Bahaya Taruhan Online bagi Generasi Muda

Ketika Dave Ramsey, pakar keuangan asal Amerika Serikat, lewat akun X miliknya, menulis bahwa taruhan olahraga online “menghancurkan satu generasi pria muda”, banyak orang langsung tersinggung. Terlalu berlebihan, kata sebagian. Terlalu menggurui, kata yang lain. Tapi justru di situlah masalahnya: pernyataan itu tidak nyaman karena menyentuh sesuatu yang nyata — dan kita enggan mengakuinya.

Bagi yang belum familiar, Dave Ramsey dikenal sebagai sosok yang sangat vokal soal disiplin keuangan. Ia anti utang konsumtif, anti jalan pintas finansial, dan selalu menekankan pentingnya kerja keras serta perencanaan jangka panjang. Jadi, ketika ia menyoroti fenomena taruhan olahraga online, banyak orang langsung angkat alis: memang separah itu?

Di era aplikasi dan ponsel pintar, taruhan olahraga memang berubah total. Kalau dulu identik dengan kasino atau bandar gelap, kini semuanya tinggal satu klik. Nonton pertandingan bola sambil pasang taruhan jadi terasa “normal”. Masalahnya, kemudahan inilah yang menurut Ramsey berbahaya. Banyak anak muda tergoda sensasi cepat untung, tanpa benar-benar paham risiko kalah yang sama besarnya.

Taruhan olahraga online hari ini bukan lagi soal judi klasik. Ini adalah produk teknologi, dirancang dengan UX yang halus, notifikasi yang agresif, dan narasi “strategi” yang membuatnya tampak seperti keputusan rasional, bukan spekulasi. Anak muda tidak merasa sedang berjudi. Mereka merasa sedang “bermain pintar”.

Di sinilah kritik Ramsey menjadi relevan, meski terdengar kasar.

Masalah utama taruhan online bukan semata uang yang hilang, tetapi pola pikir yang terbentuk. Generasi muda dilatih untuk percaya bahwa hasil besar bisa datang dari tebakan cepat. Bahwa analisis singkat, insting, dan sedikit keberuntungan cukup untuk menang. Pola ini bertabrakan langsung dengan realitas membangun kekayaan yang sesungguhnya: lambat, membosankan, disiplin, dan penuh penundaan kepuasan.

Ironisnya, semua ini terjadi di tengah krisis ekonomi generasi muda. Upah stagnan, harga rumah melonjak, biaya hidup makin tinggi. Dalam situasi seperti ini, taruhan online tampil sebagai pelarian psikologis — harapan palsu bahwa satu kemenangan bisa “mengubah hidup”. Padahal, statistik berkata sebaliknya: yang konsisten untung hanyalah platformnya.

Para pembela taruhan online sering berkata, “Masalahnya bukan judinya, tapi orangnya.” Pernyataan ini terdengar masuk akal, tapi juga berbahaya. Logika yang sama bisa dipakai untuk rokok, junk food, atau media sosial adiktif. Ketika sebuah industri secara sadar didesain untuk mengeksploitasi impuls dan dopamin, menyalahkan individu sepenuhnya adalah bentuk pengingkaran struktural.

Dave Ramsey memang bukan figur yang lembut. Ia jarang menawarkan empati sebelum kritik. Tapi kali ini, pesannya menyorot sesuatu yang jarang dibicarakan secara jujur: krisis kedewasaan finansial. Taruhan online tidak sekadar menggerus dompet, tetapi mengikis nilai kerja, kesabaran, dan tanggung jawab — tiga fondasi utama stabilitas hidup jangka panjang.

Apakah taruhan online sendirian “menghancurkan generasi”? Mungkin tidak. Tapi ia adalah simptom kuat dari budaya yang lebih besar: budaya instan, cepat cuan, dan alergi terhadap proses. Jika generasi muda terus diarahkan untuk mencari sensasi menang ketimbang membangun kompetensi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya uang — melainkan masa depan itu sendiri.

Dave Ramsey mungkin terdengar kejam. Tapi kadang, peringatan paling penting memang tidak datang dengan nada lembut.