(Business Lounge Journal – Global News)
Pergantian kepemimpinan di The Walt Disney Company bukan sekadar rotasi jabatan. Ia adalah penanda perubahan arah, bahkan bisa disebut sebagai ujian besar bagi relevansi salah satu brand paling ikonik di dunia. Setelah hampir dua dekade membentuk ulang Disney menjadi raksasa hiburan global, Bob Iger akhirnya resmi menyerahkan tongkat estafet kepada Josh D’Amaro pada Maret 2026. Transisi ini terjadi di tengah lanskap industri yang jauh lebih kompleks dibanding saat Iger pertama kali memimpin—dari disrupsi digital, tekanan streaming, hingga perubahan perilaku konsumen global.
Bob Iger dikenal sebagai arsitek ekspansi Disney. Di bawah kepemimpinannya, Disney mengakuisisi Pixar, Marvel, Lucasfilm, hingga aset 21st Century Fox—membangun “mesin konten” yang mendominasi budaya pop global.
Namun, Josh D’Amaro datang dari latar belakang yang berbeda. Ia bukan kreator konten, melainkan operator pengalaman. Selama lebih dari dua dekade, kariernya ditempa di sektor taman hiburan—mulai dari Disneyland hingga memimpin divisi Disney Experiences, yang justru menjadi penyumbang pendapatan terbesar perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Di sinilah letak pergeseran menarik: dari “content empire” menuju “experience-driven company.”
Taruhan Besar: Menghidupkan Kembali Mesin Disney
Penunjukan D’Amaro bukan keputusan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, taman hiburan, resort, dan produk konsumen menjadi mesin keuntungan utama Disney, bahkan melampaui kontribusi bisnis media tradisional. Namun, tantangan terbesar justru ada di sisi lain bisnis:
- Penurunan TV kabel tradisional
- Persaingan sengit dengan platform seperti YouTube dan TikTok
- Profitabilitas streaming yang belum stabil
- “Franchise fatigue” dari brand besar seperti Marvel dan Star Wars
D’Amaro kini dituntut untuk melakukan sesuatu yang selama ini menjadi kelemahan Disney: menyatukan seluruh ekosistem bisnisnya menjadi satu “flywheel” yang lebih cepat dan terintegrasi—dari film, streaming, taman hiburan, hingga merchandise. Dengan kata lain, bukan hanya membuat konten hebat, tetapi memastikan setiap cerita hidup di berbagai platform secara simultan.
Kolaborasi Kunci: Kreativitas vs Operasional
Untuk menyeimbangkan pendekatan operasionalnya, Disney juga mengangkat Dana Walden sebagai President dan Chief Creative Officer—peran baru yang menegaskan pentingnya kreativitas di era baru ini. Struktur ini mencerminkan strategi ganda:
- D’Amaro → fokus pada eksekusi, monetisasi, dan pengalaman pelanggan
- Walden → menjaga kualitas storytelling dan pipeline konten
Ini adalah upaya Disney untuk menghindari kesalahan masa lalu, di mana ketidakseimbangan antara bisnis dan kreativitas sempat memicu gejolak internal.
Namun, tantangan D’Amaro tidak hanya datang dari dalam perusahaan. Ia memimpin Disney di era yang ditandai oleh:
- Disrupsi AI dalam industri kreatif
- Ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi pariwisata
- Perubahan drastis dalam cara generasi muda mengonsumsi hiburan
Bahkan, investor mulai mempertanyakan arah Disney setelah performa saham yang stagnan dan biaya besar dalam membangun layanan streaming. Artinya, keberhasilan di taman hiburan saja tidak cukup. D’Amaro harus membuktikan bahwa ia mampu membawa “magic” Disney ke dunia digital yang jauh lebih kompetitif.
Dari Magic ke Momentum
Jika Bob Iger membangun kerajaan, maka Josh D’Amaro harus memastikan kerajaan itu tetap relevan. Kepemimpinan barunya akan diuji oleh satu pertanyaan sederhana namun krusial: Apakah Disney masih mampu menjadi pusat budaya global di era fragmentasi digital?
Jawabannya tidak hanya bergantung pada film blockbuster atau taman hiburan yang megah, tetapi pada kemampuan Disney untuk menyatukan cerita, teknologi, dan pengalaman menjadi satu ekosistem yang hidup. Dan di situlah pertaruhan terbesar era baru Disney dimulai.

