(Business Lounge Journal – News and Insight)
Di tengah gelombang transformasi kecerdasan buatan, banyak perusahaan teknologi berlomba menunjukkan seberapa jauh AI telah mengubah cara mereka bekerja. Namun pernyataan terbaru dari CEO Airbnb, Brian Chesky, mungkin menjadi salah satu sinyal paling besar tentang arah masa depan dunia kerja. Dalam laporan terbaru perusahaan, Chesky mengungkapkan bahwa sekitar 60% kode baru di Airbnb kini ditulis dengan bantuan AI. Bukan hanya itu, ia juga mengatakan bahwa para manajer kini harus kembali “turun tangan” ke pekerjaan teknis dan tidak bisa lagi hanya berfungsi sebagai pengawas tim semata.
Pernyataan ini langsung memicu diskusi besar di industri teknologi. Apakah AI benar-benar akan mengubah struktur organisasi perusahaan? Dan apakah posisi middle management mulai kehilangan relevansinya?
AI Tidak Lagi Sekadar Alat Bantu
Selama beberapa tahun terakhir, AI generatif lebih sering diposisikan sebagai alat pendukung produktivitas. Namun di Airbnb, AI tampaknya sudah menjadi bagian inti dari proses bisnis.
Menurut Chesky, penggunaan AI memungkinkan tim engineering bekerja jauh lebih cepat dalam membangun fitur baru. Bahkan, untuk beberapa pekerjaan tertentu, satu engineer kini dapat melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan puluhan orang melalui bantuan AI agents. AI juga mulai digunakan di berbagai lini lain perusahaan. Airbnb menyebut chatbot AI mereka kini mampu menangani sekitar 40% pertanyaan customer service tanpa perlu diteruskan ke manusia.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa AI bukan lagi sekadar “co-pilot”, tetapi perlahan menjadi infrastructure layer baru dalam perusahaan digital.
Manajer Tidak Bisa Lagi Hanya Mengatur Orang
Bagian paling menarik dari pernyataan Chesky justru bukan soal AI menulis kode, melainkan perubahan terhadap peran manajer.
Ia mengatakan bahwa era “pure people manager” kemungkinan akan berakhir. Menurutnya, pemimpin masa depan harus memahami konteks pekerjaan secara langsung, bukan hanya mengadakan meeting dan one-on-one. Di Airbnb, beberapa design manager dan engineering manager bahkan mulai kembali coding menggunakan tools seperti Claude Code. Chesky percaya bahwa pemimpin yang tetap relevan adalah mereka yang mampu menjadi “player-coach” — memimpin sekaligus ikut terlibat dalam proses kerja.
Pandangan ini sejalan dengan tren yang mulai muncul di banyak perusahaan teknologi global. Struktur organisasi yang sebelumnya penuh lapisan manajemen kini mulai dibuat lebih ramping agar pengambilan keputusan menjadi lebih cepat.
Dalam konteks AI, perusahaan tampaknya mulai melihat bahwa nilai utama seorang pemimpin bukan lagi sekadar mengelola orang, tetapi kemampuan memahami sistem, produk, data, dan teknologi secara langsung.
Produktivitas Naik, Tetapi Risiko Baru Muncul
Meski terdengar revolusioner, penggunaan AI dalam pengembangan software juga membawa tantangan baru.
Sebuah penelitian terbaru di platform GitHub menunjukkan bahwa developer pemula yang terlalu bergantung pada AI memang mampu menghasilkan kode lebih banyak, tetapi kualitas review dan pengawasannya menjadi jauh lebih berat bagi tim senior. Artinya, AI memang mempercepat produksi, tetapi belum tentu mengurangi kebutuhan terhadap talenta berpengalaman.
Di sinilah muncul paradoks baru di dunia kerja: semakin mudah teknologi digunakan, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap manusia yang benar-benar memahami konteks, validasi, dan pengambilan keputusan.
Masa Depan Dunia Kerja Bukan Tentang Menggantikan Manusia
Apa yang terjadi di Airbnb kemungkinan hanyalah awal.
Perusahaan-perusahaan besar kini tidak lagi bertanya apakah AI akan digunakan, tetapi seberapa cepat organisasi mereka mampu beradaptasi. Mereka yang mampu memadukan skill teknis, pemahaman bisnis, dan kemampuan berkolaborasi dengan AI akan menjadi kelompok yang paling diuntungkan.
Sementara itu, pekerjaan yang hanya bersifat administratif, repetitif, atau sekadar koordinatif mulai menghadapi tekanan terbesar. Dalam banyak hal, AI tampaknya tidak sedang menggantikan manusia sepenuhnya. AI justru sedang mengubah definisi “manusia yang bernilai” di dunia kerja modern.

