“Whoever Dominates AI Rules the World”: Pesan Dubes Jerman untuk Indonesia

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, H.E. Ralf Beste, menegaskan bahwa masa depan ekonomi digital dunia tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, tetapi juga oleh kemampuan negara-negara membangun infrastruktur energi dan data yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam sesi pada EU-Indonesia Tech, forum yang mempertemukan pemerintah, investor, perusahaan teknologi, dan mitra internasional untuk membahas masa depan ekonomi digital dan infrastruktur teknologi berkelanjutan di Indonesia.

Dalam pidatonya, Dubes Jerman menyoroti bagaimana Indonesia kini menjadi salah satu ekosistem digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Investasi besar-besaran pada transformasi digital, pengembangan pusat data, hingga dorongan menuju ekonomi hijau membuka peluang kerja sama internasional yang semakin luas. Namun di sisi lain, percepatan digitalisasi juga menghadirkan tantangan besar, terutama terkait kesiapan infrastruktur energi dan keberlanjutan sumber daya untuk menopang teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, perkembangan AI dan pusat data kini tidak dapat dipisahkan dari isu energi. “Di era AI, setiap pertanyaan yang kita ajukan juga merupakan pertanyaan tentang energi,” ujarnya. Semakin besar kemampuan komputasi yang dibutuhkan, semakin tinggi pula konsumsi listrik, kebutuhan pendinginan, dan tekanan terhadap infrastruktur nasional.

Ia mengutip laporan terbaru komisi ahli kompetisi dan kecerdasan buatan Pemerintah Jerman yang menyebut bahwa kemampuan suatu negara mengembangkan AI dalam skala besar tidak hanya bergantung pada algoritma, tetapi juga pada sistem pendukung seperti energi, data, dan infrastruktur digital. Bahkan, pada tahun 2030, penggunaan energi terkait AI diperkirakan dapat mencapai tiga persen konsumsi listrik global.

Kisah Kemacetan yang Menjadi Pelajaran Diplomasi Digital

Dalam pidatonya, sang Dubes juga membagikan pengalaman unik saat dirinya menjabat sebagai Duta Besar Jerman untuk Austria beberapa tahun lalu. Ia menceritakan bagaimana sistem navigasi digital sempat memicu krisis kecil lintas negara di wilayah Pegunungan Alpen. Kala itu, pemerintah Tirol di Austria melarang kendaraan keluar dari jalan tol utama karena aplikasi navigasi mengarahkan para pengemudi menuju jalan-jalan kecil di desa pegunungan untuk menghindari kemacetan. Akibatnya, ribuan kendaraan wisatawan justru terjebak di desa-desa kecil dan memicu kemarahan warga lokal maupun wisatawan sendiri.

Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana teknologi digital dan AI mampu memengaruhi kehidupan fisik, sosial, bahkan hubungan antarnegara. “Kini tidak lagi sulit menjelaskan bagaimana AI memengaruhi hubungan internasional,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dunia saat ini semakin sering mengulang slogan “Whoever dominates AI rules the world.” Namun Jerman dan Uni Eropa, katanya, tidak memiliki ambisi untuk mendominasi dunia. Fokus utama mereka adalah menjaga kepentingan bersama, mulai dari keamanan, kesejahteraan, hingga kebebasan.

Jerman dan Ambisi Infrastruktur Digital Berkelanjutan

Sebagai salah satu negara industri dan teknologi terbesar di dunia, Jerman saat ini menjadi lokasi pusat data terbesar di Eropa dengan lebih dari 500 data center yang beroperasi. Total kapasitasnya mencapai sekitar 2,4 gigawatt dan diperkirakan meningkat menjadi 4,5 gigawatt pada tahun 2030. Menghadapi lonjakan kebutuhan digital tersebut, Pemerintah Jerman baru saja meluncurkan strategi nasional pusat data pertamanya. Strategi ini bertujuan memperluas kapasitas infrastruktur digital sekaligus meningkatkan kemampuan high-performance computing untuk AI hingga empat kali lipat.

Menurut Dubes Jerman, strategi tersebut dibangun di atas tiga prioritas utama.

Pertama, sistem energi harus andal, terjangkau, dan semakin ramah lingkungan. Kedua, efisiensi harus terus ditingkatkan, baik dari sisi konsumsi listrik, pendinginan, maupun desain sistem secara keseluruhan. Ketiga, pemerintah perlu mempercepat proses perizinan, menyediakan lokasi strategis, serta menciptakan iklim investasi yang mendukung pembangunan infrastruktur digital.

Ia juga memberikan contoh bagaimana pusat data di Jerman kini mulai memanfaatkan panas buangan (waste heat) untuk menghangatkan ratusan bangunan residensial di kota Frankfurt dan Berlin. Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa infrastruktur digital dapat diintegrasikan dengan sistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Dalam menjelaskan besarnya arus data digital modern, ia bahkan sempat berseloroh mengenai lalu lintas data di Frankfurt Internet Exchange yang tahun ini mencapai lebih dari 18 terabit per detik. Untuk mempermudah audiens memahami angka tersebut, tim Kedutaan Besar Jerman mencoba membuat analogi. “Salah satu opsinya, jumlah data itu setara dengan streaming pertandingan sepak bola HD tanpa henti selama lebih dari 2,2 juta tahun,” ujarnya sambil tersenyum.

Indonesia Dinilai Memiliki Peluang Besar

Dubes Jerman menilai Indonesia berada pada posisi strategis karena masih memiliki peluang membangun infrastruktur digital secara lebih efisien sejak awal. Pertumbuhan ekonomi digital nasional yang sangat cepat membuat kebutuhan pusat data terus meningkat. Karena itu, ia melihat kerja sama Indonesia dan Jerman di bidang teknologi, energi, dan digitalisasi menjadi semakin penting. Melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP), Jerman bersama Uni Eropa dan mitra internasional lainnya saat ini turut mendukung pembiayaan serta implementasi proyek energi terbarukan di Indonesia.

Ia menilai transformasi digital dan transisi energi tidak boleh dipisahkan. Menurutnya, infrastruktur digital hanya akan berkelanjutan jika dibangun bersamaan dengan sistem energi yang kuat dan bersih.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa Jerman memiliki kapasitas besar untuk mendukung pengembangan tersebut, baik melalui investasi, teknologi, maupun pengalaman industrial. “Jerman adalah ekonomi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan peringkat AAA terbesar di dunia,” ujarnya.

Selain kerja sama bisnis, hubungan digital Indonesia dan Jerman juga telah diperkuat melalui Digital Partnership yang dibangun sejak 2023. Kemitraan tersebut mencakup pengembangan teknologi, ekonomi digital, hingga kolaborasi kebijakan.

Menutup pidatonya, Dubes Jerman menegaskan bahwa negaranya ingin memperdalam kerja sama dengan Indonesia tidak hanya di bidang ekonomi dan teknologi, tetapi juga secara politik dan strategis. “Kami tidak ingin mendominasi dunia, tetapi kami ingin menjaga kepentingan bersama,” katanya. “Karena itu kami menantikan kerja sama teknologi yang semakin erat dengan Indonesia.”