Middle Manager: Jabatan Paling Stres Sekaligus Paling Penting di 2026

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital, adopsi kecerdasan buatan, dan restrukturisasi organisasi yang semakin agresif, perhatian perusahaan cenderung tersedot ke dua kutub ekstrem: pimpinan puncak yang merumuskan strategi, dan talenta digital yang menjalankan inovasi di garis depan. Namun, di antara keduanya, ada satu lapisan yang justru paling menentukan—namun paling sering diabaikan: middle manager.

Mereka bukan CEO yang menentukan arah besar organisasi, bukan pula staf operasional yang menjalankan eksekusi teknis sehari-hari. Mereka berada di ruang yang sering kali tidak terlihat—di tengah—menerjemahkan visi menjadi tindakan, strategi menjadi target, dan ambisi perusahaan menjadi realitas kerja tim. Setiap perubahan kebijakan, setiap inisiatif baru, hingga setiap tekanan bisnis pada akhirnya bermuara pada mereka.

Dalam praktiknya, middle manager adalah “translator” organisasi. Mereka harus memahami bahasa strategis para eksekutif, sekaligus berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh tim. Mereka dituntut untuk menjadi pemimpin, coach, problem solver, sekaligus penjaga moral tim—sering kali dalam waktu yang bersamaan.

Namun di balik peran yang krusial tersebut, terdapat sebuah paradoks yang jarang dibicarakan. Semakin besar ekspektasi terhadap mereka, semakin sedikit perhatian yang diberikan. Middle manager diminta untuk menjaga engagement tim, mendorong produktivitas, dan memastikan transformasi berjalan mulus—namun sering kali tanpa dukungan yang memadai, tanpa pelatihan yang cukup, bahkan tanpa ruang untuk bernapas.

Ironisnya, justru di posisi inilah tekanan terbesar terkumpul. Mereka menanggung beban dari atas sekaligus dari bawah—menghadapi target yang semakin tinggi, sementara di saat yang sama harus memahami kebutuhan individu dalam tim yang semakin kompleks. Dalam banyak kasus, mereka tidak hanya mengelola pekerjaan, tetapi juga emosi, konflik, dan ketidakpastian.

Di era di mana organisasi berlomba menjadi lebih agile dan efisien, peran middle manager justru semakin berat. Struktur organisasi yang semakin ramping membuat satu manager menangani lebih banyak orang, lebih banyak proyek, dan lebih banyak ekspektasi. Akibatnya, posisi ini perlahan berubah menjadi salah satu peran paling strategis—sekaligus paling rentan—dalam organisasi modern.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana namun krusial: jika middle manager adalah kunci keberhasilan eksekusi, mengapa mereka justru menjadi kelompok yang paling tertekan?

1. 70% Engagement Ditentukan oleh Manager—Bukan HR, Bukan CEO

Selama ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mengalokasikan anggaran besar untuk membangun employer branding yang kuat, merancang program employee experience yang menarik, hingga mengadopsi berbagai teknologi HR terbaru. Semua inisiatif tersebut dirancang untuk meningkatkan keterlibatan karyawan atau employee engagement. Namun, di balik kompleksitas strategi tersebut, data justru menunjukkan bahwa faktor paling menentukan jauh lebih sederhana: manager langsung.

Riset dari Gallup menemukan bahwa sekitar 70% variasi engagement karyawan ditentukan oleh manager. Temuan ini mengubah cara pandang terhadap bagaimana engagement sebenarnya terbentuk di dalam organisasi. Engagement bukan semata hasil dari program perusahaan yang terstruktur rapi atau kampanye internal yang masif, melainkan lahir dari interaksi sehari-hari—dari cara seorang atasan berkomunikasi, memberi arahan, mendengarkan, hingga menunjukkan empati kepada timnya.

Lebih jauh lagi, dampaknya tidak berhenti pada aspek psikologis semata. Engagement memiliki korelasi langsung dengan berbagai indikator kinerja bisnis, mulai dari produktivitas, profitabilitas, hingga tingkat retensi karyawan. Artinya, kualitas hubungan antara manager dan timnya tidak hanya memengaruhi suasana kerja, tetapi juga menentukan seberapa efektif organisasi dapat mencapai tujuannya.

Dalam konteks ini, middle manager sejatinya berperan sebagai multiplier effect terbesar dalam organisasi. Mereka bukan hanya perantara, tetapi pengungkit yang dapat memperkuat—atau justru melemahkan—kinerja tim secara keseluruhan. Namun di sinilah paradoks muncul. Di satu sisi, perusahaan sangat bergantung pada peran mereka untuk menjaga engagement dan kinerja. Di sisi lain, kelompok ini justru sering luput dari investasi yang memadai, baik dalam bentuk pelatihan, pengembangan kepemimpinan, maupun dukungan sistem yang berkelanjutan.

2. Jabatan yang Paling Dibutuhkan—Tapi Paling Burnout

Jika manager adalah kunci utama dalam membangun engagement, maka secara logika mereka seharusnya menjadi kelompok yang paling mendapat dukungan. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Data dari Gallup mengungkapkan bahwa hanya sekitar 35% manager yang benar-benar merasa engaged dalam pekerjaannya. Angka ini menunjukkan ironi yang cukup tajam: mereka yang bertanggung jawab menjaga keterlibatan tim justru tidak selalu merasakan keterlibatan itu sendiri. Di saat yang sama, banyak manager menghadapi tekanan kerja yang tinggi, beban kerja yang berlebihan, serta konflik prioritas yang terus-menerus muncul dalam keseharian mereka.

Akar masalahnya tidak sederhana. Di satu sisi, mereka harus memenuhi ekspektasi dari atas—mulai dari target kinerja, KPI, hingga tuntutan transformasi organisasi yang semakin cepat. Di sisi lain, mereka juga berhadapan langsung dengan kebutuhan tim di bawahnya—mulai dari menjaga engagement, memahami dinamika individu, hingga menyelesaikan konflik internal. Di tengah dua tekanan tersebut, banyak manager tidak dibekali dengan pelatihan kepemimpinan yang memadai. Tidak sedikit pula yang naik ke posisi manajerial bukan karena kesiapan memimpin, melainkan karena performa individu yang baik di peran sebelumnya.

Situasi ini semakin kompleks seiring dengan perubahan struktur organisasi. Dalam laporan yang dikutip oleh Business Insider, disebutkan bahwa banyak manager kini harus mengelola tim yang lebih besar dibanding sebelumnya, seiring meningkatnya span of control. Tidak hanya itu, mereka juga sering kali memikul tanggung jawab tambahan di luar peran utamanya. Kombinasi dari tuntutan yang semakin luas dan sumber daya yang terbatas ini pada akhirnya memicu burnout yang bersifat sistemik di level manajerial.

Fenomena ini bahkan melahirkan istilah baru dalam dunia kerja modern: “the overloaded middle”—sebuah gambaran tentang lapisan organisasi yang paling kelelahan, namun tetap menjadi tulang punggung dalam menjaga agar organisasi tetap berjalan.

3. Kasus Nyata: Ketika Manager Collapse, Perusahaan Ikut Turun

Penurunan tingkat engagement global dalam beberapa tahun terakhir bukanlah sebuah kebetulan. Di balik angka-angka tersebut, banyak analis mulai mengarah pada satu akar masalah yang sering luput dari perhatian: semakin menurunnya engagement para manager itu sendiri.

Laporan dari Gallup menunjukkan bahwa engagement karyawan secara global mengalami penurunan yang signifikan. Yang menarik, penurunan ini tidak terjadi secara merata, melainkan sangat dipengaruhi oleh turunnya tingkat engagement di kalangan manager. Dengan kata lain, ketika manager kehilangan keterlibatan, efeknya merambat ke seluruh tim yang mereka pimpin. Dampaknya pun tidak kecil—bahkan disebut berkontribusi pada kerugian ekonomi global hingga ratusan miliar dolar, sebagaimana disoroti oleh Business Insider.

Fenomena ini semakin terlihat jelas jika kita melihat tren organisasi modern yang mengarah pada flattening organization. Banyak perusahaan besar mulai memangkas layer manajemen untuk menciptakan struktur yang lebih ramping dan lincah. Dalam model ini, satu manager kini harus menangani jumlah karyawan yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya.

Di satu sisi, pendekatan ini memang membawa keuntungan. Proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, birokrasi berkurang, dan organisasi terasa lebih agile. Namun di sisi lain, ada konsekuensi yang tidak selalu terlihat secara langsung: menurunnya kualitas engagement.

Perusahaan seperti Amazon dan Meta menjadi contoh bagaimana struktur yang lebih ramping mendorong efisiensi, tetapi sekaligus meningkatkan tekanan pada manager untuk mengelola lebih banyak orang dalam waktu yang sama. Dengan span of control yang semakin luas, ruang untuk membangun hubungan yang personal dengan setiap anggota tim menjadi semakin terbatas.

Di sinilah muncul dilema klasik organisasi modern: efisiensi meningkat, tetapi human connection justru menurun. Padahal, di era yang semakin didominasi oleh AI dan automasi, justru aspek manusialah yang menjadi pembeda utama. Ketika teknologi dapat menggantikan banyak fungsi operasional, kemampuan membangun koneksi, empati, dan kepercayaan menjadi nilai yang tidak tergantikan—dan peran tersebut berada tepat di tangan para manager.

Krisis yang Tidak Terlihat, Tapi Sangat Nyata

Middle manager bukan sekadar “lapisan tengah” dalam struktur organisasi. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan strategi dengan eksekusi, mengubah visi besar perusahaan menjadi realitas yang dijalankan setiap hari. Di tangan merekalah arah organisasi diterjemahkan menjadi tindakan yang konkret, target yang terukur, dan ritme kerja yang dapat dijalankan oleh tim.

Namun, dalam praktiknya hari ini, banyak perusahaan terjebak dalam paradoks yang sama. Mereka sangat bergantung pada peran middle manager untuk memastikan roda organisasi tetap bergerak. Mereka juga terus menambah beban—baik dalam bentuk target, tanggung jawab, maupun ekspektasi yang semakin kompleks. Tetapi di saat yang sama, dukungan yang diberikan tidak selalu sebanding. Pengembangan kepemimpinan sering kali minim, sistem kerja tidak selalu dirancang untuk membantu mereka, dan ruang untuk berkembang sebagai pemimpin kerap terabaikan.

Jika tren ini terus berlanjut, risikonya tidak hanya berhenti pada menurunnya engagement karyawan. Dampak yang lebih dalam adalah melemahnya kemampuan organisasi dalam mengeksekusi strategi. Karena sekuat apa pun visi yang dirancang di level atas, dan sebaik apa pun talenta yang dimiliki di level operasional, semuanya akan kehilangan arah tanpa peran middle manager yang efektif.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik strategi disusun, tetapi oleh seberapa baik strategi tersebut diterjemahkan dalam praktik. Dan di titik inilah peran mereka yang berada di tengah menjadi penentu—sering kali tanpa sorotan, namun dengan dampak yang sangat nyata.