(Business Lounge Journal – News and Insight)
Astana mencatat peningkatan posisi dalam Global Financial Centres Index edisi ke-40, dengan naik delapan peringkat, dari posisi 65 menjadi 57 dunia. Dalam indeks yang dirilis pada September 2026 tersebut, ibu kota Kazakhstan itu juga mempertahankan posisi sebagai pusat keuangan terkemuka di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah (Eastern Europe and Central Asia), yang telah ditempatinya selama lebih dari tiga tahun.
Peringkat Astana meningkat seiring dengan kenaikan skor sebesar 18 poin, dari 684 menjadi 702. Di tingkat regional, Astana diikuti Cyprus yang berada di peringkat 72 dunia dan Warsaw di posisi 78. Dengan demikian, terdapat selisih 15 peringkat antara Astana dan pesaing regional terdekatnya.
Kenaikan tersebut terjadi ketika rata-rata skor pusat-pusat keuangan di Eropa Timur dan Asia Tengah justru turun 1,09%. Meski demikian, penyusun indeks mencatat bahwa pusat-pusat keuangan terkemuka di kawasan tersebut terus memperkuat posisinya.
Astana juga masuk dalam daftar 10 pusat keuangan yang menurut responden diperkirakan akan memainkan peran lebih besar dalam sistem keuangan global dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Astana menempati posisi kesembilan dalam daftar tersebut dengan 45 penyebutan dari responden.
Dalam kategori FinTech, Astana juga mengalami peningkatan, naik empat peringkat dari posisi 55 menjadi 51.
Gubernur Astana International Financial Centre (AIFC) Renat Bekturov mengatakan peningkatan peringkat tersebut menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan komunitas keuangan internasional terhadap AIFC dan Kazakhstan. Menurutnya, peringkat bukan menjadi tujuan akhir, melainkan salah satu penilaian independen terhadap pengembangan lingkungan hukum dan regulasi, pasar modal, teknologi keuangan, serta hubungan internasional.
GFCI Menilai 117 Pusat Keuangan di Dunia
GFCI 40 menilai 139 pusat keuangan, dengan 117 di antaranya masuk dalam indeks utama. Pemeringkatan tersebut menggunakan 144 indikator kuantitatif yang berasal dari organisasi internasional, termasuk World Bank, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan United Nations.
Selain itu, indeks tersebut menggunakan 39.531 penilaian dari 6.147 profesional sektor keuangan. GFCI menilai pusat-pusat keuangan berdasarkan lima bidang utama, yaitu lingkungan bisnis, perkembangan sektor keuangan, infrastruktur, sumber daya manusia, dan reputasi.
Dalam lima tahun ke depan, responden mengidentifikasi sejumlah area yang perlu menjadi perhatian pusat-pusat keuangan. Hal tersebut mencakup pengembangan infrastruktur digital, termasuk teknologi cloud, transmisi data dan ketahanan siber; peningkatan daya tarik bagi perusahaan FinTech dan bisnis aset digital; penguatan sistem untuk memerangi pencucian uang dan kejahatan keuangan; serta pendalaman pasar modal.
New York mempertahankan posisi pertama dalam peringkat global, disusul London, Hong Kong, dan Singapore. Shanghai, Tokyo, Seoul, Shenzhen, Dubai, dan Zurich melengkapi 10 besar pusat keuangan dunia.
GFCI diterbitkan dua kali dalam setahun dan menjadi salah satu tolok ukur internasional untuk menilai daya saing pusat-pusat keuangan. Indeks ini disusun oleh lembaga think tank asal Inggris Z/Yen Group bersama China Development Institute (CDI).
Astana pertama kali masuk dalam GFCI pada Maret 2018 dan menjadi pusat keuangan terkemuka di Eropa Timur dan Asia Tengah pada Maret 2023. Menurut AIFC, pengembangan lingkungan hukum dan regulasi, infrastruktur keuangan, pasar modal dan aset digital, serta perluasan peluang bagi investor internasional dan regional turut mendukung posisi Astana dalam indeks tersebut.

