(Business Lounge – Travel) Ada tempat-tempat yang dikunjungi untuk melihat bangunan bersejarah, museum, atau kehidupan kota. Islandia menawarkan sesuatu yang berbeda. Di negeri kecil di ujung utara Atlantik ini, alam bukan sekadar latar belakang perjalanan, melainkan pemeran utamanya. Air terjun yang jatuh dengan suara menggelegar, gunung berapi, gletser, pantai berpasir hitam, sumber air panas, dan lanskap vulkanik menciptakan pengalaman yang terasa hampir tidak nyata. Luas Islandia kira-kira setara dengan Virginia, tetapi penduduknya hanya sekitar 400.000 orang. Letaknya di antara Greenland dan Norwegia membuat negeri ini terasa jauh dan terpencil, namun justru keterpencilan itulah yang menjadi bagian dari pesonanya.
Reykjavík, pintu masuk menuju Islandia
Perjalanan yang ingin mengenal Islandia secara utuh dapat dimulai dari Reykjavík. Kota terbesar di negara ini sebenarnya masih terasa kecil dan bersahabat, tetapi memiliki kehidupan budaya yang cukup dinamis. Jalan-jalannya dipenuhi restoran, toko, seni jalanan, mural warna-warni, serta bangunan yang memperlihatkan pertemuan antara warisan lama dan kehidupan modern. Reykjavík memiliki karakter yang artistik dan bohemian, sementara rumah-rumah kayu berwarna cerah yang dilapisi seng bergelombang mengingatkan bahwa masyarakat di sini sejak lama harus beradaptasi dengan cuaca yang keras. Bahkan pada musim panas, udara dapat tetap dingin dan angin dapat berubah dengan cepat.
Di tengah kota berdiri Hallgrímskirkja, gereja ikonik yang bentuknya terinspirasi lanskap vulkanik Islandia. Desainnya sederhana sekaligus monumental, dengan bentuk yang mengingatkan pada tebing basal. Dari menaranya, pengunjung dapat melihat panorama Reykjavík dan memahami skala kota yang sesungguhnya. Di depan gereja terdapat patung Leif Erikson, penjelajah Viking yang diyakini sebagai orang Eropa pertama yang mencapai Amerika, jauh sebelum Christopher Columbus. Sementara itu, patung modern Sun Voyager atau The Sea Voyager menjadi penghormatan kepada tradisi pelayaran bangsa Skandinavia yang membawa para pemukim menuju pulau yang kala itu masih liar dan nyaris tak berpenghuni.
Di balik kota modern, ada sejarah masyarakat yang keras
Islandia modern lahir dari sejarah yang tidak mudah. Lebih dari seribu tahun lalu, para pemukim Norse hidup sebagai petani di wilayah yang terpencil dan menghadapi iklim serta kondisi alam yang keras. Mereka tidak memiliki banyak kemewahan dan kehidupan mereka sangat bergantung pada kemampuan bertahan hidup. Pengalaman tersebut kemudian dituangkan dalam Saga, karya yang memadukan sejarah, cerita, legenda, dan kisah kehidupan masyarakat awal Islandia. Bahkan hingga abad ke-18, jumlah penduduk seluruh Islandia masih sangat kecil dan Reykjavík sendiri belum lebih dari sebuah kawasan pertanian. Perikanan dan perdagangan kemudian berkembang, kota-kota mulai tumbuh, dan Reykjavík perlahan berubah menjadi pusat kehidupan negara.
Hubungan masyarakat Islandia dengan laut juga sangat kuat. Perahu terbuka digunakan untuk menangkap ikan kod, sementara hiu diburu untuk mendapatkan minyak hati yang bernilai. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat harus memanfaatkan apa pun yang tersedia di lingkungan mereka. Dari pengalaman panjang menghadapi kesulitan itu muncul sebuah mentalitas yang dikenal melalui ungkapan Thetta reddast—sebuah keyakinan bahwa pada akhirnya segala sesuatu akan baik-baik saja. Ungkapan tersebut terasa sangat cocok dengan karakter sebuah negeri yang sejak awal harus hidup berdampingan dengan alam yang tidak selalu dapat diprediksi.
Air panas bukan sekadar fenomena alam
Salah satu cara terbaik memahami kehidupan sehari-hari di Islandia adalah dengan memasuki kolam air panas bersama masyarakat setempat. Energi panas bumi tersedia dalam jumlah besar dan dimanfaatkan untuk pemanasan rumah maupun menghasilkan listrik. Pipa-pipa membawa air panas dari dalam bumi menuju berbagai wilayah, membuat rumah-rumah tetap hangat meskipun udara di luar sangat dingin. Bagi masyarakat Islandia, panas bumi kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan: kolam renang dan pemandian air panas menjadi ruang sosial tempat keluarga, teman, pekerja, dan wisatawan dapat bertemu.
Blue Lagoon mungkin merupakan pemandian paling terkenal, tetapi pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan lokal justru dapat ditemukan di kolam komunitas. Blue Lagoon digambarkan sebagai spa mewah yang populer dan ramai wisatawan, sementara kolam lingkungan jauh lebih terjangkau dan menjadi tempat masyarakat setempat menghabiskan waktu setelah bekerja. Di dalam air hangat, perbedaan antara pelajar, sopir truk, dokter, penduduk lokal, dan wisatawan menjadi tidak terlalu penting. Semuanya datang untuk melakukan hal sederhana yang sama: berendam, berbicara, dan menikmati panas bumi yang menjadi bagian dari kehidupan Islandia.
Golden Circle: tiga wajah alam Islandia
Dari Reykjavík, salah satu perjalanan klasik adalah Golden Circle. Rute ini membawa wisatawan ke sejumlah lanskap paling terkenal di Islandia dalam satu perjalanan sehari. Salah satu pemberhentian utamanya adalah Thingvellir, tempat alam dan sejarah bertemu. Di sini terdapat retakan geologis yang menandai pergerakan lempeng tektonik Amerika Utara dan Eropa. Pada saat yang sama, Thingvellir merupakan tempat Althing, pertemuan tahunan masyarakat Islandia awal, berlangsung sekitar seribu tahun lalu. Karena itu, kawasan ini bukan hanya penting secara geologis, tetapi juga menjadi salah satu tempat yang berkaitan erat dengan lahirnya masyarakat Islandia.
Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan Geysir, sumber dari kata geyser yang digunakan secara luas di dunia. Lanskapnya penuh uap, kolam air panas, lumpur yang mendidih, dan aroma belerang. Pengunjung menunggu dengan kamera siap ketika air panas tiba-tiba menyembur ke udara. Setelah itu perjalanan berakhir di Gullfoss, salah satu air terjun paling dramatis di Islandia. Air dari sungai glasial jatuh ke dalam ngarai sempit dengan suara yang begitu kuat sehingga pengunjung dapat merasakan kekuatan alam secara langsung. Gullfoss menjadi gambaran sempurna tentang mengapa Islandia begitu identik dengan air terjun.
Ring Road, perjalanan yang lebih panjang
Namun Islandia tidak berhenti pada Golden Circle. Untuk benar-benar merasakan skala negeri ini, perjalanan dapat dilanjutkan menyusuri Ring Road, Jalan Raya 1 yang mengelilingi pulau. Rute sepanjang sekitar 800 mil tersebut dapat ditempuh sekitar 30 jam jika berkendara tanpa berhenti, tetapi perjalanan seperti itu tentu bukan cara menikmati Islandia. Setidaknya lima atau enam hari diperlukan agar perjalanan tidak berubah menjadi sekadar perlombaan mengejar tempat wisata. Justru kekuatan Ring Road terletak pada kesempatan untuk berhenti, mengambil jalan memutar, menginap di tempat-tempat kecil, dan membiarkan lanskap berubah perlahan di depan mata.
Pantai Selatan menjadi salah satu bagian paling spektakuler. Seljalandsfoss, misalnya, memungkinkan pengunjung berjalan mendekati bahkan berada di belakang aliran air terjun yang jatuh dari tebing tinggi. Pelangi sering muncul ketika cahaya matahari bertemu percikan air, sementara jalur yang basah membuat jaket hujan menjadi perlengkapan yang hampir wajib. Tidak jauh dari sana terdapat lembah Thorsmork, wilayah terpencil yang hanya dapat dijangkau kendaraan dengan kemampuan khusus. Kendaraan besar dengan ban raksasa harus menyeberangi aliran sungai glasial untuk membawa wisatawan menuju lembah, tempat para pendaki menikmati lanskap yang terasa sangat jauh dari dunia modern.
Kepulauan Westman dan ingatan tentang gunung berapi
Perjalanan juga dapat dilanjutkan ke Kepulauan Westman, sekitar 40 menit dengan feri dari Pantai Selatan. Gugusan pulau ini merupakan komunitas nelayan yang dikelilingi tebing dan bentang alam vulkanik. Namun daya tarik terbesarnya bukan hanya pemandangan, melainkan kisah letusan besar pada 1973. Gunung berapi yang sebelumnya tertidur tiba-tiba meletus dan lava perlahan bergerak menuju kota. Penduduk dievakuasi, sementara aliran lava terus mengubah wajah pulau. Sebuah rumah yang tertelan lava kini menjadi bagian penting dari museum yang menceritakan bencana tersebut. Letusan itu bahkan membuat ukuran pulau bertambah sekitar 20 persen.
Kehidupan di Kepulauan Westman juga memperlihatkan bagaimana tradisi bertahan hidup dapat diwariskan menjadi bagian dari identitas budaya. Selama berabad-abad, masyarakat mengumpulkan telur burung laut dari tebing-tebing yang sulit dijangkau. Praktik yang disebut sprangan diajarkan kepada anak-anak setempat sejak usia sekitar delapan atau sembilan tahun. Tradisi tersebut bukan semata-mata kegiatan ekonomi, tetapi pengingat tentang bagaimana masyarakat dahulu memperoleh makanan dari lingkungan yang keras. Bahkan terdapat aturan untuk tidak mengambil seluruh telur dari sarang agar koloni burung tetap terjaga. Di musim panas, pulau-pulau ini juga menjadi habitat penting bagi puffin, burung laut yang menjadi salah satu daya tarik wisata Islandia.
Gletser, laguna es, dan Pantai Berlian
Setelah Vík, lanskap berubah semakin liar. Wilayah gletser menghadirkan pemandangan yang berbeda dari pantai vulkanik sebelumnya. Sekitar sepersepuluh wilayah Islandia tertutup gletser, dan lidah-lidah gletser menjulur dari pegunungan menuju dataran rendah. Di beberapa tempat, bongkahan es terlepas dan berkumpul di laguna glasial. Perjalanan dengan perahu membawa wisatawan melewati bongkahan es dalam berbagai warna, dari putih dan transparan hingga biru pekat yang muncul karena es sangat padat dan hampir tidak memiliki gelembung udara.
Dari laguna, bongkahan es akhirnya bergerak menuju laut dan sebagian terdampar kembali di pantai berpasir hitam. Tempat yang dikenal sebagai Diamond Beach ini menciptakan pemandangan yang sangat kontras: potongan-potongan es tampak seperti permata yang tersebar di atas permukaan pasir hitam. Namun keindahan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan lingkungan yang sedang berlangsung. Gletser memang secara alami dapat tumbuh dan menyusut, tetapi dalam beberapa dekade terakhir penyusutannya berlangsung jauh lebih cepat akibat pemanasan global. Di Islandia, perubahan iklim bukan sesuatu yang terasa jauh; jejaknya dapat dibaca langsung pada lanskap.
Eastfjords dan desa-desa di ujung perjalanan
Di bagian timur, Ring Road membawa wisatawan menyusuri Eastfjords. Perjalanannya lambat, berkelok-kelok, dan memerlukan waktu, tetapi hampir setiap tikungan membuka pemandangan baru. Di salah satu fjord tersembunyi Seydisfjordur, sebuah desa penuh warna yang menarik seniman muda dengan suasana kreatif, mural, serta tempat makan dan minum yang trendi. Keberadaannya terasa unik karena kreativitas tumbuh di tengah lingkungan yang sangat terpencil.
Di utara, Danau Myvatn memperlihatkan sisi vulkanik Islandia yang lain. Kawasan ini dikelilingi kawah semu, formasi lava, medan panas bumi, kolam lumpur, dan fumarol yang mendesis. Lanskapnya begitu asing sehingga mudah dibandingkan dengan permukaan bulan atau bahkan Mars. Setelah menjelajahi kawasan tersebut, wisatawan dapat kembali menikmati panas bumi melalui pemandian alam Myvatn, yang menawarkan kesempatan untuk bersantai sambil memandang lanskap vulkanik yang mengepul.
Húsavík membawa perjalanan kembali ke laut. Desa nelayan ini dikenal sebagai tempat untuk mempelajari kehidupan paus dan mengikuti perjalanan pengamatan paus. Museum paus menampilkan kerangka berbagai jenis paus, termasuk paus biru yang panjangnya sekitar 80 kaki. Dari pelabuhan, wisatawan dapat memilih perahu tradisional atau perahu karet berkecepatan tinggi untuk mencari paus di laut. Jika beruntung, perjalanan dapat menghadirkan pemandangan paus bungkuk atau bahkan orca.
Islandia tidak hanya tentang pemandangan
Salah satu hal menarik dari perjalanan mengelilingi Islandia adalah bagaimana alam selalu berjalan berdampingan dengan sejarah. Di Siglufjordur, misalnya, sebuah kota nelayan di utara, wisatawan dapat melihat kembali masa ketika industri ikan herring menjadi salah satu penggerak ekonomi Islandia. Museum setempat memperlihatkan bagaimana ikan diasinkan dan dikemas, serta bagaimana para perempuan bekerja dalam kondisi yang sangat berat. Pada masa tersibuk, mereka dapat bekerja dalam shift yang sangat panjang, bahkan terdapat kisah tentang pekerjaan hingga puluhan jam tanpa henti.
Warisan kehidupan tradisional juga terlihat di Glaumbaer, rumah-rumah beratap rumput yang menjadi pengingat tentang cara masyarakat Islandia bertahan hidup sebelum rumah modern berkembang. Struktur rumahnya dibangun dari tanah dan rumput, dengan koridor yang menghubungkan ruangan-ruangan. Di dalamnya, kehidupan berlangsung sederhana dan sangat berbeda dari Islandia modern. Namun warisan semacam ini penting karena memperlihatkan bahwa kemajuan negara tersebut dibangun di atas sejarah masyarakat yang selama berabad-abad harus beradaptasi dengan alam.
Snaefellsnes, rangkuman kecil tentang Islandia
Menjelang perjalanan kembali ke Reykjavík, Semenanjung Snaefellsnes menjadi penutup yang tepat. Kawasan ini seolah menjadi versi ringkas dari Islandia: terdapat puncak gunung, fjord, gletser, kuda, burung laut, kawah, dan air terjun. Setelah perjalanan panjang mengelilingi Ring Road, Snaefellsnes memberikan satu kesan terakhir tentang kekuatan alam yang membuat negeri ini begitu istimewa.
Islandia bukan destinasi yang mudah diringkas hanya dengan daftar tempat wisata. Daya tariknya muncul dari hubungan antara lanskap dan manusia. Gunung berapi menyediakan energi, gletser membentuk sungai, laut menyediakan makanan, sementara kondisi alam yang keras membentuk karakter masyarakatnya. Perjalanan mengelilingi Islandia karena itu terasa seperti membaca sebuah cerita panjang tentang bagaimana manusia belajar hidup bersama alam, bukan berusaha menaklukkannya.
Setelah menempuh sekitar 800 mil dan kembali ke Reykjavík, kesan yang tertinggal bukan hanya tentang air terjun, gletser atau pantai berpasir hitam. Islandia meninggalkan gambaran tentang sebuah negara kecil dengan penduduk yang sedikit, tetapi memiliki lanskap yang luar biasa besar. Di tempat seperti ini, perjalanan tidak hanya membawa kita dari satu destinasi ke destinasi lain. Perjalanan mengajarkan bahwa terkadang justru alam yang menentukan ke mana kita harus berhenti, berapa lama kita harus tinggal, dan apa yang akan kita ingat ketika akhirnya pulang.

