(Business Lounge Journal – News)
Misi Pacific Partnership 2026 (PP26) resmi mengakhiri persinggahan keduanya di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, melalui upacara penutupan yang digelar di Lapangan Simare-Mare pada 30 Juli 2026. Selama dua pekan, sekitar 150 personel dari Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jerman, dan Singapura bekerja bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), para ahli, serta masyarakat Indonesia dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan peningkatan kesiapsiagaan bencana.
Sebagai misi kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana multinasional terbesar yang diselenggarakan setiap tahun di kawasan Indo-Pasifik, Pacific Partnership 2026 berfokus pada empat bidang utama, yaitu rekayasa teknik, manajemen bencana, keterlibatan dengan masyarakat, dan layanan kesehatan.
Komandan misi Pacific Partnership 2026 di Indonesia, Letnan Angkatan Laut Amerika Serikat Macswayne Muralt, mengatakan bahwa misi ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga membangun hubungan antarmasyarakat.
“Sebagai warga Amerika keturunan Tionghoa-Indonesia, merupakan sebuah kehormatan dapat bekerja bersama TNI dan mitra Indonesia untuk memperkuat hubungan yang membantu komunitas kita menghadapi tantangan di masa depan,” ujarnya.
Dalam bidang infrastruktur, personel U.S. Navy Seabees dari Naval Mobile Construction Battalion 5 dan Amphibious Construction Battalion 1, prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat dari Hawaii National Guard’s 230th Engineer Company, serta insinyur TNI membangun satu ruang kelas baru di sebuah sekolah dasar negeri dan merenovasi ruang kelas di sekolah lainnya. Upaya tersebut ditujukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi para siswa.




Latihan Bencana hingga Pertukaran Keahlian Medis
Selain pembangunan infrastruktur, tim Amerika Serikat dan Indonesia melaksanakan pelatihan pencarian dan penyelamatan di wilayah perkotaan (urban search and rescue) selama lima hari di Pangkalan TNI AL Sibolga. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan dua hari penyusunan rencana penanggulangan bencana bersama Pemerintah Kota Sibolga.
Rangkaian pelatihan ditutup dengan simulasi penanganan keadaan darurat di Rumah Sakit Umum Pandan yang menggambarkan skenario kebakaran rumah sakit dan tabrakan kapal. Simulasi ini menguji kemampuan bersama dalam menangani korban massal, penyelamatan di perairan, serta evakuasi yang melibatkan personel militer dan petugas sipil.
Kegiatan juga mencakup pendekatan kepada masyarakat melalui pertunjukan musik dari Pacific Partnership Band di sejumlah lokasi umum dan sekolah, yang dihadiri ratusan warga sebagai bagian dari pertukaran budaya.
Di sektor kesehatan, tim medis Pacific Partnership menyelenggarakan 79 kegiatan, meliputi tujuh program kesehatan hewan, tujuh kegiatan kesehatan masyarakat, serta 65 sesi pertukaran keahlian di berbagai bidang, seperti keperawatan, kedokteran gigi, kebidanan, bedah umum, kedokteran gawat darurat, penyakit dalam, dan oftalmologi.
Usai penutupan misi di Sibolga, seluruh personel bersiap melanjutkan perjalanan menggunakan kapal pendarat Angkatan Laut Australia HMAS Choules menuju lokasi berikutnya. Memasuki penyelenggaraan yang ke-22, Pacific Partnership terus menjadi wadah kerja sama multinasional untuk meningkatkan interoperabilitas, memperkuat kemampuan respons bencana, serta membangun hubungan yang lebih erat di kawasan Indo-Pasifik.

