Gembira

Bagaimana Pemimpin Dapat Lebih Gembira

(Business Lounge – Lead and Follow) Pembahasan yang disampaikan oleh Arthur C. Brooks berfokus pada bagaimana individu, khususnya para pemimpin dan profesional, dapat menjadi lebih gembira melalui perubahan cara berpikir dan kebiasaan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa kegembiraan bukanlah sesuatu yang bersifat statis atau tujuan akhir yang bisa dicapai sekali untuk selamanya, melainkan sebuah arah yang terus diupayakan melalui praktik yang konsisten.

Ia membuka dengan menjelaskan bahwa ada empat kebiasaan besar yang dimiliki oleh orang-orang dengan tingkat kegembiraan tertinggi. Kebiasaan ini disebut sebagai “happiness pension plan,” yaitu investasi yang dilakukan setiap hari. Empat hal tersebut adalah perhatian terhadap kehidupan iman, kehidupan keluarga, persahabatan, dan pekerjaan yang didedikasikan untuk meraih kesuksesan sekaligus melayani orang lain. Keempat elemen ini menjadi fondasi utama dalam membangun kegembiraan yang berkelanjutan.

Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa kegembiraan terdiri dari tiga komponen utama, yaitu enjoyment, satisfaction, dan meaning. Ketiganya merupakan “makronutrien” kegembiraan. Orang yang benar-benar gembira adalah mereka yang secara konsisten memperhatikan ketiga aspek ini dalam hidupnya. Tanpa keseimbangan antara enjoyment, satisfaction, dan meaning, seseorang akan sulit mencapai kondisi yang lebih baik secara emosional.

Ia juga menjelaskan bahwa ada krisis kegembiraan yang terjadi, khususnya di Amerika Serikat, yang telah berlangsung sejak sekitar tahun 1990 dan semakin memburuk setelah tahun 2008. Penurunan ini terjadi secara bertahap, tetapi kemudian mengalami tekanan yang lebih besar akibat berbagai peristiwa besar yang memengaruhi masyarakat secara luas. Namun, ia melihat krisis ini sebagai peluang, bukan semata-mata masalah. Dalam konteks bisnis dan kepemimpinan, krisis sering kali membuka ruang untuk inovasi dan perubahan, termasuk dalam cara manusia memahami kegembiraan.

Ketika ditanya apakah manusia pada dasarnya gembira, ia menjawab bahwa manusia tidak sepenuhnya gembira. Ia menekankan bahwa pertanyaan yang tepat bukanlah apakah seseorang bisa menjadi gembira, tetapi apakah seseorang bisa menjadi lebih gembira dari sebelumnya. Ini karena kegembiraan bukanlah kondisi permanen. Manusia memiliki emosi negatif sebagai bagian dari sistem biologis yang berfungsi untuk melindungi diri dan memastikan kelangsungan hidup.

Ia menjelaskan bahwa sistem limbik dalam otak manusia berkembang selama jutaan tahun untuk memproses emosi negatif sebagai sinyal bahaya. Oleh karena itu, pengalaman negatif dan emosi negatif adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Tidak ada kondisi kegembiraan sempurna dalam kehidupan manusia saat ini. Justru, keinginan untuk mencapai kegembiraan sempurna sering kali menjadi sumber ketidakpuasan, karena ekspektasi tersebut tidak realistis.

Selanjutnya, ia membahas mitos bahwa uang, kekuasaan, dan kesuksesan material akan membawa kegembiraan. Ia menjelaskan bahwa dorongan untuk mengejar hal-hal tersebut berasal dari naluri dasar manusia yang berfokus pada kelangsungan hidup dan reproduksi. Manusia cenderung percaya bahwa dengan memenuhi dorongan tersebut, mereka akan mendapatkan kegembiraan. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar.

Ia menyebut bahwa banyak orang terjebak dalam pola pikir ini. Menariknya, sebagian besar orang akhirnya keluar dari “jebakan” tersebut karena mereka tidak berhasil mencapai semua impian material mereka. Sebaliknya, mereka menemukan kegembiraan dalam hubungan yang lebih sederhana seperti keluarga dan teman. Namun, ada juga sebagian kecil orang yang berhasil mencapai semua impian materialnya, dan mereka justru menyadari bahwa hal tersebut tidak memberikan kegembiraan seperti yang diharapkan.

Ia juga menyoroti konsep “cukup” sebagai sesuatu yang sulit diterima oleh banyak orang. Dorongan alami manusia membuat mereka merasa bahwa apa yang dimiliki tidak pernah cukup. Hal ini menyebabkan seseorang terus mengejar lebih banyak tanpa pernah merasa puas. Untuk mengatasi hal ini, seseorang perlu memahami bagaimana otak bekerja dan secara sadar mengubah kebiasaan serta cara berpikirnya.

Dalam pembahasan mengenai kegembiraan, ia juga menjelaskan bahwa kegembiraan bukanlah sebuah emosi. Emosi hanyalah indikator atau sinyal. Emosi positif menunjukkan adanya peluang, sedangkan emosi negatif menunjukkan adanya ancaman. Kegembiraan adalah sesuatu yang lebih luas dan mencakup pengalaman hidup secara keseluruhan, bukan sekadar perasaan sesaat.

Ia kemudian membahas bagaimana paparan informasi yang berlebihan dalam dunia modern dapat memengaruhi kegembiraan. Teknologi membuat peristiwa global terasa sangat dekat, meskipun individu tidak memiliki kendali atasnya. Hal ini menciptakan perasaan tidak berdaya yang dapat memicu kecemasan dan ketakutan. Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan agar konsumsi berita dibatasi, misalnya tidak lebih dari 30 menit per hari, dan tidak didominasi oleh berita politik.

Sisa waktu yang tersedia sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang dapat benar-benar dipengaruhi, seperti keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar. Dengan fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, seseorang dapat meningkatkan rasa kontrol dan pada akhirnya meningkatkan kegembiraan.

Dalam konteks pekerjaan, ia menjelaskan bahwa tingkat kecemasan sering kali meningkat seiring dengan bertambahnya tanggung jawab, terutama dalam posisi kepemimpinan. Ia menyebut bahwa dalam dua tahun pertama seorang CEO, emosi yang paling dominan adalah kesepian dan kemarahan, bukan kegembiraan. Hal ini menunjukkan bahwa posisi tinggi tidak selalu membawa kepuasan emosional.

Ia juga menjelaskan bahwa banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak benar-benar ingin menjalani tanggung jawab yang menyertainya. Ketidaksesuaian ini dapat menyebabkan ketidakpuasan dan bahkan kegagalan dalam peran kepemimpinan.

Untuk meningkatkan kegembiraan di tempat kerja, ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Berdasarkan data yang ia sebutkan, perusahaan dengan tingkat kesejahteraan karyawan yang tinggi cenderung memiliki kinerja yang lebih baik secara finansial. Namun, banyak organisasi salah memahami apa yang dimaksud dengan kegembiraan karyawan.

Karyawan tidak hanya membutuhkan fasilitas tambahan, tetapi lebih membutuhkan hubungan yang baik dengan rekan kerja, rasa dihargai, kesempatan untuk berkembang, dan efisiensi dalam pekerjaan. Salah satu hal yang sering menjadi masalah adalah terlalu banyaknya rapat yang tidak efektif. Ia menyarankan agar rapat dibatasi, hanya melibatkan orang yang benar-benar diperlukan, dan tidak berlangsung lebih dari 30 menit.

Peran pemimpin sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang gembira. Ia menyebut bahwa faktor utama yang membuat seseorang tidak menyukai pekerjaannya adalah atasan yang buruk. Oleh karena itu, pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya sendiri secara emosional dan berusaha menjadi pribadi yang lebih gembira.

Ia juga membahas perbedaan antara empati dan belas kasih. Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain, sedangkan belas kasih mencakup pemahaman, solusi, dan tindakan. Ia berpendapat bahwa belas kasih lebih efektif dalam membantu orang lain dibandingkan empati semata, karena melibatkan tindakan nyata untuk memperbaiki situasi.

Dalam skala yang lebih luas, ia menjelaskan bahwa ketidakgembiraan dapat menyebar melalui apa yang disebut sebagai “emotional contagion.” Emosi negatif dapat menular dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menyadari kondisi emosionalnya dan berusaha mengelolanya dengan baik.

Ia juga memberikan contoh praktis tentang bagaimana seseorang dapat memulai membangun kehidupan spiritual atau filosofis, bahkan tanpa latar belakang religius. Salah satu caranya adalah dengan mengalami rasa kagum terhadap sesuatu yang lebih besar, seperti melalui alam, musik, atau studi intelektual. Hal ini membantu seseorang untuk melampaui fokus pada diri sendiri dan menemukan perspektif yang lebih luas.

Dalam menjawab pertanyaan tentang gaya hidup modern, ia menolak gagasan bahwa meninggalkan dunia kerja sepenuhnya adalah solusi. Ia berpendapat bahwa manusia pada dasarnya ingin merasa dibutuhkan dan memiliki kontribusi. Kehidupan tanpa tujuan atau tanpa usaha cenderung tidak memberikan kepuasan jangka panjang.

Ia juga membahas konsep pendapatan tanpa usaha, seperti warisan atau bantuan sosial. Ia menyatakan bahwa meskipun sistem perlindungan sosial penting, ketergantungan pada pendapatan tanpa usaha dapat mengurangi motivasi dan rasa harga diri. Manusia ingin merasa bahwa mereka mendapatkan sesuatu melalui usaha mereka sendiri, karena hal tersebut berkaitan dengan martabat.

Sebagai penutup, ia memberikan sebuah formula sederhana yang merangkum prinsip-prinsip kegembiraan. Ia menyebut bahwa banyak orang menjalani hidup dengan cara yang salah, yaitu menggunakan orang lain, mencintai harta, dan memuja diri sendiri. Formula yang benar adalah kebalikannya mencintai orang lain, menggunakan harta dengan rasa syukur, dan mengarahkan diri pada sesuatu yang lebih tinggi.