IBM Tancap Gas di Komputasi Kuantum, Ambisi Besar di Dubai

IBM semakin serius menempatkan komputasi kuantum sebagai pilar utama masa depan teknologi global. Hal ini ditegaskan langsung oleh CEO IBM, Arvind Krishna, dalam perbincangannya dengan Richard Quest dari CNN di ajang World Government Summit yang digelar di Dubai pada tanggal 3 – 5 Februari 2026. Acara ini dihadiri lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan serta lebih dari 15 wakil kepala negara hadir secara keseluruhan. Delegasi perwakilan dari lebih dari 150 pemerintahan. Selain itu juga lebih dari 700 CEO perusahaan global hadir untuk berdiskusi kolaborasi strategi dan masa depan pemerintahan.

Dalam wawancara tersebut, Krishna memaparkan bagaimana investasi besar IBM di bidang kuantum bukan sekadar eksperimen ilmiah, melainkan strategi jangka panjang untuk mengubah cara dunia memecahkan masalah kompleks.

Menurut Arvind Krishna, komputasi kuantum memiliki potensi untuk melampaui batas kemampuan komputer konvensional, terutama dalam menangani perhitungan yang sangat rumit. Ia mencontohkan sektor seperti pengembangan obat-obatan, riset material baru, optimasi rantai pasok global, hingga keamanan siber sebagai bidang yang akan sangat terdampak oleh kemajuan teknologi ini. “Ada masalah-masalah yang secara praktis mustahil diselesaikan oleh komputer klasik, tetapi bisa menjadi mungkin dengan komputer kuantum,” ujar Krishna.

IBM sendiri telah berinvestasi miliaran dolar selama bertahun-tahun untuk mengembangkan ekosistem kuantum, mulai dari perangkat keras, perangkat lunak, hingga akses cloud. Salah satu langkah penting IBM adalah membuka akses komputer kuantum melalui platform cloud mereka, sehingga peneliti, startup, dan institusi pendidikan di seluruh dunia bisa ikut bereksperimen dan berinovasi tanpa harus membangun mesin kuantum sendiri yang sangat mahal dan kompleks.

Dalam wawancara tersebut, Krishna juga menekankan bahwa komputasi kuantum bukan teknologi yang akan menggantikan komputer klasik sepenuhnya. Sebaliknya, keduanya akan saling melengkapi. Komputer klasik tetap unggul untuk tugas-tugas sehari-hari, sementara komputer kuantum akan digunakan untuk perhitungan khusus yang membutuhkan kekuatan eksponensial. Pendekatan hibrida inilah yang menurut IBM akan menjadi standar di masa depan.

World Government Summit menjadi panggung strategis bagi IBM untuk menyampaikan visinya, mengingat banyak pemerintah kini berlomba-lomba membangun kedaulatan teknologi. Krishna menilai kolaborasi antara sektor publik dan swasta sangat krusial agar manfaat komputasi kuantum bisa dirasakan lebih luas, bukan hanya oleh negara maju atau perusahaan teknologi besar. Ia juga menyinggung pentingnya regulasi yang adaptif agar inovasi tidak terhambat, namun tetap aman dan bertanggung jawab.

Meski potensi komputasi kuantum sangat besar, Krishna mengakui bahwa tantangannya juga tidak kecil. Stabilitas qubit, biaya pengembangan, serta ketersediaan talenta menjadi pekerjaan rumah utama. Namun ia optimistis, dengan laju investasi dan riset yang terus meningkat, terobosan besar akan semakin dekat.

Pernyataan Arvind Krishna di Dubai menegaskan satu hal: bagi IBM, komputasi kuantum bukan sekadar janji masa depan, melainkan fondasi nyata untuk transformasi teknologi global dalam beberapa dekade ke depan. Jika ambisi ini terwujud, cara manusia memecahkan masalah paling rumit di dunia bisa berubah secara fundamental.