Airbnb

Airbnb Catat Pertumbuhan 19%, Perluas Bisnis untuk Menjawab Perubahan Tren Wisata

(Business Lounge Journal – News & Insight)

Permintaan perjalanan global masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini menjadi peluang bagi perusahaan di industri perjalanan untuk kembali memperkuat bisnisnya. Airbnb menjadi salah satu perusahaan yang berhasil memanfaatkan momentum tersebut. Platform penyewaan akomodasi ini mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 19% pada kuartal ketiga 2026 dan menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya ke kisaran high teens atau belasan persen bagian atas.

Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa pasar perjalanan belum kehilangan daya tariknya. Namun, pertumbuhan Airbnb juga tidak hanya ditopang oleh meningkatnya jumlah wisatawan. Perusahaan ini sedang memperluas penawaran produk, memperkuat kemitraan, dan meningkatkan efisiensi operasional agar tidak hanya bergantung pada bisnis penyewaan rumah dan apartemen.

Permintaan Perjalanan Menguat, Kinerja Airbnb Melampaui Ekspektasi

Dalam laporan keuangan yang diumumkan pada 5 November 2026, Airbnb mencatat pendapatan kuartal ketiga sebesar US$4,87 miliar, meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini melampaui perkiraan analis yang berada di kisaran US$4,75 miliar. Nilai pemesanan bruto atau Gross Booking Value (GBV) juga meningkat 21% menjadi US$27,7 miliar, sementara jumlah malam menginap dan kursi layanan yang dipesan mencapai 155 juta, naik 16% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut terjadi di berbagai wilayah pasar. Amerika Utara mencatat kenaikan pemesanan pada kisaran dua digit rendah, sedangkan kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) tumbuh pada kisaran belasan persen. Airbnb juga melaporkan pertumbuhan lebih dari 20% di Amerika Latin dan Asia Pasifik. Di Amerika Utara, jumlah malam yang dipesan bahkan tumbuh pada laju tercepat dalam empat tahun terakhir.

Perusahaan juga melihat peningkatan jumlah pengguna baru. Pertumbuhan pemesan pertama kali mencapai 13% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi yang tertinggi sejak awal 2022. Generasi Z tercatat sebagai kelompok dengan pertumbuhan paling cepat. Perkembangan ini penting karena menunjukkan bahwa Airbnb tidak hanya mempertahankan pelanggan lama, tetapi juga berhasil menarik kelompok wisatawan baru yang berpotensi menjadi pengguna jangka panjang.

Berdasarkan hasil tersebut, Airbnb menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 ke kisaran high teens, dari proyeksi sebelumnya yang setidaknya berada pada kisaran mid-teens. Perusahaan juga memperkirakan margin Adjusted EBITDA setahun penuh mencapai sekitar 36%. Kenaikan proyeksi ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap permintaan perjalanan sekaligus kemampuan perusahaan mengelola pertumbuhan dengan tingkat efisiensi yang lebih baik.

Meski demikian, prospek industri perjalanan tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Harga tiket pesawat yang tinggi dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi keputusan wisatawan, terutama untuk perjalanan internasional. Airbnb menyatakan tetap memantau perkembangan di kawasan Eropa dan Timur Tengah, meskipun perusahaan belum memperkirakan dampak material terhadap kinerja kuartal keempat dari situasi tersebut.

Tidak Hanya Menyewakan Rumah, Airbnb Memperluas Ekosistem Perjalanan

Salah satu langkah penting Airbnb adalah memperluas penawaran di luar akomodasi rumah dan apartemen. Perusahaan mulai mengembangkan kehadiran hotel butik dan hotel independen di platformnya. Dalam laporan kuartal ketiga, Airbnb menyebut telah memiliki ribuan hotel independen dan butik yang tersebar di lebih dari 60 destinasi utama dunia.

Langkah ini menjadi strategi untuk menjangkau wisatawan dengan kebutuhan yang lebih beragam. Tidak semua orang yang mencari akomodasi menginginkan pengalaman tinggal di rumah pribadi. Sebagian wisatawan tetap memilih hotel karena alasan lokasi, layanan, fasilitas, atau kenyamanan yang lebih familiar. Dengan menyediakan pilihan hotel, Airbnb berupaya menangkap permintaan tersebut tanpa harus meninggalkan identitas utamanya sebagai platform yang menawarkan berbagai pilihan tempat menginap.

Menariknya, Airbnb menyebut sekitar 35% tamu yang pertama kali memesan hotel melalui platformnya kemudian kembali untuk memesan rumah atau akomodasi lain. Angka ini memberi gambaran bahwa hotel dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan pengguna baru kepada layanan inti Airbnb. Dengan kata lain, perusahaan tidak sekadar menambah kategori produk, tetapi juga membangun jalur untuk memperluas basis pelanggannya.

Selain akomodasi, perusahaan juga memperluas layanan yang berkaitan dengan kebutuhan selama perjalanan. Layanan tersebut mencakup pengantaran makanan, laundry, perlengkapan bayi, penyewaan perlengkapan ski, penyewaan kapal, hingga pengantaran kebutuhan belanja. Airbnb juga melaporkan bahwa layanan penyewaan mobil yang diperkenalkan pada musim panas tahun ini terus mencatat pertumbuhan pemesanan.

Strategi ini memperlihatkan upaya Airbnb untuk mengambil peran lebih besar dalam keseluruhan perjalanan pelanggan. Sebelumnya, pengguna mungkin hanya membuka aplikasi ketika membutuhkan tempat menginap. Kini, perusahaan ingin agar platform tersebut juga menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan sebelum dan selama perjalanan. Semakin banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi melalui satu platform, semakin besar pula peluang perusahaan untuk meningkatkan frekuensi penggunaan dan nilai transaksi dari setiap pelanggan.

Airbnb juga mengembangkan kemitraan distribusi untuk memperluas jangkauan pasarnya. Pada Oktober 2026, perusahaan mengumumkan kerja sama dengan American Express yang memungkinkan pemegang kartu tertentu di Amerika Serikat mencari dan memesan lebih dari satu juta akomodasi Airbnb melalui kanal perjalanan American Express. Kemitraan serupa dengan Delta, Qantas, dan TAP Air Portugal juga menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau pelanggan melalui ekosistem perusahaan lain.

Dalam industri digital, perluasan jangkauan tidak selalu harus dilakukan dengan membangun saluran pemasaran sendiri. Kemitraan dapat membantu perusahaan bertemu dengan pelanggan di tempat mereka sudah terbiasa bertransaksi. Strategi ini juga membuka peluang untuk menjangkau segmen wisatawan yang memiliki daya beli dan kebiasaan perjalanan berbeda.

Teknologi dan Efisiensi Menjadi Penopang Pertumbuhan Berikutnya

Di tengah ekspansi layanan, Airbnb juga berupaya meningkatkan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi. Salah satu indikatornya terlihat dari biaya layanan pelanggan per pemesanan yang turun lebih dari 17% pada kuartal ketiga. Perusahaan menyebut sekitar 40% persoalan pelanggan pada periode tersebut dapat diselesaikan tanpa bantuan petugas manusia, meningkat dibandingkan sekitar sepertiga pada kuartal sebelumnya.

Kemampuan menyelesaikan lebih banyak persoalan secara otomatis dapat membantu perusahaan mengendalikan biaya ketika jumlah pengguna dan transaksi meningkat. Bagi platform digital dengan jutaan interaksi pelanggan, efisiensi layanan menjadi faktor penting. Jika setiap pertanyaan atau keluhan harus ditangani secara manual, pertumbuhan transaksi berpotensi diikuti kenaikan biaya operasional yang besar.

Airbnb juga sedang mengembangkan agen kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu pengguna merencanakan sekaligus memesan perjalanan. Perusahaan menargetkan peluncuran awal layanan tersebut pada paruh pertama 2027. Jika berjalan sesuai rencana, teknologi ini dapat mengubah cara pengguna mencari inspirasi perjalanan, membandingkan pilihan akomodasi, dan menyusun kebutuhan perjalanan dalam satu proses yang lebih terintegrasi.

Namun, penerapan AI dalam layanan perjalanan tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menjawab pertanyaan. Rekomendasi yang diberikan harus relevan dengan kebutuhan pengguna, informasi pemesanan harus akurat, dan persoalan yang membutuhkan penilaian manusia tetap harus dapat ditangani dengan baik. Kepercayaan pelanggan menjadi hal penting karena keputusan perjalanan sering melibatkan biaya yang tidak kecil dan jadwal yang sudah direncanakan jauh hari.

Di sisi lain, Airbnb juga menunjukkan keyakinan terhadap prospek bisnisnya melalui persetujuan program pembelian kembali saham tambahan hingga US$12 miliar. Langkah ini mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan dan arus kas pada masa mendatang. Meski demikian, pembelian kembali saham bukan pengganti investasi pada produk dan layanan. Perusahaan tetap perlu menjaga keseimbangan antara pengembalian modal kepada pemegang saham dan kebutuhan untuk memperkuat bisnis.

Ke depan, tantangan Airbnb bukan hanya mempertahankan pertumbuhan jumlah pemesanan. Persaingan datang dari hotel konvensional, platform perjalanan daring seperti Booking Holdings dan Expedia, serta penyedia akomodasi lokal yang memiliki pemahaman lebih dekat terhadap pasar masing-masing. Perubahan preferensi wisatawan juga menuntut perusahaan untuk terus menyesuaikan pilihan layanan, harga, dan pengalaman pengguna.

Pertumbuhan pendapatan 19% pada kuartal ketiga menunjukkan bahwa Airbnb masih memiliki ruang untuk berkembang. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengubah platform penyewaan akomodasi menjadi ekosistem perjalanan yang lebih lengkap. Dengan memperluas pilihan hotel, layanan tambahan, kemitraan, serta pemanfaatan teknologi, Airbnb sedang berupaya membangun alasan agar pelanggan tidak hanya datang untuk mencari tempat menginap, tetapi juga kembali menggunakan platform untuk kebutuhan perjalanan berikutnya.