Manajer, AI, dan Kepemimpinan Baru di 2026: Bukan Sekadar Otomatisasi

(Business Lounge Journal – General Management)

Tahun 2025 menjadi titik balik adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja. Di banyak organisasi, AI tak lagi diperlakukan sebagai proyek eksperimen atau sekadar “tools tambahan”, melainkan mulai masuk ke inti operasional. Namun satu persoalan tetap muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia: teknologinya tersedia, tetapi manusianya belum sepenuhnya siap.

Sebuah studi MIT menunjukkan bahwa 91% pemimpin data di perusahaan besar menganggap tantangan utama AI bukanlah teknologi, melainkan budaya dan manajemen perubahan. Hanya 9% yang menyebut keterbatasan teknologi sebagai hambatan. Temuan ini relevan dengan kondisi Indonesia, di mana banyak perusahaan sudah menggunakan AI untuk analisis data, HR, atau pemasaran, tetapi masih bingung menentukan siapa yang bertanggung jawab, bagaimana keputusan diambil, dan sejauh mana AI boleh “ikut campur”.

Di sinilah peran manajer berubah secara fundamental pada 2026.

AI Mengubah Peran Manajer, Bukan Menggantinya

Survei Legion Technologies terhadap para manajer menunjukkan ekspektasi yang cukup realistis: AI diharapkan mempermudah penjadwalan, mengurangi beban administratif, dan memperbaiki proses onboarding. Di Indonesia, kebutuhan ini terasa nyata, terutama di sektor padat karya, ritel, manufaktur, dan layanan publik, di mana manajer kerap terjebak pada pekerjaan operasional berulang.

Namun efisiensi hanyalah permukaan. Seperti dikatakan Sam Altman, CEO OpenAI, “AI will not replace people, but people who use AI effectively will replace those who don’t.

Pernyataan ini menggarisbawahi satu hal penting: AI bukan ancaman bagi manajer, melainkan ujian kepemimpinan baru. Manajer yang gagal memahami AI akan tertinggal, bukan karena teknologinya, tetapi karena ketidakmampuan beradaptasi.

Dari Pengawas Pekerjaan ke Perancang Pengalaman Kerja

Di Indonesia, posisi manajer masih sering dipersepsikan sebagai pengawas: memastikan laporan masuk, target tercapai, dan prosedur dipatuhi. AI mulai menggeser fungsi ini. Ketika pencatatan, pelaporan, hingga analisis kinerja bisa dilakukan oleh sistem, nilai tambah manajer berpindah ke wilayah yang lebih manusiawi: coaching, pengambilan keputusan, dan membangun kepercayaan tim.

Sundar Pichai, CEO Google, pernah menyatakan bahwa AI adalah “more profound than electricity or fire”. Artinya, dampaknya bukan sekadar mempercepat kerja, tetapi mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Dalam konteks manajemen, AI memungkinkan manajer berhenti menjadi “penyambung pesan” dan mulai berperan sebagai pemberi konteks dan arah.

Manajer Kini Harus Mengelola AI, Bukan Hanya Tim

Masuk ke 2026, tantangan baru muncul: AI juga perlu diawasi. Sistem AI bisa membuat ringkasan rapat, memprediksi performa, hingga memberi rekomendasi keputusan. Namun tanggung jawab tetap berada pada manusia.

Di Indonesia, isu ini menjadi krusial karena banyak organisasi masih minim tata kelola AI. Tanpa pengawasan manajer, AI berisiko memperkuat bias, salah membaca konteks lokal, atau mendorong keputusan yang tidak selaras dengan nilai perusahaan. Seperti yang sering ditekankan oleh para pemimpin teknologi global, AI harus dilihat sebagai co-pilot, bukan auto-pilot. Keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia—terutama dalam budaya kerja Indonesia yang sangat dipengaruhi relasi, empati, dan sensitivitas sosial.

Budaya Kerja Indonesia: Tantangan dan Peluang

Indonesia memiliki tantangan unik: struktur organisasi yang hierarkis, budaya sungkan, dan kecenderungan menghindari konflik. AI justru bisa menjadi alat untuk menciptakan kejelasan—asal digunakan dengan transparan. Jika AI membantu menjelaskan prioritas kerja, mendeteksi hambatan tim, dan memastikan informasi benar-benar dipahami, maka manajer bisa mengurangi miskomunikasi yang selama ini menjadi sumber kelelahan dan burnout.

Namun jika AI hanya digunakan untuk menambah target, memperketat pengawasan, atau mempercepat ritme tanpa redesign kerja, dampaknya justru kontraproduktif.

2026: Kepemimpinan Bukan Lagi Soal Kontrol, tapi Kurasi

Memasuki 2026, manajer akan menghadapi paradoks: tanggung jawab bertambah, tetapi beban rutin berkurang. Mereka tidak lagi mengontrol setiap detail, melainkan mengkurasi informasi, memvalidasi rekomendasi AI, dan memastikan teknologi bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya.

Seperti yang disampaikan banyak eksekutif teknologi, masa depan kerja bukan tentang bekerja lebih cepat, melainkan bekerja lebih bermakna. Manajer yang berhasil adalah mereka yang menggunakan AI untuk membuka ruang refleksi, dialog, dan keputusan yang lebih berkualitas.

AI mungkin adalah “karyawan baru” di organisasi, tetapi kepemimpinan tetaplah urusan manusia. Dan di situlah peran manajer Indonesia diuji—bukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan cara memimpinnya.