(Business Lounge – Global News) H&M mulai menunjukkan hasil dari perubahan yang selama beberapa tahun terakhir dibangun di balik layar. Perusahaan mode asal Swedia tersebut bukan hanya berusaha menjual lebih banyak pakaian, tetapi juga mengubah cara pakaian itu dirancang, dibeli, diproduksi, dan akhirnya sampai ke toko. Strategi tersebut mulai terlihat dalam laporan kuartal ketiga 2026. Laba operasi H&M melonjak menjadi 6,04 miliar krona Swedia dari 4,91 miliar krona pada periode yang sama tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi analis. Penjualan dalam mata uang lokal naik 1%, sementara margin laba kotor meningkat menjadi 54% dari 52,9%.
Yang membuat perubahan ini menarik adalah sumber pertumbuhan laba tersebut. H&M tidak sedang menikmati ledakan penjualan yang luar biasa besar. Sebaliknya, perusahaan memperoleh manfaat dari pengendalian biaya, pembelian yang lebih efisien, serta operasi yang semakin ramping. Beban penjualan dan administrasi pada kuartal tersebut turun 1% menjadi 24,83 miliar krona. Dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026, biaya tersebut bahkan turun 4%, sementara laba operasi meningkat menjadi 13,46 miliar krona dari 12,03 miliar krona setahun sebelumnya. Artinya, perbaikan profitabilitas mulai terjadi meskipun pertumbuhan pendapatan masih relatif sederhana.
Di balik angka tersebut terdapat perubahan penting dalam strategi rantai pasok. H&M selama ini sangat bergantung pada jaringan manufaktur Asia untuk menghasilkan pakaian dalam volume besar dengan biaya kompetitif. Model itu memang memberikan keuntungan skala, tetapi memiliki kelemahan ketika selera konsumen berubah dengan cepat. Jarak geografis yang panjang membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons tren, sementara pakaian yang tidak terjual dapat berubah menjadi persediaan yang akhirnya harus didiskon. Kini H&M meningkatkan proporsi pembelian yang dilakukan lebih dekat dengan musim penjualan dan memperpendek proses pengambilan keputusan agar perusahaan dapat merespons tren mode, perubahan selera, bahkan cuaca yang semakin sulit diprediksi dengan lebih cepat.
Perubahan tersebut pada dasarnya menggeser cara perusahaan memandang persediaan. Dalam bisnis fesyen cepat, terlalu banyak stok bukan sekadar masalah gudang. Setiap pakaian yang tidak terjual pada waktunya berpotensi membutuhkan potongan harga, dan semakin besar diskon yang diberikan, semakin kecil pula margin yang tersisa. Karena itu, kemampuan mengetahui apa yang diinginkan konsumen sebelum memproduksi terlalu banyak menjadi bagian penting dari profitabilitas. H&M telah menunjukkan kemajuan dalam hal ini. Pada kuartal terakhir tahun fiskal 2025, persediaan turun 12% menjadi 35,43 miliar krona, dan perusahaan menyebut peningkatan produktivitas persediaan sebagai salah satu faktor utama yang membantu memperbaiki laba.
Kini perusahaan mencoba membuat rantai pasoknya lebih fleksibel, bukan sekadar lebih murah. Gudang dan solusi logistik baru di Eropa secara bertahap mulai digunakan, sementara investasi teknologi diarahkan untuk meningkatkan ketepatan keputusan dari pengembangan produk hingga pembelian, alokasi stok, pemasaran, dan penjualan. Bagi H&M, digitalisasi tidak berhenti pada pengalaman belanja konsumen. Data juga digunakan untuk menentukan produk apa yang harus dibuat, dalam jumlah berapa, dan ke mana produk tersebut harus dikirim. Semakin akurat keputusan tersebut, semakin kecil kemungkinan perusahaan harus menanggung stok berlebih atau melakukan diskon besar untuk mengosongkan rak.
Strategi ini menjadi semakin penting karena persaingan fast fashion berubah drastis. H&M harus berhadapan dengan Zara melalui Inditex serta pemain digital seperti Shein yang memiliki kemampuan merespons tren dengan sangat cepat. Reuters mencatat bahwa CEO Daniel Ervér, yang memimpin H&M sejak Januari 2024, mendapat mandat untuk memperbaiki profitabilitas sekaligus memperkuat kembali merek tersebut. Tantangannya adalah menciptakan keseimbangan antara harga yang kompetitif, koleksi yang lebih menarik, kecepatan distribusi, dan margin yang cukup untuk menopang investasi jangka panjang.
Perbaikan laba juga menunjukkan bahwa strategi penghematan H&M mulai memberikan ruang bernapas bagi perusahaan. Dalam sembilan bulan pertama 2026, penjualan dalam mata uang lokal relatif sejalan dengan tahun sebelumnya, tetapi laba operasi meningkat 12% menjadi 13,46 miliar krona. Margin operasi naik menjadi 8,3% dari 7,1%. Arus kas operasi juga meningkat 17% menjadi 26,52 miliar krona. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dapat meningkatkan kualitas keuntungan tanpa harus mengandalkan pertumbuhan penjualan yang agresif.
Namun, perjalanan H&M masih menghadapi tantangan. Penjualan September diperkirakan hanya tumbuh 1% dalam mata uang lokal. Gangguan jaringan logistik Eropa dan rantai pasok global masih memengaruhi aktivitas perusahaan. Di sisi konsumen, tekanan biaya hidup di sejumlah pasar Eropa juga membuat belanja pakaian tidak selalu mudah dipertahankan. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pada kuartal kedua 2026, permintaan konsumen di Eropa Barat masih lemah dan persediaan yang lebih rendah bahkan sesekali menyebabkan kekurangan stok. Ini menunjukkan bahwa rantai pasok yang lebih ramping harus tetap menemukan titik keseimbangan: terlalu banyak stok menekan margin, tetapi terlalu sedikit stok juga dapat membuat perusahaan kehilangan penjualan.
Karena itu, perubahan H&M sebenarnya lebih dalam daripada sekadar program penghematan biaya. Perusahaan sedang mencoba membangun model fast fashion yang lebih responsif, dengan keputusan pembelian yang lebih dekat dengan pasar, persediaan yang lebih produktif, jaringan logistik yang lebih fleksibel, dan pemanfaatan data yang lebih luas. Jika model tersebut terus berjalan, pertumbuhan laba tidak harus selalu datang dari kenaikan penjualan yang besar. Sebagian dapat berasal dari kemampuan perusahaan mengurangi kesalahan—memproduksi lebih tepat, mengirim lebih cepat, menumpuk lebih sedikit barang, dan mengurangi kebutuhan memberikan diskon. Di tengah industri fesyen yang semakin cepat dan kompetitif, kemampuan mengendalikan apa yang tidak terjual

