Menyusuri Sungai Seine di Kota Paris

(Business Lounge Journal – Travel)

Kota Paris memiliki sungai indah yang telah menjadi identitas kota, bahkan bisa disebut sebagai jiwa dari Paris itu sendiri. Sungai Seine membelah wilayah Paris dan mengalir sepanjang 777 kilometer, dari wilayah Burgundy hingga ke Selat Inggris.

Airnya tampak tenang. Di siang hari, permukaannya memantulkan gedung-gedung indah dan megah yang berdiri di sepanjang tepiannya. Para warga kota menikmati suasana sungai ini dengan berjalan-jalan, berolahraga untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang di musim dingin, bahkan ada yang bekerja di depan laptopnya, menulis artikel maupun puisi di buku tulis, atau sekadar menikmati makan siang.

Memang, suasana di sekitar sungai terasa begitu nyaman, baik pada musim dingin maupun musim panas. Banyak seniman yang mendapatkan ilham dari tepian sungai ini. Salah satu contohnya adalah lukisan-lukisan karya Claude Monet yang menggambarkan keindahan pantulan cahaya di atas Sungai Seine. Kesan yang muncul terasa puitis sekaligus romantis.

Beberapa kapal pesiar komersial juga melintasi sungai ini. Para turis menikmati pengalaman berkesan berlayar di atas Sungai Seine—pengalaman yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Bukan hanya kapal pesiar wisata, tetapi juga restoran mewah yang berada di atas kapal.

Di tepian sungai juga terdapat beberapa kedai kopi. Masyarakat Prancis memang gemar menikmati kopi bersama roti khas mereka yang dinamakan croissant. Rasanya nikmat, meskipun harganya terasa agak mahal. Itulah sebabnya banyak orang membawa makanan sendiri dan menikmatinya di tepi Sungai Seine yang nyaman.

Ketika malam tiba, pantulan cahaya kota terlihat begitu temaram di atas permukaan air yang bergelombang tenang. Apalagi ketika melihat Menara Eiffel yang gemerlap dengan lampu yang berkelap-kelip seperti emas. Pantulannya di air Sungai Seine tampak sangat indah. Pemandangan inilah yang membuat Paris dikenal sebagai kota romantis.

Menurut sejarah kuno Prancis, suku Parisii mendirikan pemukiman di wilayah yang kini menjadi kota Paris. Pada abad ke-3 SM, pemukiman tersebut berada di sebuah pulau di tengah sungai yang dinamakan Île de la Cité. Lokasi ini sangat strategis, baik dari segi pertahanan maupun perdagangan.

Pada abad pertengahan, Sungai Seine menjadi jalur transportasi air yang sangat penting. Melalui jalur ini, berbagai hasil bumi Prancis diangkut, seperti gandum, anggur, dan kayu. Perdagangan Prancis pun berkembang pesat pada masa tersebut. Namun pada abad ke-9, bangsa Viking pernah menyerang wilayah Prancis melalui jalur Sungai Seine.

Seiring perkembangan zaman, berbagai jembatan dibangun di atas Sungai Seine. Salah satu jembatan tertua yang masih berdiri hingga hari ini adalah Pont Neuf, yang selesai dibangun pada tahun 1607.

Pada masa Revolusi Industri serta transformasi kota yang dipimpin oleh Baron Haussmann pada abad ke-19, berbagai pembangunan modern dilakukan untuk memperkuat dan menata kawasan Sungai Seine. Kanal dan dermaga dibangun, sementara tepian sungai diperkuat dengan tanggul tinggi untuk mencegah banjir.

Untuk keperluan navigasi, dilakukan pula pengerukan sungai agar kapal-kapal uap berukuran besar dapat melintasi sungai di kota Paris dan menghubungkannya dengan Pelabuhan Le Havre di Samudra Atlantik.

Yang tak kalah penting adalah penataan Sungai Seine sebagai elemen estetika kota Paris. Di bawah garapan Baron Haussmann, tepian sungai dirapikan dengan baik dan dijadikan ruang publik yang nyaman bagi pejalan kaki—tradisi yang masih dinikmati hingga hari ini.

Pada tahun 1991, kawasan tepian Sungai Seine (Rives de la Seine) ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini juga mencakup sejumlah bangunan bersejarah, seperti Menara Eiffel, Museum Louvre, dan Museum d’Orsay.

Untuk menjaga keindahan Sungai Seine dari polusi, pemerintah kota Paris juga melakukan investasi besar-besaran untuk membersihkan air sungai. Upaya ini bahkan bertujuan agar Sungai Seine dapat digunakan sebagai lokasi kompetisi renang internasional di masa depan.