi dunia. Di antara pelanggannya terdapat perusahaan-perusahaan besar seperti Nestlé, produsen KitKat, serta berbagai merek makanan global lainnya.
Dengan pendapatan tahunan sekitar CHF 14,8 miliar, lebih dari 60 fasilitas produksi, dan lebih dari 13.000 karyawan, Barry Callebaut sesungguhnya merupakan salah satu pemain paling penting dalam industri makanan global.
Krisis Kakao yang Mengubah Permainan
Beberapa tahun terakhir bukanlah masa yang mudah bagi industri cokelat.
Gagal panen di negara produsen utama seperti Ghana dan Ivory Coast membuat harga kakao melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketidakpastian pasokan, perubahan permintaan konsumen, serta gejolak rantai pasok global menekan hampir seluruh pelaku industri.
Sebagai perusahaan yang mengolah kakao dalam skala sangat besar, Barry Callebaut terkena dampak lebih besar dibanding banyak perusahaan cokelat konsumen. Volume penjualannya turun, profitabilitas tertekan, dan investor mulai mempertanyakan arah strategis perusahaan. Bahkan pada awal 2026 terjadi pergantian kepemimpinan setelah muncul perbedaan pandangan mengenai masa depan bisnis perusahaan.
Salah satu perdebatan terbesar saat itu adalah apakah unit bisnis kakao perlu dipisahkan dari bisnis cokelat yang lebih menguntungkan. Sebagian pihak menilai langkah tersebut dapat mengurangi paparan terhadap volatilitas harga komoditas. Namun dewan direksi akhirnya memutuskan mempertahankan model bisnis terintegrasi yang selama ini menjadi keunggulan perusahaan.
Masuknya Hein Schumacher
Di tengah upaya perusahaan untuk kembali mempercepat pertumbuhan, Barry Callebaut menunjuk Hein Schumacher sebagai CEO pada Januari 2026.
Schumacher merupakan salah satu eksekutif paling berpengalaman di industri makanan global. Sebelum bergabung dengan Barry Callebaut, ia memimpin Unilever, perusahaan consumer goods yang menaungi berbagai merek terkenal seperti Dove, Lifebuoy, Sunsilk, dan Wall’s. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai CEO Royal FrieslandCampina, salah satu perusahaan susu terbesar di dunia.
Pengalamannya di sektor pangan dan barang konsumsi menjadikannya sosok yang dinilai memahami kompleksitas rantai pasok global, mulai dari pengadaan bahan baku hingga kebutuhan pelanggan di berbagai pasar. Rekam jejak tersebut membuat dewan direksi Barry Callebaut percaya bahwa Schumacher dapat membawa perspektif baru bagi perusahaan.
Penunjukannya mendapat perhatian investor karena terjadi pada saat industri kakao sedang menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat lonjakan harga bahan baku dan ketidakpastian pasokan global. Karena itu, pasar menantikan arah baru yang akan dibawa Schumacher bagi perusahaan yang menguasai sebagian besar rantai pasok cokelat dunia.
Strategi Baru: Fokus pada Pertumbuhan yang Menguntungkan
Pada awal Juni 2026, Schumacher memperkenalkan strategi jangka menengah pertamanya sejak menjabat CEO. Berbeda dengan pendekatan yang mengejar volume semata, strategi ini menempatkan profitabilitas sebagai prioritas utama.
Perusahaan menargetkan:
- Pertumbuhan laba operasional berulang (recurring operating profit) pada kisaran menengah hingga tinggi satu digit per tahun.
- Pertumbuhan volume penjualan sebesar 2% hingga 4% dalam jangka menengah.
- Peningkatan volume sebesar 1% hingga 3% dalam satu hingga satu setengah tahun ke depan.
Bagi sebagian investor, target tersebut terlihat konservatif. Namun justru di situlah filosofi Schumacher terlihat.
Alih-alih mengejar pertumbuhan agresif di tengah pasar yang belum sepenuhnya pulih, ia memilih membangun fondasi bisnis yang lebih sehat. Fokus utamanya adalah memperbaiki kualitas pertumbuhan, meningkatkan margin, memperkuat hubungan dengan pelanggan, dan memastikan perusahaan lebih tahan terhadap fluktuasi harga kakao.
Strategi ini juga melanjutkan program transformasi “BC Next Level” yang telah dimulai sebelumnya untuk menyederhanakan operasi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat posisi perusahaan di pasar global.
Pelajaran Kepemimpinan dari Industri yang Tidak Terlihat
Kisah Barry Callebaut menarik karena menunjukkan bahwa perusahaan paling berpengaruh sering kali bukan yang paling terkenal.
Mayoritas konsumen mungkin tidak pernah membeli produk dengan merek Barry Callebaut. Namun ketika mereka menikmati es krim, biskuit, permen, atau cokelat favorit mereka, ada kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari perusahaan ini. Dalam kondisi seperti itu, tantangan seorang CEO juga berbeda. Ia tidak hanya harus memahami perilaku konsumen, tetapi juga mengelola harga komoditas global, rantai pasok internasional, hubungan dengan ribuan pelanggan industri, serta ekspektasi investor.
Hein Schumacher kini menghadapi tugas yang tidak sederhana: memimpin perusahaan yang berada di jantung industri cokelat dunia pada saat industri tersebut sedang mengalami perubahan besar. Namun justru karena itulah langkahnya menjadi menarik untuk diperhatikan.
Jika berhasil, Schumacher tidak hanya akan mengembalikan pertumbuhan Barry Callebaut. Ia juga akan menunjukkan bagaimana kepemimpinan yang efektif bukan selalu tentang menciptakan gebrakan besar, melainkan tentang membangun kembali fondasi bisnis yang kuat di tengah ketidakpastian.
Bagi para pemimpin perusahaan dan entrepreneur, itulah pelajaran yang paling relevan dari kisah raksasa cokelat yang selama ini bekerja di balik layar.

