Benarkah Minyak biji-bijian Memicu Obesitas?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Dalam beberapa bulan terakhir, media sosial diramaikan oleh klaim yang menyebut minyak biji-bijian—seperti minyak kedelai, jagung, dan bunga matahari—sebagai biang keladi obesitas. Narasinya terdengar dramatis: minyak ini disebut mampu “memprogram ulang” tubuh, mengacaukan sinyal lapar, bahkan membuat seseorang tetap gemuk meski makan sangat sedikit. Benarkah seseram itu?

Untuk memahami isu ini, kita perlu melihat apa yang sebenarnya diteliti oleh para ilmuwan. Sebagian klaim tentang “reprogram DNA” merujuk pada bidang epigenetik, yaitu studi tentang bagaimana pola makan dan lingkungan dapat memengaruhi cara gen bekerja tanpa mengubah struktur DNA itu sendiri. Beberapa penelitian pada hewan, termasuk tikus yang diberi diet tinggi asam linoleat (omega-6 yang dominan dalam minyak nabati), menunjukkan adanya perubahan pada gen di hipotalamus—bagian otak yang mengatur rasa lapar—serta pada jaringan lemak.

Penelitian Journal of Lipid Research (University of California, Riverside, 2025) meneliti bagaimana konsumsi minyak kedelai (yang tinggi linoleic acid) memengaruhi metabolisme dan kenaikan berat badan pada tikus melalui metabolit yang disebut oxylipins. Dalam studi tersebut, diet tinggi minyak kedelai dikaitkan dengan peningkatan penyimpanan lemak dan gangguan sinyal hormon seperti leptin, yang berfungsi memberi tahu otak bahwa tubuh sudah kenyang. Artinya, tubuh bisa menjadi lebih efisien menyimpan energi dan lebih “bingung” dalam membaca rasa kenyang. Namun, penting untuk diingat: sebagian besar temuan ini berasal dari penelitian pada hewan dengan pola makan ekstrem, bukan pada manusia dengan konsumsi normal sehari-hari.

Lalu bagaimana dengan klaim paling sensasional—bahwa seseorang bisa makan hanya 500 kalori per hari dan tetap bertambah berat badan karena minyak biji-bijian? Secara fisiologis, ini tidak masuk akal. Tubuh manusia bekerja berdasarkan prinsip keseimbangan energi. Jika asupan kalori jauh di bawah kebutuhan dasar (Basal Metabolic Rate/BMR), berat badan pasti turun. Mengonsumsi 500 kalori sehari pada orang dewasa justru akan menyebabkan penurunan berat badan drastis, bukan kenaikan.

Sering kali, grafik yang beredar menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi minyak nabati berjalan seiring dengan naiknya angka obesitas. Namun korelasi tidak sama dengan sebab-akibat. Pada periode yang sama, konsumsi gula tambahan, makanan ultra-proses, serta gaya hidup kurang gerak juga meningkat tajam. Faktor-faktor inilah yang secara konsisten terbukti berkontribusi pada obesitas.

Minyak biji-bijian sendiri mengandung asam lemak esensial yang dibutuhkan tubuh. Masalahnya bukan semata pada minyaknya, melainkan pada konteks penggunaannya. Minyak ini banyak ditemukan dalam makanan ultra-proses—seperti gorengan, camilan kemasan, dan makanan cepat saji—yang tinggi kalori namun rendah serat dan nutrisi. Kombinasi inilah yang lebih berperan dalam penambahan berat badan.

Kesimpulannya, komposisi lemak dalam diet memang dapat memengaruhi metabolisme dan regulasi hormon. Namun menyalahkan satu jenis minyak sebagai penyebab utama obesitas adalah penyederhanaan berlebihan. Pendekatan yang lebih bijak adalah fokus pada pola makan berbasis makanan utuh, membatasi makanan olahan, dan menjaga keseimbangan energi. Tubuh kita jauh lebih kompleks daripada sekadar satu bahan makanan.