(Business Lounge-Global News) Ada kalanya sebuah produk muncul tanpa banyak perhatian, lalu dalam waktu relatif singkat terasa ada di mana-mana. Fenomena tersebut terjadi pada JonnyPops di Amerika Serikat pada musim panas 2026. Merek es loli asal Minnesota ini berkembang dari eksperimen mahasiswa di ruang bawah tanah asrama menjadi produk yang memenuhi freezer rumah tangga dan rak berbagai jaringan ritel besar. Menurut The Wall Street Journal, penjualan JonnyPops di peritel besar Amerika telah mencapai lebih dari US$170 juta dalam setahun terakhir, dengan sekitar separuh pendapatan perusahaan biasanya diperoleh selama musim panas. Angka tersebut menunjukkan bahwa produk yang terlihat sederhana dapat menciptakan pertumbuhan luar biasa ketika mampu menemukan kombinasi yang tepat antara rasa, inovasi, distribusi, dan kedekatan emosional dengan konsumen.
JonnyPops sebenarnya bukan kisah sukses yang muncul dalam semalam. Pendiri Erik Brust dan Connor Wray memulai bisnis tersebut ketika masih menjadi mahasiswa di St. Olaf College, Minnesota, pada 2012. Modal awal mereka hanya sekitar US$2.000 yang sebelumnya dikumpulkan untuk sebuah klub investasi bersama teman-temannya. Dari ruang bawah tanah asrama, mereka bereksperimen menggunakan blender dan cetakan sederhana, kemudian membawa produknya ke pasar petani dan berbagai lokasi yang memiliki dapur komersial. Perjalanan tersebut berlangsung selama lebih dari satu dekade sebelum JonnyPops akhirnya mendapatkan distribusi nasional. Perusahaan sendiri mengonfirmasi bahwa bisnis tersebut memang bermula dari eksperimen mahasiswa menggunakan buah dan blender sebelum berkembang menjadi manufaktur modern di Minnesota.
Yang membuat perkembangan JonnyPops menarik adalah keputusan perusahaan untuk tidak sekadar membuat lebih banyak varian rasa. Ketika permintaan makanan beku meningkat selama pandemi dan produsen besar berusaha meningkatkan kapasitas untuk produk yang sudah populer, JonnyPops justru mengambil arah berbeda. Mereka berinvestasi pada format produk yang lebih sulit dibuat, mulai dari es loli berlapis-lapis hingga bentuk dan kombinasi rasa yang tidak lazim. Strategi tersebut membuat produk memiliki daya tarik visual yang kuat sekaligus memberikan alasan bagi konsumen untuk mencoba sesuatu yang berbeda dari produk es beku konvensional. Dalam kategori yang selama bertahun-tahun relatif sederhana, inovasi bentuk menjadi cara untuk menciptakan ruang baru.
Pilihan tersebut sangat penting dalam industri makanan konsumen karena persaingan rak supermarket sangat ketat. Produk baru tidak cukup hanya mendapatkan perhatian konsumen; perusahaan juga harus meyakinkan peritel bahwa produk tersebut mampu menciptakan penjualan tambahan. JonnyPops berhasil menggunakan konsep yang oleh industri ritel disebut sebagai new to category, yakni menarik pembeli yang sebelumnya tidak terbiasa membeli produk sejenis. The Wall Street Journal melaporkan bahwa strategi tersebut membantu JonnyPops memperluas distribusi di Whole Foods. Awalnya produk diperkenalkan secara regional di Northern California, kemudian jumlah produknya ditambah secara bertahap hingga akhirnya pertumbuhannya berubah menjadi sangat cepat.
Pasar yang dimasuki JonnyPops juga sedang mengalami perubahan struktural. Menurut data perusahaan riset Circana yang dikutip The Wall Street Journal, konsumen Amerika menghabiskan lebih dari US$9 miliar per tahun untuk berbagai produk makanan beku sekali makan, dan kategori tersebut tumbuh sekitar 20% dalam lima tahun. Pertumbuhan itu tidak lagi hanya datang dari merek lama. Pendatang baru seperti GoodPop, Yasso, dan JonnyPops ikut mendorong kategori tersebut dengan menawarkan produk yang lebih inovatif dan memiliki positioning berbeda. Food & Wine juga menempatkan JonnyPops dalam daftar produk baru yang menarik di kategori makanan penutup beku, menunjukkan bahwa inovasi produk telah menjadi salah satu kekuatan penting dalam kategori tersebut.
Namun, produk yang menarik saja belum tentu menghasilkan loyalitas. JonnyPops memiliki strategi lain yang terlihat sederhana tetapi memiliki nilai pemasaran cukup besar. Setiap batang es loli diberi pesan yang mendorong konsumen melakukan kebaikan kecil. Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi program penghargaan ketika perusahaan menyadari bahwa konsumen justru menyimpan batang yang seharusnya dibuang. Konsumen dapat mengumpulkan batang tersebut untuk mendapatkan hadiah, bahkan hadiah tertinggi berupa kesempatan datang ke Minnesota dan menciptakan rasa baru di laboratorium riset perusahaan. Program ini mengubah aktivitas konsumsi menjadi permainan sekaligus menciptakan hubungan yang lebih panjang antara merek dan konsumennya.
Ada pula keputusan bisnis yang lebih mendasar, yaitu membangun kemampuan manufaktur sendiri. JonnyPops memproduksi produknya di Minnesota dan mengendalikan lebih banyak bagian dari proses produksi, mulai dari bahan hingga peralatan dan lini produksi. Strategi ini memang membutuhkan modal dan waktu, tetapi memberikan perusahaan kendali terhadap kualitas serta kemampuan menciptakan produk yang lebih rumit. Perusahaan juga menempatkan perhatian pada kebutuhan konsumen dengan memproduksi makanan di fasilitas bebas kacang dan menyediakan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan tertentu. Dalam bisnis makanan, kemampuan seperti ini dapat menjadi keunggulan operasional sekaligus bagian dari proposisi merek.
Fenomena JonnyPops memberikan pelajaran yang lebih luas bagi perusahaan consumer goods. Produk yang terlihat sederhana dapat menjadi merek besar jika perusahaan tidak hanya menjual produknya, tetapi membangun alasan bagi konsumen untuk membicarakannya, mencarinya, dan membelinya kembali. Warna yang mencolok, bentuk yang berbeda, pesan kebaikan pada batang, serta program penghargaan menciptakan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar menikmati makanan beku. Strategi tersebut juga memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan kategori baru. Kadang-kadang inovasi berarti mengambil produk lama, mengubah formatnya, lalu membuat konsumen melihatnya dengan cara yang berbeda.
Yang paling menarik adalah bagaimana JonnyPops berhasil menciptakan kesan sebagai fenomena yang muncul tiba-tiba, padahal fondasinya dibangun selama lebih dari satu dekade. Inilah yang membuat kisah tersebut relevan bagi dunia bisnis. The Wall Street Journal menyebutnya sebagai sebuah decadelong overnight success—kesuksesan semalam yang sebenarnya membutuhkan waktu sepuluh tahun. Ketika sebuah produk akhirnya terlihat berada di mana-mana, konsumen biasanya hanya melihat hasil akhirnya. Di balik fenomena tersebut terdapat investasi pada manufaktur, eksperimen produk, hubungan dengan peritel, pembangunan merek, dan pemahaman mendalam mengenai perilaku konsumen. JonnyPops menunjukkan bahwa dalam industri consumer goods, viralitas mungkin membawa perhatian, tetapi konsistensi operasionallah yang mengubah perhatian menjadi bisnis bernilai besar.

